Ia mulai gelisah. Senja yang biasanya menjadi teman, perlahan terbenam. Pasir yang terbiasa hangat menyapa kaki pun berubah. Dan pelukan angin yang biasanya lembut menjadi begitu pekat menyeka tubuhnya.

Ntah, apa yang terjadi dengan semua memori. Ia tak dapat merasakannya.

Tiba-tiba semua menjadi sunyi dan sepi. Langkah kaki yang sudah terbiasa seolah tak ada gunanya. Sebagaimana yang kemudian tampak lalu menghilang, ia bagai arus memori yang memacu adrenalin.

Ketika semua yang dibela dan dianggap teman menjadi sebaliknya, persahabatan mana lagi yang bisa dipercaya !.

berapa lama lagi engkau menghilang,
berapa lama lagi engkau berubah,
dan berapa lama lagi aku menunggu pelukanmu ?

Advertisement

Sebuah catatan memori yang kemudian menghilang, perlahan kembali. Nafas yang nyaris tercekik menemukan arusnya. Dilihatnya, tak cukup lama, senja datang dan kemudian menghilang.

untuk senja yang tak pernah malas
untuk senja yang tak pernah pergi
untuk senja yang terus ada

karena adanya juga tiada
karena tiadanya juga ada.