Bulan suci Ramadhan dan Lebaran pun sudah berlalu, beberapa waktu lalu produsen brand alat-alat pendakian berlomba-lomba memberikan potongan harga untuk menarik minat orang-orang yang menggeluti hobi mendaki gunung dan pegiat alam bebas untuk membeli produk mereka. Waktu libur hari raya yang lumayan panjang biasanya di habiskan orang pada umumnya untuk pulang ke kampung halaman guna menghabiskan waktu bersama keluarga, mengunjungi lokasi-lokasi wisata bersama sanak saudara.

Namun tidak untuk para pendaki, bagi mereka ini adalah saat yang tepat untuk menggapai puncak-puncak yang selama ini mereka idamkan, khususnya bagi pendaki yang bekerja, jadi mereka tidak mempunyai waktu untuk mendaki selain pada hari libur, kegiatan mendaki sendiri membutuhkan waktu yang lumayan panjang menyesuaikan ketinggian dan panjang jalur pendakian yang akan di lalui.

Saya sendiri dan tim memutuskan untuk mendaki puncak tertinggi di pulau jawa tahun ini, yaitu gunung semeru yang mempunyai tinggi 3676 mdpl. Pada awalnya saya berfikir momen libur lebaran seperti ini gunung tidak akan seramai libur-libur panjang di hari biasa, karena tentunya banyak orang yang lebih memilih bersama keluarga dari pada bersusah-susah mendaki gunung. Namun hal itu terbantahkan ketika saya sudah berada di desa ranupani lokasi perizinan pendakian gunung semeru. Padahal hari itu masih hari kedua setelah lebaran tepatnya tanggal 27 Juni 2017, basecamp ranupani sepagi itu sudah sangat ramai para pendaki, bagi saya hal ini cukup mencengangkan mengingat pendapat saya beberapa hari lalu bahwa semeru tak akan seramai ini.

Disana pikiran saya sudah aneh-aneh, saya sedikit kecewa bila nantinya ranukumbolo akan di penuhi tenda-tenda pendaki, macet sepanjang trek pendakian, dan karena saya sendiri mendaki sebenarnya mencari kesunyian dan ketenangan di alam  raya. Namun kekhawatiran saya masih tertolong oleh kebijakan pengelola TNBTS (taman nasional bromo tengger semeru) yang membatasi kuota pendakian yaitu 500 orang setiap harinya, sehingga kondisi semeru masih tetap nyaman, saya pribadi sangat berterima kasih atas kebijakan ini. Karena memang benar dengan di batasinya kuota seperti ini kenyamanan alam masih dapat saya rasakan, namun ketika hari berikutnya ketika saya melakukan perjalanan turun gunung, saya sempat berbincang dengan beberapa pendaki asal Jakarta dan Bandung yang baru memulai pendakianya hari itu, mereka bercerita bahwa pukul 9 pagi pendaftaran pendakian gunung semeru sudah di tutup karena sudah mencapai batas kuota, mereka juga menambahkan sempat sedikit ada perdebatan dan suasana panas di perizinan ranupani.

Saya juga sedikit kasihan ketika mendengar ada beberapa rombongan yang harus kembali ke Jakarta dan Bandung dan beberapa daerah lainya yang harus kembali ke kota asal mereka karena tiket kereta atau travel mereka untuk kembali adalah hari ini, jadi artinya mereka sudah menunggu beberapa malam di ranupani dan tetap tidak mendapatkan kuota pendakian. Saya sendiri bisa merasakan kekecewaan mereka.

Advertisement

Saya sepakat dengan pendapat yang menyatakan bahwa meledaknya hobi mendaki gunung terjadi setelah di tayangkanya film 5cm yang mengambil latar keindahan gunung semeru dan ranukumbolonya. Namun saya beropini postingan pendaki di media sosial seperti Instagram, Facebook dan Twitter, juga sangat berpengaruh dalam menarik minat orang-orang lainya untuk mulai mendaki gunung. Jadi menurut saya pribadi fenomena ini seperti uang koin yang memiliki dua sisi.

Satu sisi berisikan dampak negatif dari maraknya pendakian setelah film tadi, seperti sampah yang semakin banyak di tinggalkan di pegunungan, rusaknya kondisi alam sepanjang jalan yang di lalui pendaki, sampai hilangnya budaya-budaya yang di junjung para pendaki yaitu keramahan,saling bertegur sapa dan berbagi. Dan sisi satunya beberapa dampak positif yang terjadi setelah banyak nya pendaki seperti, makin tersebar bahwa Indonesia ini indah, menjadi lahan rezeki tersendiri bagi porter dan orang-orang di sekitar gunung, sampai untuk beberapa orang yang berubah cara berfikirnya, caranya melihat pohon dan alam raya, keindahan dan kenyamanan yang di berikan alam mampu merubah seseorang menjadi lebih baik.

Dan menurut saya semua kembali pada diri masing-masing, kita yang sudah sadar sudah seharusnya menyadarkan orang-orang yang belum sadar kawasan, kita harus terus mengedukasi apa itu kode etik pendaki jangan tinggalkan apapun selain jejak, jangan mengambil apapun selain foto, dan jangan membunuh apapun selain waktu.

Kita harus menyelaraskan diri dengan alam, nafas alam adalah nafas kita, gerakan alam adalah gerakan kita, jangan di balik menjadi nafas kita adalah nafas alam dan gerakan kita adalah gerak alam, karena akan berdampak tidak karuan. Kita yang sudah sadar kawasan harus mengedukasi tentang prosedur pendakian sampai peraturan-peraturan.

Sebenarnya kitalah yang tidak bertanggung jawab ketika hanya memposting foto keindahan alam di media sosial tanpa mengedukasi apa-apa yang sudah kita ketahui, kita tidak bisa menyalahkan sebuah film yang merupakan karya dari seseorang tentang segala dampak negatif yang terjadi saat ini, kita juga harus melihat sisi positif yang di hasilkan juga.