“Mendadak Traveller”

Disadari atau tidak, berubah jadi traveller sepertinya sudah menjadi identitas kedua, profesi baru, pekerjaan sampingan dan kegiatan wajib untuk semua orang akhir-akhir ini. Menjelajahi tempat-tempat yang capturable, eksplorasi pemandangan hingga kekayaan alam baik di negeri sendiri sampai negara-negara tetangga bahkan berbeda benua seperti menjadi hal yang harus ada di list kebanyakan orang dan komunitas baru-baru ini.

Semua orang bisa jadi traveller. Begitulah gambarannya. Jika dulu sepertinya hanya orang-orang tertentu yang “terlalu cinta” pada alam dan pemandangan di sekitarnya yang pantas dijuluki traveller karena akan melakukan apasaja untuk mencapai tempat baru dan mencoret satu demi satu “to do list” di agendanya, maka sekarang siapa saja bisa disebut traveller. Mungkin lebih tepatnya, siapa saja ingin disebut traveller.

Ditambah lagi dengan semakin menjamurnya acara-acara travelling yang mengeskplorasi tempat bahkan hingga di daerah terpencil nan jauh disana yang menyimpan pemandangan, potensi dan kekayaan untuk diperlihatkan keindahannya di mata dunia. Belum lagi media sosial yang sudah seperti dunia kedua hampir semua orang yang juga berlomba mempromosikan dan menampilkan “surga-surga” tersembunyi agar nantinya bisa ramai-ramai untuk didatangi. Dua hal ini sudah seperti daya magnet yang memberikan motivasi tersendiri untuk siapa saja yang juga ingin membawa dirinya ke tempat yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Dengan bekal yang matang hingga seadanya, semua orang benar-benar bisa menjadi traveller menjadi penjelajah kekayaan alam negri ini. Namun, tentu saja tetap ada perbedaan “traveller sejati” dan “traveller dadakan” masa kini.

Traveller sejati pergi karena kebutuhan dan “panggilan” dari hati nurani. Mereka akan pergi jika alarm batinnnya sudah meraung berbunyi. Sedangkan beberapa “traveller dadakan” akan pergi setelah semua orang mengunjungi, membicarakan tempat-tempat baru yang ramai didatangi. Apa tujuannya? Tentusaja menjadi seperti yang semua orang lakukan. Agar kekinian. Menjadi yang paling terkini.

Advertisement

Berdampak negatif? Bisa saja, bukan tidak mungkin. Mengapa? Karena sesungguhnya tujuan alam dieksplorasi adalah sebagai refleksi diri akan betapa indah, betapa besar dan agungnya lukisan Tuhan yang tidak akan ada satupun yang menyamai. Hanya itu. Tidak perlu ada tujuan yang lain dari perjalanan yang panjang dan melelahkan ke suatu tempat yang menyimpan pesona dan keindahan selain untuk memenuhi panggilan atau bisikan batin nurani dan hati.

Namun, sepertinya fenomena jadi traveller dadakan juga merubah tujuan murni yang hakiki dari setiap panjangnya perjalanan itu sendiri. Apalagi jika bukan untuk menunjukkan tingkat gengsi. Pamer? Bisa saja. Ingin seperti yang lainnya? Mungkin. Kenapa yang lain sudah ke tempat itu tetapi aku belum juga. Kenapa mereka sudah upload foto di tempat baru itu tapi aku malah ketinggalan informasi. Ingin menjadi yang paling dulu ke tempat baru bisa membuat beberapa “traveller dadakan” lupa bahwa alam didatangi untuk dinikmakti bukan untuk dikotori, bahwa gunung-gunung didaki dengan perjuangan dan kesiapan fisik yang benar-benar matang bukan untuk didatangi dengan bekal secarik kertas bertulis “i love you sayang from beberapa digit ribuan mdpl”, dan juga bahwa keindahan pantai-pantai layaknya dinikmati sebagai selingan padatnya kegiatan di sela-sela hari bukan untuk didiami dengan melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh diri.

Karena kekayaan dan “surga kecil” ciptaan Tuhan ini hanya pantas didatangi untuk kemudian harus disyukuri. Bukan didatangi dengan tujuan “yeah aku sudah kemari”. Bukan menaikkan gengsi. Bukan untuk menjadi kaum yang seolah-olah “paling kini”, terkini.

Semua harus mengerti karena sesungguhnya tujuan jadi penjelajajah tempat-tempat indah ialah sebagai perantara bersyukur terhadap apa-apa yang sudah diciptakan. Bukan untuk ajang terbanyak mendapat “like” pada foto postingan pemandangaan-pemandangan.

29/12/2015