Kami mendarat di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta dari Palu, Sulawesi Tengah. Aku dan dia bertemu di dalam pesawat, kebetulan tempat duduk kami bersebelahan. Dia menuju Yogya sebab ada sebuah pelatihan dari Dinas Ketenagakerjaan, sedangkan aku kembali pulang ke Yogya. Aku hanya bekerja 3 hari di Palu atas tugas dinas yang diberikan kantorku.

Di awal perkenalan tidak ada yang berbeda diantara kita. Aku dan dia sama manusia, bedanya aku perempuan dan dia lelaki. Namun setelah berbincang banyak kami memiliki perbedaan lain. Kami berbeda agama. Namun bukan berarti perkenalan habis sampai di sana. Ku ambil koperku dan kembali ke Kos. Dia pun begitu, sudah dijemput oleh saudaranya. Kami berpisah saat itu.

Dua hari habis kujalani dengan pekerjaan yang cukup baik di kantor. Tiba-tiba saja dia mengajakku untuk menemaninya makan, sedang aku juga tidak ada kerjaan malam itu. Akhirnya kami makan di sebuah rumah makan yang sangat ramai dengan mahasiswa. Letaknya yang dekat dengan kampus membuat malam minggu begini rumah makan ini penuh dengan mahasiswa. Aku memesan cah jamur, lele dan sambal terasi. Sedangkan dia hanya memesan beberapa sayur dan telur. Ketika ia memesa, terlihat sekali memilihnya. Entah apa yang dipilih.

Kami berdiskusi banyak soal agama. Aku bercerita agamaku, dan dia bercerita agamanya. Bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk mengetahui kebiasaan, adat dan aturan dari agama masing-masing. Kami pun sangat menikmati diskusi ini hingga lupa sudah lebih dari 30 menit menunggu makanan. Perbedaan itu indah. Aku jadi tahu, ia salah seorang yang taat dengan agamanya, terlihat ketika ia bercerita tentang ibadahnya.

Makanan pun datang. Kehangatan makanan terlihat dari asap yang mengepul. Aku memesan 2 lele, rencananya aku memberinya satu, namun dengan cepat ia menolak. Aku kaget, mengapa?

Advertisement

"Di agamaku, hewan air yang boleh di makan hanya hewan yang bersirip dan memiliki sisik. Sedangkan lele hanya bersirip, tidak bersisik, sehingga lele dilarang di makan di agamaku. Begitu juga dengan trasi. Di agamaku juga tidak boleh. Babi juga dilarang, karena babi tidak memamahbiak. Ia makan langsung di telan."

Aku hanya bengong. Sesuatu yang baru. " Memangnya agama kakak kristen yang bagaimana?" aku ingin tahu saja.

"Namanya kristen Advent." Begitu singkat katanya. (Jika ingin tahu silahkan cari informasi tersenndiri).

Lalu kami berdiskusi banyak. Ia menjelaskan kitab injilnya, dan aku menjelaskan dengan beberapa ayat di al-Quran yang mirip untuk melarang makanan babi. Namun untuk lele dan trasi di agamaku diperbolehkan. Bahkan trasi menjadi makanan kesukaanku.

Terlepas dari bagaimana berbedanya agama kami, namun kami tetap saja menikmati malam ini. Aku mengajaknya untuk melihat-lihat Yogya, sebab aku yakin ia belum ke mana-mana. Terlihat wajahnya kagum dengan kota Yoga yang begitu aman. Katanya, di daerahnya sana jangan harap bisa meletakkan kendaraan seaman di Yogya. Ya, inilah Yogyakarta.

Jika perbedaan diperdebatkan dan mencari kebenaran, sudah sejak tadi aku dan dia tidak cocok. Namun, kami saling tahu bahwa agama adalah hak setiap manusia. Begitu juga perbedaan lainnya. Tidak perlu diperdebatkan. Boleh diperddebatkan ketika untuk saling menguatkan, bukan menjatuhkan dan menjadi perpecahan. Aku dan dia sampai larut di jalan Malioboro sembari berdiskusi banyak hal. Justru kami banyak berdiskusi soal perbedaan.

Sembari menikkmati kota Yogya yang macet di malam minggu, kami berbincang hingga dunia. Dia seseorang yang banyak tahu, sedangkan aku asik mendengarkan dia. Di dalam hati dengan dingin dan tenang, apa yang menyebabkan manusia kini seringkali memperdebatkan hal yang itu urusan pribadi? Perdebata boleh saja dilakukan, namun untuk menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah. Bukankah negeri ini indah dengan beragam perbedaan?

Tidak bisa jika kita hanya melihat segala sesuatu dari sudut pandang diri, namun juga lihat dari berbagai sisi, pasti di sana akan bisa dipahami mengapa seseorang demikian.

Saya sendiri bukan tipe seseorang yang suka berbicara banyak, melainkan itu dibutuhkan. Saya lebih suka mengerjakan ssesuatu dan menjadi sebuah karya. Apa saja itu. Di dunia yang serba cepat ini, saya tidak ingin tahu banyak hal. Saya hanya ingin menjadi perpustakaan untuk hal-hal yang menurut saya penting dan saya sukai.