Rindu lagi, rindu lagi. Menjemukan. Tapi bumi tak bisa membodohi diri, bahwa ia merindukan hujan. Membiarkan hujan menghijaukan bumi seperti kala – kala itu. Kini mendung tak lagi mengisyaratkan runtuhan air langit. Ia hanya lewat tak berarah menyulam harapan – harapan manusia.

Bumi tak lagi hijau. Malah kering kerontang. Tanah – tanah mengeras, tumbuhan pun mati. Hujan terlalu bernegosiasi bahwa ia harus pergi. Mengejar pelangi yang hadirnya memanjakan mata. Ia lupa bahwa ada yang membutuhkannya, merindukannya. Bumi.

Terkadang ada yang sibuk mencari, ketika kedatangannya dirindukan. Mengorek lubang – lubang bahagia padahal sekitarnya memeluknya erat. Merasa sepi ditengah riuhnya perhatian. Ada, mungkin itu kamu.

Kini bumi harus rela. Sakit – sakit ditubuhnya semakin merajalela. Menikam setiap nyeri yang terpaksa dirasa. Merindu hujan yang nyata nya tak berwujud. Mengertilah, hujan memilih mengejar pelangi. Indah menawan mata tapi menyakiti bagian relung hati yang lain.

Biar. Biarkan mati memilih caranya sendiri. Memilih mana yang menjadi jalannya. Tapi tidak dengan rindu. Ia bertahan meskipun nyeri – nyeri semakin mengenai tulang, merampas bahagia – bahagia yang lain. Karena menikam rindu sama hal nya menelan pil – pil pahit penyakit lambung. Demi apa bertahan ? Ya, demi rindu itu sendiri.