Tentang kamu yang dulu tak pernah aku kenal sedikitpun, tentang gerak tubuhmu, bola matamu, mimik cara bicaramu padaku, dan juga tawamu. Aku tak pernah mengenal sedetail itu tentangmu. Sungguh.

Tapi aku pernah mengenalmu dari awalan namamu saja. Ditambah dengan perkenalan konyol kita waktu itu. Singkat saja. Aku sudah menyukaimu.

Inikah cinta pandangan pertama? Terima saja kenyataan ini. Memang nyatanya aku suka dengan keunikan perkenalan kita. Aku mengenalmu karena suatu hal yang membuat aku ingin mengenalmu. Kau tau? Sejak itu aku sudah mempunyai strategi bagaimana aku harus mengenalmu lebih dalam lagi. Bagaimana caraku mendekatimu. Agresif kan aku? Ini baru awalan saja sayang.

Dan.. Diam-diam aku sudah mendoakan namamu dalam urutan doaku setelah orang2 terhebatku. Kau tak perlu tau hal ini. Ditambah lagi gilanya aku tentangmu. Dengan kecuekanmu itu yang membuatku makin menggilaimu. Sungguh aku sudah gila mengatur cara bagaimana mendekatimu sampai aku hampir putus asah. Dulu, aku pernah berjanji, suatu saat nanti aku bisa berteman denganmu, bertukar sapa, berbicara, berjalan dan bergandengan tangan. Pasti!.

Masih belum paham juga sayang? Aku sudah memenangkan janjiku itu. Tiba-tiba sajah dengan berjalannya waktu yang cukup lama itu. Cukup 1thn aku menggilaimu. Dan pada akhirnya aku membuktikan semua itu. Tuhan mengabulkan semuanya. Aku memang tidak meminta kau mencintaiku layaknya aku padamu. Aku memang tidak meminta kau menyadari semua ini. Memang sesungguhnya kau tidak ingin menyadarinya. Tapi aku sudah bahagia kita memang pernah bersama.

Advertisement

Dan akhirnya, aku sudah tak ingin lagi mengharapmu. Tentang percakapan kita kala itu. Masih aku ingat jelas tentang bait-bait percakapanmu. Memang seharusnya cinta tak harus memiliki. Lalu? Kau inginkan siapa selain aku yang sungguh mencintaimu? Perjelas saja, beruntungnya wanita itu.