Kita sering mendengar istilah “Sayangnya aku tidak terlalu lemah untuk minta maaf”. Pertanyaannya, apakah permintaan maaf menandakan seorang yang lemah?

Ketika lidah terasa kaku dan sulit untuk sekadar mengucapkan kata maaf, bisa jadi kita sedang berproses menjadi seorang yang sombong.

Saat kita menyadari ada ucapan yang mungkin menyinggung perasaan orang lain. Saat sikap kita mungkin telah menyakiti hati orang lain. Dan bahkan hati membenarkan kita telah menyinggung atau menyakiti. Tapi kenapa, adakala sangat sulit berujar maaf? Gengsi, kah? Sombong, kah? Atau mungkin ada yang tidak beres dengan cara berfikir kita. Hanya diri sendiri yang tahu jawabannya.

Dalam hidup begitu banyak karakter yang kita temui. Diantara banyak karakter tersebut, sesekali kita menemukan orang yang angkuh sekadar berujar maaf. Angkuh? Mungkin juga tidak. Mungkin dia ingin membahagiakan dirinya dengan tidak dipusingkan oleh urusan yang dianggapnya sepele. Ini tidak salah. Dia hanya ingin mencari kebahagianya tanpa merasa bersalah. Ya… karena merasa bersalah tidak akan membuatmu tidur nyenyak.

Tapi pernahkah berpikir bagaimana jika kita ada diposisi seseorang yang telah kita lukai hatinya? Bahkan kita sadar kita telah melukainya. Masihkah tetap angkuh dan seolah tidak terjadi apa-apa? Sesombong itu kah kita? Seegois itu kah kita? Hanya karena ingin membahagiakan diri sendiri sampai melupakan jika kita makhluk sosial yang harus saling menghargai.

Advertisement

Ketahuilah permintaan maaf pun bisa menjadi bentuk penghargaan untuk seseorang, merasa dirinya berarti. Sesulit apa untuk sedikit saja membuat seseorang merasa dihargai dan dianggap ada.

Di sisi lain kita menemukan orang yang begitu mudah mengucapkan kata maaf? Inikah bagian yang disebut lemah? Tidak! Karena tidak semua orang yang pertama kali meminta maaf adalah pihak yang salah. Sama sekali tidak. Adakala permintaan maaf diucapkan untuk mendamaikan hati dan memperpanjang tali persaudaraan sesama manusia, menghindari perselisihan. Dialah pemenang yang berhasil menurunkan sedikit egonya.

Orang yang seperti ini begitu pandai berdamai dengan hatinya dan merasakan ketenangan. Ketika dia merasa ada ucapakan atau sikapnya yang salah. Dia tidak membebani hatinya dengan rasa bersalah tersebut. Dia melepaskannya dengan meminta maaf bahkan ketika seseorang tidak merasa terlukai. Dia hanya takut. Takut jika dirinya menyakiti orang lain.

Lagi pula permintaan maaf akan membuat kita lebih baik dan damai. Saat kita menggenggam sendiri sebuah kesalahan dan menyimpannya dalam hati. Sampai kapanpun kita akan mengingatnya. Walau tidak sekarang mungkin nanti, esok atau hari dimana semua terlihat begitu jelas ketika kita menuai apa yang kita tanam. Dan disaat itu tidak ada kesempatan untuk mengatakan maaf.

Minta maaf pun bukan sekadar terucap saja. Permintaan maaf yang baik datang dari hati, mengucapkannya dengan tulus. Menyesali dan berproses menjadi lebih baik. Bukan hanya karena terpaksa dan di hati tetap ada rasa enggan.

Ketulusan datangnya dari hati dan yang tahu tulus atau tidaknya ucapan atau tindakan yang kita lakukan hanya diri kita sendiri. Semua kembali pada diri sendiri. Satu lagi, segala akibat tidak akan lari dari sebabnya. Hargai sebuah pertemuan, pertemanan dan hubungan. Karena tidak akan pernah ada yang hilang dari kenangan. Selalu ada pembelajaran dari apa saja yang kita temui jika kita memandang hidup dengan penuh kebijakkan.