Saya merasa sangat beruntung tinggal dan besar di Sumatera Barat. Alamnya indah membuat saya merasa tidak perlu lagi untuk plesiran ke luar daerah, karena semuanya sudah cukup di sini. Ada pantainya yang indah, lembah-lembah yang dalam dan hijau, serta gunung-gunung yang memiliki pesona alamnya yang menakjubkan serta medannya yang tantangan dan sangat cocok untuk dijamahi oleh para pendaki.

Salah satu pesona alam yang memiliki keindahan yang menakjubkan di Sumatera Barat itu adalah Gunung Singgalang. Gunung Singgalang adalah Gunung yang terletak di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, kira-kira 80 km dari kota Padang dan 15 km dari Kota Bukittinggi. Gunung ini memiliki ketinggian 2877 Mdpl dan tergolong kepada gunung api yang sudah tidak aktif lagi.

Sebagai masyarakat minang yang cinta alam dan suka tantangan, saya tentunya tidak melewatkan gunung ini untuk didaki. Nah,pada tanggal 31 Mei 2015 yang lalu, saya melakukan pendakian bersama keempat teman saya. Sengaja dipilih tanggal itu, karena bertepatan dengan malam purnama dan dengan asumsi pada saat purnama biasanya cuaca cerah dan kita bisa menikmati keindahan malam di puncak gunung.

Sebelum melakukan pendakian, kami berlima berkumpul terlebih dahulu di pasar Koto Baru, sebuah pasar tradisional yang terletak di dekat jalan raya Bukittinggi-Padang, sekalian membeli perlengkapan dan logistik yang diperlukan selama pendakian nanti. Nah, setelah semuanya lengkap, tepat pada pukul sebelas pagi kami bertolak menuju kawasan pendakian, tepatnya di Nagari Pandai Sikek. Jarak tempuh antara Pasar Koto Baru ke tempat mengawali pendakian yaitu sekitar 8 km. Kira-kira 1 km dari pasar, kami berhenti sejenak di sebuah pos kecil yang merupakan tempat untuk melapor kepada petugas sebelum melakukan pendakian.

Setelah melapor, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pintu rimba dengan menggunakan sepeda motor. Tempat itu merupakan bagian awal dari aktivitas pendakian. Jalan yang kami lalui dari pos pelaporan ke pintu rimba itu adalah jalan menanjak dan di sekeliling kami ladang pertanian penduduk menghampar luas dan tentunya hal tersebut semakin membuat perjalanan kami ini semakin menyenangkan.

Advertisement

Lima belas menit sudah kami menempuh perjalanan dari pos , akhirnya sampai juga di pintu rimba. Letak pintu rimbanya ini sangat dekat dengan Stasiun Pemancar Televisi ( RCTI Dan TVRI), jadi sangat mudah untuk ditemukan.

Setelah memarkir sepeda motor dan beristirahat sejenak. Kami langsung memulai pendakian dan rintangan pertama yang kami lalui adalah menempuh hutan pimpiang. Pimpiang merupakan tumbuhan sejenis ilalang namun memiliki batang seukuran jempol kaki dan lentur. Sehingga seringkali menutupi jalur pendakian dan terkadang membentuk sebuah terowongan yang dipayungi tumbuhan. Jadi, kami harus sesekali merunduk ketika melaluinya.

Butuh satu jam untuk untuk melewati hutan ini. Sebenarnya jalur di hutan pimpiang ini tidak begitu panjang. Tetapi, jalurnya yang terjal, licin, ditambah lagi carrier kami yang sering tersangkut membuat perjalanan di hutan ini sedikit lebih lama. Dan bisa saya katakan, jalur di hutanpimpiang ini lebih berat dari jalur pendakian yang akan dilalui setelah ini.

Setelah satu jam bergelut dengan hutan pimpiang, akhirnya kami sampai di kawasan hutan dengan pepohonan tinggi dan lebat. Kami beristirahat sejenak melepaskan penat dan saya bersama satu orang teman pergi ke sumber mata air untuk mengisi perlengkapan air bersih kami sebelum sampai di puncak nanti. Cukup lama kami beristirahat di sini, karena sekalian makan siang dan shalat zhuhur.

