Wooiii, elo sekolah di mana?

Anak-anak bercelana pendek biru dengan atribut OSIS kuning itu lantang menjawab SMP Negeri 216. Salah satu SMP Negeri favorit, atawa orang bilang bonafid yang ada di kawasan Salemba Jakarta Pusat.

Favorit karena ribuan siswa berebut agar bisa diterima di sekolah berlantai 4 yang saat itu sangat mentereng dan mungkin satu-satunya sekolah bergedung di Jakarta. Bonafid, karena terletak di kawasan pendidikan Salemba dan salah satu SMP unggulan yang diberlakukan sistem “anak berbakat”’ zaman itu dari DepDikBud RI.

Ini emang tentang tulisan sejarah aja. Tentang masa lalu, yang hanya bisa dikenang. Walau gak bisa kembali lagi, tapi masa-masa SMP, bagi siapapun pasti punya kesan. Termasuk buat anak-anak SMP Negeri 216 Angkatan 86 alias lulus tahun 1986. Karena mereka sadar, masa lalu adalah fondasi kita ada di masa kini. Tanpa masa lalu, kita gak bakal bisa seperti ini. Setuju gak? Kalo setuju tolong kasih jempol atau anggukan kepala ya ….

Ahhh, biasa saja. Ini cuma sekelumit tentang Angkatan 86 SMP Negeri 216 Jakarta. Ya, kumpulan sekitar 40 orang kali 15 kelas, komunitas dengan 600 orang. Kalo di tentara, jumlah itu sudah bisa dibilang “SATU BATALYON”. Dan kini, mereka tersebar ke mana aja, di mana saja dan sebagai apa saja. Dari segi umur, mereka ada kisaran 45 tahun plus minus. Usia yang sudah matang, dewasa, dan bisa dibilang ‘agak tua”.

Emang, gak ada yang istimewa dari Angkatan 86 SMP Negeri 216.
Karena mereka hidup di era yang “nanggung”, zaman belum maju-maju banget. Tapi juga tidak terbelakang banget. Sedang-sedang saja, kata orang sekarang. Buat teman-teman yang ngerasain jadi anak SMP di tahun 1986 ini, pasti bisa senyum-senyum sendiri mengenang masa-masa itu. Gak nyangka, kecilnya kayak gitu. Ada yang cakep, sekarang jelek. Ada yang jelek, sekarang cakep. Berubah …. Berubah …. Berubah….gak tau jadi apa? Hehehehe

Advertisement

Jadi bagian Angkatan 86 SMP Negeri 216, sungguh memorable. Gimana enggak?
Zaman itu, untuk bisa diterima di SMP 216 harus bersaing melalui EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), pas mau lulus-lulusan ke SMA juga pake nilai EBTANAS, yang disebut NEM (Nilai Ebtanas Murni) tanda persaingan di antara kita. EBTANAS itu produk pendidikan dar Menteri zaman itu, Pak Daoed Jusuf. Masih inget gak, berapa mata pelajaran yang di EBTANAS-kan? Jawab sendiri aja …..

Hari-hari di sekolah, Angkatan 86 SMP Negeri 216 juga tergolong dinamis. Penuh romantika, yang pantas dikenang. Gimana enggak? Anak-anak ini merasakan masuk sekolah yang harus terburu-buru, berlari karena BEL sekolah berbunyi, ti-lu-li-lu-li-dong-tu-li-lu-li-lu-li. Begitulah bunyinya. Abis itu pintu pagar sekolah ditutup sama Pak Satpam berbaju hijau.

Pakai celana pendek biru, rok (pendek) biru sebagai seragam sekolah berasa udah modis banget. Berbalut sepatu hitam Warrior tambah tas selempang yang talinya panjang, Angkatan 86 SMP Negeri 216 berasa udah belajar beneran. Nah pas jam istirahat, sekolah berbentuk HURUF U ini agak crowded. Karena kantinnya terbatas, hanya ada di ujung tiap lantai dekat tangga. Kantin yang gak luas banget. Wajar aja, banyak anak-anak yang gak jajan. Entah karena gak ppunya duit atau karena emang bangku di kantin yang sedikit.

