Tinggal sekamar dengan dua orang kawan dari negeri Paman Sam dan seorang lagi dari negeri Gingseng membuat saya merasa tinggal di empat negara dalam waktu yang bersamaan. Ketika melihat penampilan dan gaya Liem dan Marcus saya melihat penampilan yang kasual dengan gaya cuek dan selengekan, mungkin memang demikian penampilan dan gaya penduduk asal negara adi daya, mereka sangat percaya diri. Ketika melihat kawan saya melihat seorang yang culun dan penuh kehati-hatian, mungkin karena Ia berasal dari negara dengan konflik yang tak kunjung usai. Saya sendiri merasa seperti di rumah sendiri, yakni di Indonesia, tentu saya tidak kehilangan identitas diri saya sendiri.

Sesungguhnya kami sedang tinggal di negeri freedom of land, negeri yang tak pernah dijajah oleh bangsa manapun, negeri yang penuh toleransi. Ketika malam tiba, sambil makan malam kami pun singgah di home theater, ketika Liem dan Marcus memilih film, lebih sering mereka memilih film dewasa yang vulgar [maaf di negeri ini DVD film seperti itu betebaran di pinggir jalan], sedangkan ketika Kwan memiliki kesempatan memilih film, film yang dipilih selalu film action. Rupanya Liem dan Marcus menyukai kebebasan bahkan untuk urusan yang personal sifatnya dan Kwan menyukai trik-trik dalam berperang bahkan saat dia berada di negara yang penuh toleransi ini. Ketika kami bertemu di bar, Liem dan Marcus selalu ditemani minuman beralkohol meskipun tak pernah saya lihat mereka minum hingga mabuk, sedangkan Kwan memilih kopi atau teh. Rupanya Liem dan Markus lebih senang rilek tanpa mementingkan terjaganya tingkat kesadaran, sedangkan Kwan selalu berusaha siaga dan waspada atau begitu mementingkan terjaganya tingkat kesadaran.

Meskipun tidak begitu mengenal mereka, dari pola yang dapat saya amati tersebut, akhirnya saya paham bahwa kebiasaan dan karakter seseorang setidaknya ditentukan oleh lingkungan dimana orang itu dibesarkan. Kebiasaan dan karakter yang dimiliki oleh Liem dan Marcus, serta Kwan tentu tidak saya miliki, demikian juga sebaliknya atau pun satu dengan yang lainnya. Kami sesungguhnya berbeda dalam kebiasaan dan karakter, hanya Marcus dan Liem yang hampir mirip. Meskipun demikian, kami berempat cukup saling menghormati dan menghargai, serta terbuka satu sama lain. Dengan demikian kami dapat tinggal bersama tanpa saling merendahkan dan berkonflik satu sama lain, kedamaian dapat kami ciptakan. Seperti tangan Sang Budha yang terangkat ini, artinya berhenti berperang, ciptakan kedamaian, demikianlah kami bersama menciptakan kedamaian. Saya rasa, itulah yang menjadi pesan utama Sang Budha dari negeri freedom of land ini.