Mendaki gunung bukanlah termasuk trend semata ketika banyak orang sudah melakukannya. Mendaki gunung bagiku adalah sebagai pencari kesunyian yang harus berbekal pengetahuan dasar survival serta perlengkapan mendaki yang mendukung perjalanan pendakian. Seperti pada hari itu, aku mendadak girang karena dapat pesan sms dari temanku di Magelang yang berisi ajakan untuk mendaki gunung Andong di kampung Sawit, kel. Girirejo, kec. Ngablak, Magelang jawa Tengah.

Ketinggian gunung ini sekitar 1463 mdpl. Jika ada kesempatan, mengapa tidak aku kesana dan aku pikir ya sudahlah berangkat. Mumpung fisik masih kuat dan keinginan yang menggebu. Tapi kendalanya tanggal yang ditentukan oleh temanku itu tidak menguntungkan bagiku.

Karena hari itu bukan giliranku untuk libur kerja dan aku harus berangkat sore dan malamnya harus langsung packing untuk ke gunung Andong. Sepulang kerja sekitar pukul 22.00 WIB, mata sedikit ngantuk dan fisik yang lumayan capek karena habis bekerja juga harus dinormalkan kembali karena keinginan yang membara untuk mencari kesunyian di dataran tinggi sana.

Ini plesirku yang rada-rada ngawur memprediksi dan memaksakan waktu yang tak terlalu panjang untuk kumiliki. Tepat pukul 00.00 WIB tangggal 8 Agustus 2015, suara vespa temanku meraung-raung di halaman depan rumahku. Jangan lupa kasih salam dan jabat tangan sama mamakku supaya bisa dapat restu untuk ngebolang malam-malam. Itu cuma sedikit tips untuk mendapat restu.

Ini bukanlah trik karena ini bukan sulap tapi mengenai syarat membangun silaturahmi dengan orang tua. Pokoknya perlu dicoba deh, jangan lupa kasih senyum dan lambaian tangan untuk emak sebelum pergi ngebolang. Dan suara vespa yang tidak bisa di silent telah mengantar aku dan temanku untuk menembus udara malam, mencari kesunyian..

Advertisement

Di alun-alun Magelang sekitar pukul 1.30 WIB, kami semua telah berkumpul. Ada 2 orang perempuan, 2 orang laki-laki dan 1 orang laki-laki si tuan rumah pengundang 4 orang dari Jogja ini untuk singgah ke gunung Andong, dia bernama Sendi.

Sambil menyeruput teh panas untuk menghangatkan badan, kegemaran temanku untuk memecah kesunyian segera dimulai, dia bernama Nyosor si pengendara vespa. Lantunan lagu Iwan fals yang berjudul Ibu telah dia nyanyikan walau sepenggal-sepenggal, spontan juga para bapak-bapak yang berada diangkringan itu turut bernyanyi bergantian. Suasana semakin riuh saja.

Pukul 02.00 WIB, para gerombolan pencari kesunyian ini meluncur ke desa Ngablak. Sepanjang perjalanan hanya sunyi karena melewati pedesaan yang sebagian penduduknya sudah tertidur lelap bertemankan mimpi indah, oh mungkin barangkali dan semoga. Aroma daun tembakau menyeruak sepanjang perjalanan malam ini, ini plesirku yang penuh aroma tembakau dan terkadang terbawa kedalam sebuah kenangan entah dimana.

Jalanan yang kami lewati naik turun, bergelombang, hanya lumayan cukuplah mendapat jalanan yang mulus. ini plesirku sudah semakin dekat dengan tujuan awal yakni gunung Andong. Kami telah tiba di tempat loket menuju ke gunung itu tepatnya di Kampung Sawit.

Mas-mas berjaket tebal segera menyambut kami dengan salamnya dan kami membalasnya beserta dengan menulis nama rombongan kami dan beberapa lembar uang ribuan sebagai tiket masuk gunung Andong.

Kabut malam penghias perjalanan mendaki kami sungguh sangat dingin dalam fisik yang mulai melemah lelah dan ingin tidur saja daripada harus mendaki gunung ini, perkataan ini yang sempat terpikirkan olehku kala itu, karena aku sudah lelah. Tetapi karena entah ada apa, kaki tetap saja melaju melangkah maju menapaki setiap tanjakan gunung ini walau sesekali berhenti menghela nafas lelah.

Ini plesirku yang amat sangat mengantuk dalam pendakianku dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Kabut semakin menyelimuti gunung ini karena sepanjang pendakian kabut semakin tebal dan tak hilang terbawa angin. Selepas adzan subuh, semestinya semburat mentari mulai terlihat tapi ini tidak. Sampai pukul 6 pagi pun kabut senantiasa menemani kami para pencari kesunyian dan pecinta ketinggian.

Mentari tak nampak, kami hanya ngopi-ngopi tanpa hangatnya sang mentari. Lalu kami tidur-tidur sejenak di puncak gunung Andong. Di puncak ini tak terlalu ramai, hanya sekitar 15 orang saja yang memadati puncak gunung ini. Lumayan juga ada bangunan gubuk kecil yang ternyata didalamnya bisa digunakan untuk mendirikan 2 tenda dome. Tapi kami memilih hanya menggelar matras untuk sedikit tidur nyenyak karena aku harus dikejar waktu untuk bekerja kembali pukul 14.00 WIB. Ini plesirku sangat tergesa-gesa mengejar waktu.

Sekitar pukul 07.00 WIB, aku dan teman-temanku bersiap untuk turun gunung. Mereka berempat memiliki waktu yang sangat amat luang, sedangkan aku waktuku sangatlah sempit. Aku percaya jika kami berlima bahagia menempuh pendakian kebut semalam ini, hanya waktu yang membedakan misi ini. Aku hanya memiliki durasi yang sedikit, mereka lagi-lagi memiliki durasi yang banyak namun durasi waktu luang mereka terkalahkan oleh jadwal kerjaku dan harus menuruti keinginanku untuk segera turun gunung. Maaf ya kawan..

Setelah turun gunung mendekati perkebunan warga desa, rasanya sudah sedikit plong dan lega karena tahap mengejar waktu sudha tidak terlalu ngos-ngosan. Dalam perjalanan ke basecamp pun, kami sempat foto gila-gilaan yang penting hepi dan gak nyadar bahwa pendakian ini seperti hanya mimpi yang sebentar saja.

Di sekitar kebun ternyata ada panen raya, para petani desa kampung Sawit sedang panen kubis. Para petani sedang menyusun kubis-kubis itu kedalam keranjang-keranjang bambu dan menimbangnya untuk ditimbang dan dijual. Mereka sedang sibuk sekali, namun aku dan teman-temanku tak ingin kehilangan moment ini, berposelah kami di antara para petani kubis itu dan memegang keranjang kubis yang seolah-olah kami juga turut mengangkutnya ke mobil pick up.

Padahal kami hanya berpose saja namun para petani itu tetap tertawa dengan tingkah kami dan mereka tetap ramah bercanda dengan kami. Ahh, rasanya masih ingin main-main diarea desa ini tapi lagi-lagi aku harus kembali bekerja lagi.

Jogjaaaaa, kami kembali lagiii.

Suara vespa mulai meraung-raung dan aku duduk mengantuk sekali di belakang kemudi temanku. Ini plesirku seperti mimpi yang secepat kilat.