Di sebuah pagi yang terang, di saat banyak orang terlihat lelah dan ingin istirahat, aku memulai hari dengan penuh semangat. Terbesit dalam pikiran agar hari itu aku luangkan untuk menghabiskan waktu dengan kawanku, Handoko. Persahabatan erat kami memang sudah terkenal di kampung tempat kami tinggal yang dekat dengan pantai.

Ya, hari ini adalah hari libur yang selalu kami habiskan untuk bermain di tepi pantai, menghujam dan melawan kuatnya arus laut yang membuktikan kekuasaan Tuhan. Kerap kali kami juga pergi ke laut ikut nelayan yang pergi mencari ikan. Saat itu pula, kami berpikir bahwa menjadi nelayan bukanlah ide yang baik akibat banyak risiko yang membahayakan, terutama saat badai menerjang.

Pagi itu kami memutuskan untuk tidak ikut berlayar. Sebaliknya, kami ingin berpetualang ke pulau kecil yang untuk menuju ke sana bisa dilalui dengan hanya berenang."Kali ini sebaiknya kita puaskan bermain di hutan, mencari ular atau laba-laba berukuran besar saja hari ini," ujarku. "Baiklah, sepertinya kita memang perlu hal baru dan menantang selain mencari ikan," jawab rekanku, Handoko.

Ego di masa muda memang terkesan sembrono. Benar saja, kala itu kami dibuat lari terbirit-birit dan tak ingin melihat ke belakang karena seekor ular seukuran lengan orang dewasa hampir kami injak. Beruntung, ular tersebut tak sampai melukai kami. Kami pun beristirahan di tepi pulau dan mengarahkan pandangan ke tengah laut sembari berkata "Saatnya bersuka ria di air kawan"

***

Advertisement

Berbagai hal kami lakukan saat itu dan tak peduli apa yang akan terjadi. Yang jelas, itulah masa-masa kehidupanku yang sangat mengagumkan. Hari demi hari kulalui tanpa rasa gelisah dan khawatir tentang masa depan yang tengah menanti. Namun, kisah itu hanyalah memori usang yang telah kujalani 14 tahun lalu. Kini, aku dihadapkan dengan berbagai masalah pekerjaan yang berat dan membuat stres.

Terkadang aku merasa bersyukur karena masih mengingat hal-hal terindah semasa kecilku. Kini, aku hidup di era yang serba modern, kawanku satu per satu mulai hilang dan sibuk dengan pekerjaan mereka, termasuk Handoko. Aku yang selama ini merantau ke Kota orang menyempatkan diri untuk berkunjung ke desaku tercinta.

Kususuri tempat-tempat favoritku saat kecil, di pinggiran pantai aku memandangi lautan lepas dan matahari yang hampir terbenam. Kutinggalkan langkah kaki seperti waktu yang meninggalkan kenangan indahku. Sampai matahari benar-benar di telan lautan, aku mempercepat langkahku menuju rumah usang yang sudah ditempati adikku karena orang tua kami sudah meninggal.

Kini, akupun bersiap memejamkan mata. Esok aku akan terbangun dan sadar bahwa kenangan indah itu sudah lewat.