“Aku ingin cinta hadir untuk selamanya bukan hanya untuk sementara

menyapa dan hilang, terbit tenggelam bagai pelangi

yang indahnya hanya sesaat untuk aku lihat dia mewarnai hari” HIVI!– Pelangi

Kita memang tak pernah membuat janji, tak pernah berjanji untuk saling menyayangi atau berjanji untuk selalu setia. Kita juga tak pernah berjanji tidak akan pergi atau akan tetap tinggal. Kita pasti dipertemukan untuk sebuah alasan, entah untuk saling melengkapi atau menyakiti.

Kita hanya sering menghabiskan waktu berdua, menonton film, makan bersama, pergi kemana saja, tanpa punya sebuah ikatan, bahkan kita juga tidak bisa disebut sebagai teman. Awal pertemuan kita di rumah makan itu, adalah sebuah awal dari cerita ini. Pertama kali kamu mengirim pesan di Facebook, pertama kali kamu mengirim pesan sms, pertama kali kamu memberiku es krim, pertama kali kita keluar bersama menonton film “Skyfall” dan banyak pertama-pertama yang kita lakukan.

“We don’t remember days. We remember moments”

Seharusnya aku tak menjatuhkan hatiku di sana, tak menjatuhkan hatiku kepada seseorang yang mempunyai kekasih. Seharusnya juga aku tidak mengatakan akan menunggu dan seharusnya kamu tak meng”iya”kan untuk menunggumu. 3 tahun lebih menunggu, menunggumu untuk putus dengan kekasihmu, dan menunggumu untuk mencintaiku dan menunggumu untuk sembuh dari kecelakaan itu.

Advertisement

Kata Boy Candra (penulis buku Catatan Pendek Untuk Cinta yang Panjang, Origami Hati, Setelah Hujan Reda dll) “Menunggu tanpa kejelasan dalam rentang waktu yang panjang adalah bentuk Kesetiaan atau malah kesia-siaan.

Sebenarnya aku masih bisa menunggu jika kamu menginginkan untuk menunggumu, bahkan untuk beberapa bulan ataupun tahun. Tapi bisakah kamu meyakinkanku untuk menunggumu bukan mengatakan “terserah” waktu itu. Bagaimana bisa kita menyudahi yang belum terjadi?

“Mengapa ku tak bisa jadi cinta yang tak akan pernah terganti (kuhanya menjadi) cinta yang tak akan terjadi. Lalu mengapa kamu masih di sini memperpanjang harapan.” HIVI! – Pelangi