Semua yang bernyawa pasti kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Ada yang cepat dan ada yang lebih lambat, hanya menunggu, menunggu waktu.

Kehilangan sosok Ibu di usia yang bahkan belum genap 20 tahun, bukan sesuatu yang mudah untuk diterima dan dijalani. Iya, banyak yang sudah kehilangan Ibu lebih cepat dari yang ku alami. Bahkan sebagian orang kehilangan Ibunya tepat setelah mereka dilahirkan. Dan adikku satu-satunya hanya diberi kesempatan 13 tahun 10 bulan. Tetapi tetap saja tidak dapat kupungkiri, bahwa rasa sakit kehilangan Ibu(ku) lebih sakit dari kehilangan apapun.

Hari itu adalah seminggu sebelum UTS semester 2 ku di mulai. Lebih tepatnya Minggu, 23 Maret 2014. Dini hari, ada perasaan aneh yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Seolah Dia memberi isyarat bahwa itu adalah saat-saat terakhir Mamaku di dunia. Jantungku berdetak tidak normal, cepat dan semakin cepat. Bahkan aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Tapi taukah kamu, aku bahkan tidak menyadari bahwa saat itu juga ternyata Mamaku di rumah sedang menghela napas terakhirnya.

Dan aku tetap memutuskan untuk melanjutkan tidurku. Oh iya, saat itu dan sekarang aku menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Bogor. Aku seorang anak rantau dari kota beras di Sumatera Barat, yaitu Solok.

Advertisement

Seperti biasa aku tidak akan terbangun hanya karena alarm atau nada dering di handphone-ku. Aku bangun dan melihat 25 panggilan tidak terjawab, kembali ada rasa aneh yang aku bahkan tidak mengerti ketika satu dari panggilan tidak terjawab itu adalah dari Mama dan sisanya dari nomor baru yang aku tidak tau itu siapa.

Tidak lama setelah itu kembali ada panggilan dari nomor yang sama dan itu suami sepupu-ku yang tinggal di Jakarta. Aku disuruh pulang ke asrama mahasiswa karena semalam aku tidur di kost kakak tingkat yang berasal dari daerah yang sama denganku. Aku langsung bergegas mengemasi barang-barangku dan menuju asrama. Dari jauh aku bisa melihat dengan jelas ada tante; adik kandung mama dan suaminya. Jelas sekali mereka terlihat kusut, mata mereka sembab seperti habis menangis. Kebingunganku semakin menjadi-jadi ketika aku diajak pulang tanteku ke Solok

“Nak, temenin tante berobat ya ke sekalian kamu pulang”.

Aku senang, karena aku memang ingin pulang bertemu keluargaku. Tapi aku sempat menolak dengan alasan seminggu lagi UTS. Dan mereka tetap bersikeras mengajakku pulang

“3 hari doang, entar balik lagi, lagian Mama kamu juga udah ngizinin”.

Ada apa ini tanyaku dalam hati. Ada yang tidak wajar dari sikap mereka, cara mereka bicara, dan alasan-alasan yang bagiku terlalu dibuat-buat. Semua keanehan dan ketidakwajaran itu hanya kupertanyakan di hati saja. Tidak ada satupun kalimat yang menunjukkan bahwa aku tidak ingin pulang dan bertanya-tanya.

Aku langsung ke kamarku mengambil beberapa barang yang aku rasa perlu. Bahkan aku sempat minta tolong teman sekelasku untuk TA (titip absen) kuliah. Aku masuk mobil dan kulihat barang bawaan tanteku sedikit sekali dan kamu tau tas itu bahkan tidak layak untuk kau bawa, tas itu rusak dan isinya terlihat berantakan. Aku tetap diam dengan segala keanehan yang semakin membuatku bingung. Mobil itu melaju cepat ke Bandara Soekarno-Hatta.

Hapeku berdering dan kujawab panggilan dari teman SMA-ku itu. Aku semakin bingung ketika dia bertanya aku di mana dengan suara yang terisak-isak seperti menahan tangis. “Di Bogor” jawabku. “Oh, belum denger apa-apa? Papa ga ngasih tau?” timpalnya. Belum sempat aku menjawab, temanku mengakhiri panggilannya.

Aplikasi BBM di hapeku memberi tau semuanya tepat setelah aku membaca status salah satu temanku “Semoga Ibu ditempatkan di surga-Nya” dan kamu tau di sana tertulis namaku, nama kakak-kakakku dan nama adikku. Ibu siapa yang meninggal? Butuh waktu beberapa detik untukku membaca kalimat itu berulang-ulang. Mamaku kah? Pasti bukan jawabku dalam hati. Aku baca lagi kalimat itu dan memang benar, itu untuk Mamaku.

