Angin menghembus lembut membelai kulit, terdengar suara dedaunan saling bertaut. Sesekali suara burung menambah kengerian suasana di taman ini. Di sini sepi, bahkan terasa lebih sepi dari kelihatannya. Dengan begitu sombong aku menulusuri taman sendiri, ku abaikan semua cerita tentang misteri taman ini.

Ya, aku harus menyelesaikan tantangan permainan Truth or Dare dengan Lestari, tetanggaku. Aku Winda, sedang kuliah tingkat akhir saat ini, permainan ini mungkin menurut sebagian kalian sudah terlalu tua untuk kami mainkan, tapi ini terjadi begitu saja.

Siang tadi, aku sedang mengetik skripsi yang sudah ku perbaiki. Melebihi ujian remedial matematikaku waktu SMA, sangat menyebalkan. Aktivitas menemui dosen pembimbing yang jauh dari kata ganteng itu semakin membuat ku geram dengan tingkahnya yang galak dan malas memeriksa skripsi. Hampir saja aku menyerah, toh cita-cita ku menjadi Istri sholehah dan tidak perlu ijazah. Tapi, kata-kata ayahku yang mirip Mario Teguh membuat aku mendapat pandangan baru. Istri yang cerdas mendidik anak dengan cerdas pula katanya. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan skripsiku.

"Winda!" Seseorang memanggilku dari balik pintu. Aku sudah begitu hafal suara itu. Ada apa nih dia menjumpaiku di siang begini? Ah, iya. Dia pasti sudah kehilangan nafas menahan bosan sendiri di rumahnya, atau sekedar ingin curhat tentang cinta terpendamnya.

"Masuk!", kataku.

Advertisement

"Win, Dani jadian sama juniorku di kampus."

"Terus?", tanyaku dengan ekspresi datar tanpa mengalihkan perhatian dari laptopku.

"Win, peka kek! Aku 'kan suka Dani", katanya lagi sambil mewek.

"Ya peka Tari, katamu Dani tidak pernah tahu tentang perasaanmu. Kamu pun sok-sok jadi secret admire?", aku membalikkan badan dan menatap tari, berlagak serius.

Untuk beberapa saat hening.

"Ah, udah ah. Kamu 'kan juga suka satria, dia masih jomblo tuh!", kataku ringan.

Ya begitulah, bukan aku tidak peka. Aku sudah sangat kenal Lestari, dia selalu datang kepadaku untuk curhat tentang lelaki yang dia suka. Tapi anehnya, saking banyak nama yang disebut, aku bahkan lupa setiap nama dan alur ceritanya. Hm…

"Tari, sekarang lagi musim Truth or Dare, lho. Kemarin Ratih, adikku, main di rumah bareng teman-temannya yang SMA", kataku kembali membuka obrolan. "Kita main yuk, bosan aku lihat skripsi terus".

"Boleh! Tapi karena aku yang lagi galau, aku nantang kamu duluan, ya?", kata Tari dengan raut muka yang mulai membaik.

"Boleh, deh."

"Sore nanti kamu ke taman sendiri. 15 menit duduk di kursi, pohon yang katanya ada penghuninya itu."

"Sore? Boleh!", kataku sombong.

***

Aku masih duduk di kursi bawah pohon. 15 menit telah berlalu, ketakutanku sudah hilang. Aku begitu senang akhirnya aku bisa membuktikan bahwa tak ada hantu di kursi taman ini. Sekarang ku rasa sudah cukup untuk menjawab tantangan Tari. Maka, aku bangun dan beranjak.

"Hai!", sapa seseorang dari belakangku.

Aku menoleh dan melihat ke arah pemilik suara. Duh, betapa tertegunnya aku. Wajah tampan begitu meneduhkan itu..

Ya, dia seorang pria yang usianya dapat ku tebak kira-kira dua tahun atau tiga tahun di atasku. Tunggu! Aku rasa aku sedang berbunga-bunga, jantungku berdegub begitu kencang. Mungkin ini yang mereka bilang love at first sight.

"Kamu siapa?" Segera ku kendalikan pikiranku.

"Aku Radit, kamu baru kali ini kemari? Tumben!", katanya kemudian.

"Oh! Aku hanya ingin jalan-jalan."

Aku kira terlalu awal untuk jujur tentang permain Truth or Dareku dan Lestari.

"Aku mau pulang. Duluan, ya!", sambungku kemudian. Aku sadar Lestari telah menungguku di rumah. Waktu yang diberikan Lestari hanya 15 menit dan aku telah melaluinya 25 menit.

"Ya, sampai jumpa!"

***

"Alhamdulillah! Kamu balik, Win. Hampir saja aku mengundang tetangga untuk tahlilan", cerocos Lestari begitu aku menemuinya.

"Sialan kamu!", kataku sambil tertawa.

"Gimana?", tanya Lestari begitu penasaran.

"Tari, kayaknya aku balik lagi besok deh. Aku bertemu pangeran tampan di sana. Namanya Radit", kataku dengan begitu bahagia. "Aku merasa menjadi orang paling beruntung hari ini."

"Oh, Tuhan, Winda! Kamu bodoh apa bengal, akhirnya kamu bertemu hantunya!" Mata Tari membulat menatapku.

"Enak saja kamu! Hantu apa seganteng itu?"

"Kamu pasti tak pernah dengar tentang Radit, anaknya Pak Lurah yang meninggal di usia 17 karena kecelakaan motor di jalan taman, dan dia sering menampakkan diri di taman, kan? Makanya taman selalu sepi mulai jam enam sore."

Kali ini bola mataku pula yang nyaris keluar. Jantungku rasanya sudah jatuh berantakan di jalan. Aku lemas dan selanjutnya gelap.

***

Seminggu berlalu. Aku masih dalam keadaan demam. Kata dokter ini diakibatkan karena shock berat. Ya, pengalaman yang sungguh mengerikan. Ini akan menjadi permainan Truth or Dare pertama dan terakhirku.