Satu jam kami beristrihat di sini, tepat pukul satu siang kami langsung melanjutkan perjalanan. Jalur yang akan kami tempuh setelah ini memang tak seberat jalur sebelumnya, akan tetapi jalur selanjutnya akan penuh dengan tanjakan yang tiada habisnya. Tidak ada “bonus” di jalur ini. Yang membantu kita dalam menanjak hanyalah akar-akar pohon berukuran besar, terkadang kita akan melalui jalur yang sedikit licin tanpa ditopang oleh akar-akar pohon tersebut.

Selama pendakian di jalur hutan ini, sesekali kami bertemu dengan satwa liar yang berhabitat di hutan ini. Seperti Siamang, lutung, dan burung-burung hutan yang berukuran kecil hingga besar. Sungguh, perjalanan ini terasa semakin menyenangkan dan rasa lelahpun tidak begitu terasa.

Tidak terasa, sudah 5 jam kami berjibaku menempuh perjalanan di hutan. Akhirnya sampai juga kami di kawasan cada. Kami beristirahat sejenak di sini sembari menikmati pemandangan kota Kota Padang Panjang dan tepat di depan kami Gunung Marapi berdiri dengan gagahnya. Ditambah lagi pantulan cahaya jingga yang dibiaskan oleh matahari menjelang terbenam di ufuk barat. Memang indah sekali dan rasa lelah kami cukup terobati dengan pemandangan ini.

Kami tidak berlama-lama istirahat di sini. Karena tujuan utama kami adalah sebuah tempat indah yang berada di kawasan puncak yang jaraknya kira-kira satu perjalanan lagi dari tempat beristirahat saat ini.

Jalur yang kami tempuh saat ini adalah jalur berbatu dan setelah itu memasuki kawasan hutan lumut. Nah, ini adalah salah satu bagian paling menarik dari Gunung ini, yaitu hutan lumut. Di hutan ini, kita menemukan pepohonan tinggi dengan daun yang rimbun dan pada batangnya ditumbuhi lumut. Sehingga kalau kita di dalam hutan ini, kita seolah-olah berada di zaman purbakala ( belum pernah kembali ke zaman itu sih, tetapi hutannya ini sama seperti hutan di film Jurassic Park). Di hutan ini, kami harus teliti dan berhati-hati. Meskipun tidak ada lagi tanjakan, luasnya hutan lumut ini bisa menjerumuskan pendaki ke jalur yang salah.

Akhirnya, setelah melewati hutan lumut yang indah sekaligus seram itu, akhirnya kami sampai juga di tujuan terakhir kami dari pedakian ini, yaitu sebuah tempat nan indah yang mungkin jika bertemu dengannya membuat kita jatuh hati dan benar-benar bisa menghilangkan lelah. Tempat itu tak lain dan tak bukan adalah Telaga Dewi. Telaga Dewi merupakan sebuah telaga yang terbentuk dari kawah yang sudah mati dan terisi air hujan.

Di tempat ini, di tepi telaga dewi yang indah ini, kami akhirnya mendirikan tenda dan kemudian memasak untuk santapan makan malam. Sungguh menakjubkan rasanya, kami beristirhat dan menyantap makan malam sembari memperhatikan keindahan telaga yang sesekali beriak dan membuat bayangan bintang-bintang menari bersamanya. Dari arah belakang tenda kami, sinar purnama perlahan menyeruak di antara pepohonan dan benar-benar malam itu menjadi semakin indah.

Kami memutuskan untuk istirahat lebih cepat setelah menyantap makan malam, ditambah cuaca yang semakin dingin. Kami juga menyadari, keindahan Telaga dewi ini akan kami nikmati dengan sempurna pada saat pagi datang. Di tambah lagi kami yakin cuaca esok harinya akan cerah.

Demikianlah perjalanan yang menyenangkan dalam menggapai surga tersembunyi di puncak Singgalang. Bersyukur sekali rasanya jika keindahan alam ini akan senantiasa dinikmati hingga generasi setelah kami. Semoga tidak ada yang memiliki niat untuk merusaknya. Ingat, Alam adalah guru yang bijak dan sahabat yang paling jujur, Jika ia dirusak, maka kita sebagai manusia akan mengalami bencana dan kehilangan yang amat besar.