Malam ini tidak seperti malam sebelumnya yang pernah kita lewati. Kamu melepaskan jaket kekakuan yang selalu melekat di dirimu. Malam ini kau menceritakan banyak hal tentang dirimu dan pertanyaan tentang diriku. Dalam sekian waktu kebersamaan kita, baru malam ini kita mengobrol tentang kita, tentang aku dan dirimu. Walaupun, terkadang kau selipkan cerita tentang temanmu dan juga temanku.

Malam ini, waktu dimana aku melihat kamu sebagai laki-laki yang dewasa, melihat masa depan yang mungkin juga sedang aku pikirkan. Aku tahu kemana arah obrolan kita malam ini. Kau memulai dengan menceritakan kisah temanmu. Kata kamu, temanmu akhirnya akan menikah dengan wanita yang baru dikenalnya sebulan lalu dan meninggalkan pacarnya yang telah lama menemaninya.

“Itu namanya JODOH” jawabku singkat sambil tersenyum.

“Jadi,perlukah menjadi pacar jika begitu?” Tanyamu kembali.

“Gak!” Jawabku singkat, sambil melanjutkan mengunyah makananku.

Advertisement

Aku ingat sekali bagaimana ekspresimu saat itu, tersenyum simpul, entah tanda setuju atau sebaliknya. Namun, saat itu, aku tidak berpikir makna obrolan kita malam ini. Tapi, hari ini aku mencoba mengingat apa yang telah kita bicarakan malam ini, selepas kita berpisah dari tempat yang membuatmu nyaman untuk bercerita semua hal. Dan ini penjelasanku semestinya.

Dear kamu yang telah menemaniku malam ini,

Ingatan tentang kamu, tentang kapan kita bertemu dan berpisah hingga bertemu kembali hari ini tersimpan rapi dalam memoriku. Tidak mudah bagiku memberi ruang rasa dan pikiran untuk laki-laki yang baru ku kenal diperjalanan singkat. Jejak langkah kita di Prau, mungkin sudah terhapus oleh jejak kaki lain, tapi kenangan tentang kamu terbenam dalam ruang kosong hatiku.

Malam ini, arus pertanyaan tentang kamu terus berlawanan dengan logikaku. Aku tahu, kamu bukan laki-laki yang mudah membahas hal pribadi, seperti malam ini. Tapi, aku baru saja menyadarinya bahwa kamu berbeda dengan malam sebelumnya, ada hal yang ingin kau sampaikan, tapi aku jawab tanpa penjelasan.

Buatku status pacar bukan hal yang dibutuhkan saat ini. Seperti cerita temanmu, jika memang JODOH tidak perlu waktu lama untuk mengenal dan meyakinkan diri untuk status yang lebih pasti dan jelas. Aku tidak ingin terjebak dalam sebuah status yang nantinya, belum tentu kamu adalah yang berJODOH denganku. Aku tidak ingin menyakitkan hati siapapun, aku dan dirimu, jika kenyataannya tidak seperti yang diinginkan. Biarkan hubungan kita terbingkai dalam persahabatan, bersama dengan sahabatku dan sahabatmu yang sekarang berada dalam lingkaran yang sama. Semoga Tuhan menunjukkan caraNya untuk kita.