Sudah sejauh mana saya melangkah? Tidak ke mana-mana. Faktanya seperti itu. Saat air mata bukan obat ampuh untuh menyembuhkan segalanya, aku harus apa? Bukan dunia yang tidak adil. Bukan pula takdir yang timpang dan memihak. Hanya saja hal ini tentang siapa yang kuat, maka ia akan dihadapkan pada alur hidup seperti ini.

Sejak lelaki yang menikahi mama memilih untuk memisahkan diri, aku sudah berjanji. Tidak ada lagi tangis sia-sia. Satu yang kuminta pada pencipta. Hentikan sakit hati mamaku!

Terkabul! Kami menikmati kehidupan bersama. Sebut saja seorang wanita paruh baya perkasa yang berjuang menyukseskan dua anak gadis dan satu pejantannya. Tetapi di balik semuanya, penyakit fisik malah menemani mama. Di saat dua tetua di atasku sudah berkeluarga dan pergi jauh, aku menjadi semakin khawatir pada kapasitasku menjaga mama seorang diri.

***

Bintang di langit desa ini tampak menatap sinis pada anak tak tahu diri. Tuntutan praktik kerja lapangan kampus serasa sangat berat. Angin yang menusuk di malam ini secara jelas membawa kabar tentang kesepian mama di sana. Di rumah kotak kecil yang memiliki kenangan masa lalu yang suram.

Advertisement

Kebiasaannya menikmati kegelapan di teras rumah menjadi sangat kurindukan. Kali ini kursi di sebelahnya kupastikan kosong. Beruntungnya wanita berambut pendek itu, setangguh ranting yang ditinggalkan daun. Hanya diam, tidak memberontak dan akan terus tumbuh. Walau bagiku, memisahkan diri dengannya seperti melepas tali yang sudah kusimpul mati. Sulit! Namun berselfie dengan toga tampaknya juga cukup berat.

Suara parau di teleponnya malam ini masih sama seperti beberapa hari lalu.

“Mama tidak apa-apa…” Kalimat sakral yang akan ia ucapkan saat nada suaraku terdengar cemas.

“Obatnya ada. Ini sudah mama minum. Kerjain tugas yang rajin di sana!” Dialog cukup panjang adalah kebiasaanku menenangkan diri saat jauh dari wanita kebanggaanku itu.

Aku tertidur di antara serakan kertas tugas. Bermimpi sangat dalam hingga akhirnya deringan hp mengangkat kelopak mataku dari tempat istirahatnya. Tidak sering mama menelpon pada pukul dua subuh ke atas. Tetapi sudah sering bagiku menikmati degupan jantung tiba-tiba seperti ini. Aku menikmati suara telepon sepihak malam itu. Belum jatuh hujan di pelupuk mata sampai tanteku terbangun dari tidurnya dan segera terbang mendapati mama yang kupastikan tergeletak tak berdaya di dalam rumah. Subuh itu aku berpikir benar-benar ingin kursus ilmu menghilang.

“Secangkir air hangat sudah diminumnya. Ia terbaring lemas. Sejam kemudian sudah tertidur di tempat tidurnya.” Setidaknya laporan itu membuat jam empat subuh kembali disebut waktu tidur. Sudah terjadi beberapa kali, dan isi doaku hanya, “Pulangkan aku secepatnya dari tempat ini!” Menikmati tawa dari tingkah gila penghuni posko hanya satu-satunya pengalih duniaku disituasi dilematis ini. Walau serasa ingin mati setiap kali mengingat penyakit jantungnya, aku hanya tidak ingin mengeluh, mama!

Mentari hanya mengijinkanku tertidur sebentar hingga akhirnya telepon berdering lagi. Masih tidak ada suara dari balik telepon. Oh… embun pagi sekali saja tenangkan hatiku, kumohon.

“Mama,,, mama,,, mama kenapa ma?” Tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Izinkan kuungkapkan sakitnya kehidupan lewat beberapa butir air mata. Ada yang menyesakkan dari kejadian ini.

“Mamamu udah ditanganin di IGD.”

“Mamamu belum ngasih respon! Ada penurunan kesadaran”

Sesuatu yang mengesalkan adalah mengingat kata-kata tidak apa-apa sementara kematian adalah hal terburuk yang setiap malam tidak ingin kupikirkan. Aku takut. Semua pelukan menghampiri untuk menguatkan, tetapi bagaimanapun aku takut memikirkan sedikit saja tentang mama sekarang.

Beberapa menit berlalu, tetapi belum ada bekas kering di pipiku.

“Mamamu lumpuh sebelah kiri, tampaknya serangan stroke.”

Dan hari-hari menjadi semakin berat. Pulang balik desa PKL dan rumah sakit, akhhh mama kuatkan aku! Ketika memikirkan tawa manusia lain dengan keluarga lengkap, aku iri. Tetapi dari semua hal ini, aku bersyukur memiliki mama. Setiap detik jika ia ingin, aku akan ada di sampingnya. Bagaimanapun masalah hanyalah jembatan menuju kebahagiaan.

Aku mengantar mama ke rumah sakit untuk kesekian kalinya. Beberapa kali sudah kudengar terapi ini tidak memberi pengaruh apa-apa, sampai batok kepala ibu disentuh alat bedah. Jaminan materi, jaminan pelayanan kesehatan, jaminan waktu bukan masalah bagiku. Sepanjang malam yang kupikirkan bagaimana ibu setelah pengangkatan tumor itu? Seandainya bisa berbagi, aku saja yang stroke. Memiliki satu penyakit berat tidak cukupkah?

***

Sejauh mana saya melangkah? Aku hanya berjalan di sekeliling mama. Tidak mengeluh. Hanya menikmati indahnya malam berdua dengannya di malam Minggu. Menyuapinya bubur. Memberinya lelucon agar setidaknya mengeluarkan satu suara saja. Dan yang paling manis, menurunkan kepalanya secara perlahan ke bantal dan tertidur nyaman di sebelahnya.

Based on true story : Novanny T . P