Aku bertanya pada tanteku “Mama kenapa?” dan mereka langsung memeluk dan memegang tanganku. Aku bahkan tidak bisa merasakan jari-jari di tanganku. Dingin dan aku menggigil ketika tau bahwa Mamaku sudah tiada. Padahal kemarin sore aku masih berbincang-bincang dengannya di telepon. Tidak ada penyakit serius yang dideritanya dan Mamaku masih cukup muda ketika dipanggil kembali oleh Sang Pencipta.

“Kenapa harus mamaku dari sekian banyak orang?” Itu yang berjuta-juta kali hatiku katakan.

Hari itu, dunia terasa berhenti berputar, langit berasa runtuh tepat di atas kepalaku, jantungku seperti berhenti memompakan darah ke tubuhku, dan untuk menarik satu helaan napas saja kurasa aku tak mampu. Bahkan tiket penerbangan ke Padangpun tidak berpihak padaku. Tiket paling pagi jam 10.00 dan hanya untuk satu orang. Jelas sekali om dan tanteku tidak mengizinkanku pulang sendiri.

Hal yang sangat aku takutkan itu benar-benar terjadi. Dan aku tidak berada di samping Mamaku.

Papaku memutuskan untuk menyelesaikan penyelanggaraan jenazah Mamaku dengan segera ketika beliau diberitau bahwa aku dapat tiket penerbangan jam 15.00. Iya, memang harus disegerakan dalam ajaran agamaku. Tetapi tetap saja ada dua perasaan yang berbeda yang bergejolak di hatiku.

Aku harus mengikhlaskan Mamaku. Aku harus melepaskan kepergian Mamaku dengan doa dan hati yang lapang. Seperti itu kalimat Papaku ketika aku memaksa ingin bicara dengannya di telepon dan aku diberi tau bahwa prosesi pemakaman akan tetap dilanjutkan tanpa menungguku. Satu, aku harus ikhlas menerima apapun yang terjadi karena aku juga tidak sanggup membiarkan tubuh Mamaku yang mungkin sudah sangat dingin itu menungguku. Dua, aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku tidak dapat melihat Mamaku untuk terakhir kalinya.

Sebesar apa kesalahanku ya Allah hingga Kau tidak mengizinkanku bertemu Mamaku untuk terakhir kalinya. Tapi pada akhirnya proses pemakaman itu tetap dilanjutkan tanpa aku, anak perempuan paling kecil yang dulunya menceritakan segalanya ke tubuh yang akan ditimbun dengan tanah itu.

Aku sampai di rumah yang di depannya terdapat karangan bunga yang berderet-deret menyatakan kalimat belasungkawa atas meninggalnya Mamaku. Wahai bukankah aku yang paling berbelasungkawa dari semua orang yang ada di sini? Hatiku sakit sekali melihat karangan-karangan bunga itu. Tapi ada yang lebih menyakitkan dari itu, aku masuk ke rumahku yang dipenuhi oleh orang-orang yang datang melayat dan kau tau, bukan mereka yang ingin kulihat.

Aku ingin bertemu Mamaku, itu saja. Aku berteriak sekencang yang ku bisa memanggil “Ma, Mama di mana? Mama, aku pulang”. Tapi semuanya sia-sia, Mamaku sudah punya rumah baru. Papa, dua kakakku, dan adikku menangis. Mereka tidak berhenti memelukku.

Sempat terpikir untuk mengakhiri hidup agar bisa bertemu lagi denganmu Ma, tapi beruntungnya aku bukan orang yang terlalu nekat untuk melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Aku membutuhkanmu lebih dari apapun, tapi tetap saja masih ada seorang lelaki (Papa) yang harus kubahagiakan sama seperti keinginanku untuk membahagiakanmu. Masih ada kakak sulung dan kakak keduaku yang akan menjaga dan menyamangatiku dan bahkan ada seorang adik laki-laki yang harus ku jaga dan ku lindungi, seperti apa yang Mama lakukan dulu.

Aku ikhlas ketika Allah mengambilmu, aku ikhlas insyaAllah. Namun tetap saja masih tersimpan rindu yang tak terhitung banyaknya, masih tersimpan berjuta keinginan yang ingin kulakukan bersamamu, bercerita denganmu, memelukmu, mendengar nasihatmu.

Aku rindu semua tentangmu. Apapun yang aku lakukan, aku selalu merindukanmu, rindu sekali. Semoga Mama bahagia, semoga kelak kita berkumpul lagi di surga-Nya.