Kenangan selama belajar di sekolah juga macem-macem. Ada yang takut sama guru Fisika yang killer, atau guru Olah raga yang kerjanya nyabetin murid. Ada yang dooyan nongkrong d laboratorium ngendusin amoniak. Ada juga yang kerjanya pacaran, beduaan di pojkan sambil ngeliatn ke halaman sekolah di bawah. Anak SMP pacaran, kayak kurang kerjaan hahahaha. Atau gak ke Perpustakaan, bukannya dipake buat baca buku malah ngobrol ngalor-ngidul. Tapi SMP ini patut disaluti. Karena tiap Senin pagi pasti upacara bendera, walau anak-anaknya berebut tempat di barisan yang paling belakang biar bisa becanda. Salut lagi karena tiap Jumat ngadain sholat jumat di teras sekolah doang. Ahhh, itu semua memori yang sulit untuk dilupakan. Setuju gak ? Apalagi ditambah pakai baju batik warna coklat, lupa tiap hari apa? Bawaannya seperti anak SMP yang berwibawa …..

Kalo dipikir-pikir, Angkatan 86 SMP Negeri 216 ini tergolong kurang hiburan. Maklum zaman itu TV beum serame sekarang. Adanya cuma TVRI doang. Wajar mereka kenalnya DUNIA DALAM BERITA sama Sandiwara Keluarga Ratu Asia. Atau Cepat Tepat tingkat SMP. Saat itu masih banyak TB Hitam Putih. Makanya, anak-anak Angkatan ini sering bikin acara tiap kali ada VALENTINE DAY. Mereka gak tau dalihnya apa, intinya cuma pengen ngerayain bareng temen-temen aja. Kayak pesta gitu deh. Pake baju yang bagus, disco-disco bedua sambil pake balon di tengah kepala keduanya. ABG banget zaman itu. Memang kurang hiburan. Kalo mau nonton juga paling nyewa video Betamax di rental. Atau tontonan favorit film Si Unyil.

Nah buat nyalurin minat dan bakat, Angkatan 86 SMP Negeri 216 punya beragam cara. Ada yang suka main basket. Paskibra. Ada yang suka bikin geng, sekumpulan teman tongkrongan yang gak karuan. Ada juga yang suka berjudi “sepakbola”, tanding antar kelas di luar class meeting.

Bahkan, ada yang suka baca buku “terlarang” Enny Arrow, Nick Carter, Amor Love. Anak-anak yang gemar urusan seks, ugh..ugh…ugh mendesah, bergairahh. Kalo buku yang beneran, ya seperti LUPUS atau Lima Sekawan paling. Cuma hebatnya, di Angkatan 86 SMP Negeri 216 ini masih ada sistem ANAK BERBAKAT (AB) program ungguan ba anak-anak yang pintar dan dikumpulkan di dalam 1 kelas. Sungguh, ini program yang bagus.

Tentang guru, pasti kita bisa mengingat banyak hal. Zaman KepSek Pak Boediono, ada juga Pak Mulyana, Pak Sianipar, Ibu Syafrida guru Bahasa Indonesia favorit saya, Ibu Siti Chamsiyah, Ibu Azmaidar dan lain-lain. Bahkan ada Ibu Guru yang bohay, asooy geboy. Ada juga Pak Ali Saidi, Pak Win Achsin, Pak Bambang Sutiyoso, Duh, kalo inget guru-guru itu jadi malu. Dan yang pasti, pengen ngucapin terima kasih atas ilmu dan didikan mereka kepada Angkatan 86.

Wooiii, elo anak SMP mana?

