Merantau adalah salah satu dari ribuan cara untuk kita mengerti dan memahami susah senangnya kehidupan ini. 18 tahun aku berdiam diri di kota kecilku yang menyimpan banyak kisah, banyak cerita dan kenangan, hingga akhirnya aku memilih pergi meninggalkan kampung halaman untuk beberapa saat, meninggalkan tanah kelahiranku, meninggalkan rumah sederhana yang hingga saat ini selalu kurindukan.

Aku pergi untuk melanjutkan studi di tanah Samawa ini. Papa dan Mama ada rindu di sini. Rindu yang hingga saat ini aku tidak mengerti, rindu yang selalu menghantui pikiran di kala sendiri. Aku di sini merindukan belaian tangan kalian, aku merindukan panggilan sayang kalian yang selalu mengiang-ngiang dalam telingaku. Di kala Sedihku hanya kepada Tuhan aku mengadu karena hingga saat ini aku belum bisa percaya mereka sepenuhnya.

Papa dan Mama, banyak kisah yang ingin aku ceritakan, terasa sesak memendam sendiri. Banyak cerita yang sekarang aku sedang berusaha menguncinya dalam ingatanku yang sangat terbatas ini. Saat rasa putus asa selalu hadir mengganggu pikiran yang lemah ini dan seakan berbisik "Berhentilah". Tapi saat itu pula hati ini berteriak "teruslah berjalan ke depan dan sesekalilah melihat ke belakang. Lihatlah dua sosok malaikat tak bersayap yang sedang menanti, berusaha dan berjuang untukmu".

Aku yakin teriakkan hatiku adalah doa kalian yang selama ini menjadi penguatku saat aku hampir terpuruk dalam kerinduan ini. Kerinduan akan suasana rumah kita yang menyimpan ribuan kebahagiaan. Aku ingin pulang, tapi nanti saat semua telah aku selesaikan. Aku tahu ini tidaklah, mudah akan tetapi aku harus benar-benar kuat menjalani dan menyelesaikan ini secepatnya, hingga pada akhirnya aku akan melihat senyuman dan airmata haru itu. Dan kalian dengan bangga mengucapkan "itu anak gadis kecil kami".