Disebut mistis dan angker, sekelompok warga masyarakat di kampung Pa’batteang, Desa Lalang Bata sempat memberikan peringatan keras dan mencegah tim expedisi sejarah dan budaya Kamponesia untuk membatalkan rencana kunjungan penelusuran ke kompleks makam Opu Lohe, di kampung Sappadang, Desa Buki Timur.

Sinyal dan larangan tersebut sama sekali tak mematahkan nyali dan semangat tim expedisi untuk tetap melanjutkan perjalanan penelusuran ke kompleks makam Opu Lohe yang banyak dikeramatkan oleh warga. Salah seorang warga di kampung Pa’batteang bahkan sempat mengingatkan personil tim untuk tidak macam-macam serta mengambil dan membawa pulang benda apapun dari kompleks makam tersebut.

Peringatan senada juga sempat dilontarkan Udding, salah seorang warga masyarakat kampung Pojo, sesaat setelah tim akan bergerak meninggalkan kampung Pojo menuju kampung Sappadang.

Makam Opu Lohe adalah kuburan keramat. Tidak sembarang orang yang bisa datang ke sana. Apalagi orang yang nyalinya setengah-setengah dan penakut. Kalau nggak mau dibisin, sebaiknya, batalkan rencana expedisi ke sana, tegas Udding dengan raut wajah khawatir.

Kendati sempat beberapa kali mendapat peringatan keras dari sekelompok warga masyarakat di Kecamatan Buki untuk membatalkan rencana kunjungan expedisi ke kompleks makam Opu Lohe.

Advertisement

Tim expedisi wisata sejarah dan budaya yang tergabung dalam Komunitas Pesona Indonesia, akhirnya menutup seluruh rangkaian kegiatan petualangan di lokasi situs makam Opu Lohe yang terletak di kampung Sappadang, Desa Buki Timur, Kecamatan Buki, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.

Tim expedisi tiba di lokasi makam Opu Lohe, setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu jam dengan melintasi dua belas kampung diawali dari Kampung Pa’batteang, Silolo, Pojo’ Tonggona, Gassa, Bonto Buki, Baje, Bontona, Talang, dan Lembang Sappadang.

Berbeda dengan expedisi penelusuran sebelumnya, di lokasi ini tim mendapat banyak rangkuman catatan tentang riwayat si empunya makam yang dikeramatkan oleh sejumlah warga kampung di wilayah administratif Kecamatan Buki.

Makam ini bahkan tak jarang didatangi oleh warga yang datang dengan membawa sesajen dengan maksud ingin mencari dan memperoleh ilmu berupa kekuatan gaib dari si pemilik makam bernama Opu Lohe tersebut. Hal tersebut dibuktikan langsung oleh tim expedisi yang masih mendapati keberadaan sebuah rantang makanan di sekitar area makam.

Tidak jauh dari posisi rantang tersebut, ditemukan bebatuan sungai yang ditumpuk rapi menyerupai sesajen. Konon batu-batu ini sudah beberapa kali dibuang dan dilemparkan oleh warga yang bermukim di kampung Sampaddang.

Namun ironis, karena hanya berselang sehari setelah dibuang, batu-batu tersebut kembali ke tempatnya semula, dan membentuk tumpukan mirip sesajen. Tokoh pergerakan Muhammadiyah masa lalu, Almarhum Tallassi adalah satu dari sekian banyak orang yang pernah menyingkirkan dan membuang batu-batu tersebut ke dalam jurang dengan maksud untuk memberangus kemusrikan sekalian menghapus kebiasaan bertapa yang biasa dilakukan oleh segelintir pendatang dari luar kampung Sappadang.

Tapi aneh, karena batu-batu yang telah dilemparkan ke jurang tetap saja kembali ke tempatnya, seakan tak rela untuk dibuang. Peristiwa aneh terakhir terjadi, saat dilaksanakannya perintisan jalan menuju ke arah kampung Talaia.

Aroma mistik muncul, ketika hampir mur serta baut alat berat tiba-tiba saja tanggal dan tercabut sendiri. Parahnya lagi, karena kejadian aneh tersebut berlangsung pada siang hari, ujar salah seorang warga kampung yang enggan disebut namanya.

Sejak kejadian itu, pekerjaan perintisan jalan menuju kampung Talaia, tak lagi pernah dilanjutkan sampai sekarang. Mahluk halus yang bergentayangan dan menjadi penunggu lokasi, seakan memberi sinyal kepada operator escavator dan stong alas untuk tidak mengusik ketenangan serta tempat tinggal mereka.

Kesan angker dan keramat diaminkan Maridaeng Imam Sappadang yang memberikan sinyal kepada rombongan tim untuk memasang penangkal berupa bacaan do’a dan salam sebelum memasuki area makam Opu Lohe.

Pengunjung yang akan masuk ke area makam Opu Lohe harus melafazdkan baca-baca sebagai penangkal agar terhindar dari pengaruh roh jahat dan tidak jatuh sakit setelah meninggalkan lokasi makam.

Wanita bertongkat berusia rentah tersebut, selain Opu Lohe di lokasi ini terdapat pula makam seorang mantan imam Masjid bernama Imam Badollahi. Opu Lohe sendiri, konon memiliki enam orang saudara.

Makam saudaranya tersebar di sejumlah kampung di Kabupaten Kepulauan Selayar, salah satunya di kampung Talaia, Desa Buki Timur, Kecamatan Buki. Makam lainnya terletak di perbatasan kampung Bontonumpa dan Baruia, Desa Buki, serta kampung Appabatu, Desa Parak, Kecamatan Bontomanai.

Dua makam saudaranya yang terletak di perbatasan kampung Bontonumpa dan Baruia diyakini oleh segelintir masyarakat sebagai makam keramat. Makam yang dikenal dengan sebutan makam Opu Ri Buki itu, bahkan tak jarang dijadikan sebagai tempat rekreasi dan makan-makan oleh sekelompok warga yang memiliki nazar dan berharap agar keinginannya dapat terkabul melalui perantara si empunya makam.

Warga yang nazarnya yang telah terkabul, tak sungkan-sungkan untuk datang kembali dan menyembelih kambing di dalam area makam sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur.

Meninggalkan lokasi makam Opu Lohe dan Imam Badollahi, tim expedisi melanjutkan perjalanan ke lokasi situs makam kuno lainnya yang tersebar di kampung Sappadang, Bonto Buki, Batu Pakere, dan Dg. Lempangang, kampung Pojo’ Desa Lalang Bata, Kecamatan Buki. (Fadly Syarif)