SMP Negeri 216, Angkatan 86. Tahun kelulusan 1986. Sudah 29 tahun berlalu. Ada banyak memori, ada banyak nostalgia. Termasuk nostalgia grup band yang dikenal zaman itu, kayuak The Beatles, Genesis, Mick Jagger dan sebagainya. Masa SMP yang patut dikenang, karena harus beli kertas ulangan. Masih ada ujian praktik. Sama nongkrong paling banter di sekitaran sekolah, bisa deket kali Ciliwung atau di daerah Mencos/Bluntas. Bahkan ada yang suka nge-BM alias Bonceng Mobil kalo mau main bareng-bareng. Ahhh, terlalu berkesan. Ciamikk banget deh.

Btw, capek juga ya inget-inget masa SMP. Masih banyak lagi sih, tapi maklum “daya ingat” udah menurun untuk ngungkap masa-masa indah di SMP, di Angkatan 86 SMP Negeri 216 Salemba Jakarta.

Satu yang pasti, angkatan ini emang beda dengan anak-anak zaman sekarang yang udah makin gila ama “ponsel”. Bikin hidup makin individualis. Alhamdulillah, Angkatan 86 masih sempat mengeyam masa-masa negara yang belum maju banget, tapi juga gak terbelakang banget.

Lalu, apa artinya buat Angkatan 86 SMP Negeri 216 Jakarta atau mereka yang saat ini ada di kisaran usia 45 tahun?

Ya, sedikit aja. Agar mereka tetap menjalin silaturahim. Sebagai simbol pertemanan. Dimanapun dan kapanpun. Karena mereka memang “dibesarkan’ di era yang gak mungkin terulang lagi. Era remaja, 29 tahun lalu, yang basisnya ikatan sekolah dan tongkrongan semasa SMP. Bisa jadi, memang mereka sudah lupa nama, lupa tampang, atau lupa peristiwa apa saja yang terjadi di saat sekolah. Tapi ke depan, pertemanan ini yang harus dipupuk. Karena 10 atau 20 tahun mendatang, Angkatan 86 ini akan mulai “KESEPIAN”.

Karena mulai ditinggalkan anak-anak mereka yang sudah punya “dunia sendiri” atau menikah. Insya Allah jika kita semua umur panjang ya. Nah, untuk melepas jenuh di usia tua nanti, apa lagi kalo bukan ngumpul bareng dengan teman-teman seperjuangan waktu di SMP dulu. Betul gak? Itung-itung biar bisa nostalgia, ketawa-tawa. Lumayan kan, buat nambahin umur hehe.

Karena buat refleksi kita aja, pertemanan itu tetap penting dipelihara. Agar Angkatan 86 SMP Negeri 216tak usang oleh waktu, walau sudah lebih dari 29 tahun. Pertemanan tanpa kepentingan politiik, ekonomi atau apalah namanya. Pertemanan yang abadi, yang tulus.

LANJUTKAN SAJA, pertemanan model begini. Bukan hanya untuk “napak tilas”, tapi juga bisa jadi “media” untuk merintis masa tua yang gak frustasi, yang gak kesepian. Maklum, hidup sekarang makin individualis akibat ekonomi atau kepentingan dunia lainnya. Tapi esok, 10 atau 20 tahun lagi, apa yang mau diharapkan? Apa yang mau dicari? Tak ada lagi, selain kita semua akan menua dan meninggal dunia.

Angkatan 86 SMP Negeri 216 adalah anak sekolah negeri, sekolah yang dibiayai oleh Pemerintah. Maka hari ini atau esok, kita harus tetap punya tanggung jawab sosial untuk membuktikan bahwa kita adalah HOMO HOMINI SOCIUS, manusia adalah kawan bagi sesama. Bukan HOMO HOMINI LUPUS, manusia adalah serigala bagi sesama.

Semoga saja kita semua, Angkatan 86 SMPN 216 Jakarta selalu diberi sehat wal afiat dan tetap menjunjung tinggi persabahatan. Kata orang bijak, Kebersamaan dan perpisahan adalah dua hal yang bertolak belakang. Tapi kedua-duanya saling mendukung satu-sama lain. Maka, jadilah penebar kebersamaan dan persahabatan dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Salam Ciamik Angkatan 86 SMP Negeri 216 – KAMI Pernah BERSAMA!!