Pritttttttt,,, lari dek,, ayo lari,, teriakan kakak kakak senior menyambut mahasiswa yang terlambat pagi ini. Hari ini adalah hari pertama ospek di kampus polinema, segala peralatan rumit dengan penuh teka teki harus kami bawa, tapi masih saja kami dihukum karena salah penafsiran, mulai dari air berkeruh yang kami kira pocari sweat ternyata susu atau warna akuntansi yang dikira cokelat ternyata merah.

Beberapa mahasiswa baru a.k.a maba bandel mulai terlihat, mereka datang terlambat dan akhirnya mendapat double hukuman. Luckily, tempat kostku tidak begitu jauh dari kampus. Nampak seorang maba berkacamata lari lari kecil dari kejauhan sambil berkata "exist,, akuntansi exist",, di sepanjang jalan menuju lapangan akuntansi, dia tampak begitu lugu, tapi kenapa dia terlambat pikirku.

Ospek dua hari di kampus dan seminggu di camp militer membuatku begitu lelah memasuki hari pertama kuliah. Kemeja putih berjas polinema, celana kain hitam, wajah yang masih polos dan plontos untuk para pria adalah pemandangan mahasiswa semester 1 di kampus ku.

Beberapa senior yang terlihat galak saat ospek pun kini terlihat lebih keren dan cantik, salah satunya kak Gilang, dia adalah kakak pendamping kelompok ku saat ospek kemarin. "pagi melda" sapaannya mengagetkanku dan membuatku terpana akan senyum manisnya " pagi kak gilang" jawabku membalas sapaaannya. Dia begitu ramah menunjukkan ruang kelasku, dan kemudian dia kembali bersama teman temannya.

Pembelajaran kuliah di awal masuk masih diisi dengan pengenalan dan pengenalan, dan saat pergantian jam kuliah, kakak-kakak himpunan masuk ke kelas kami untuk mengenalkan sub kegiatannya dan agar kami tertarik ikut dalam himpunan, yups himpunan mahasiswa akuntansi alias HMA dan dalam perjalanannya akan sering diplesetkan menjadi himpunan mencari asmara.

Advertisement

"ahh, kali aja aku dapat pacar juga" pikirku nakal saat melihat kak ilang ikut mempromosikan hma juga. Beberapa temanku mulai terlihat antusias mendaftar hma, aku pun ikut mengacungkan jari dan kak gilang menulis namaku dalam kertas pendaftaran itu.

Tahapan demi tahapan seleksi hma pun mulai aku dan teman-teman ikuti setelah pulang kuliah. Aku menikmatinya, karena menurutku dengan ikut kegiatan seperti itu aku akan punya banyak teman.

"hey mel,, tau gag sih, ada cowo ganteng lo di hma" kata lina teman sekelasku, "hah iya kah? Siapa? Jawab ku. "aku lupa ga tanya namanya, tapi dia ikut hma juga kaya kamu, aku ketemu dia di kereta" ungkap lina dengan penuh antusias karena dia bertemu seseorang di kereta dan tenyata dia adalah teman sekampus kami.

"ciri-cirinya gimana?"tanyaku pada lina, "dia cowok,, "jawab lina,, "yeay pastilah cowok masa iya cewe ganteng "jawabku,, "hahaha,, maksudku dia cowok berkacamata, dan kelihatan manis banget" jawab lina sambil terus tertawa,, saat lina berkata tentang cowo berkacamata, aku jadi teringat cowo berkacamata yang terlambat saat ospek hari pertama, ahh tapi aku tidak tahu namanya juga hmmm siapa ya.

"hey mel, kamu ngapain" akibat lamunanku aku dibangunkan lina karena dosen telah memasuki ruang kelas. Tapi tak ku hiraukan dosenku, aku masih memikirkan cowo berkacamata yang terlambat ospek itu.

Hari ini terasa sangat panjang, karena jadwal kuliah yang padat, tugas yang tak kurang ikut membuatku penat. Pulang kuliah pun masih disibukkan dengan seleksi organisasi, yupss,, hari ini adalah jadwal wawancara HMA. Kami para calon OC dikumpulkan disebuah ruang kelas, sambil menunggu giliran dipanggil untuk wawancara.

Kali ini aku duduk disebelah Reva, teman sekelas yang kebetulan sama-sama ikut HMA juga, kami mengobrol banyak hal, dan kemudian kakak senior datang mengumumkan anak yang pertama kali mulai untuk interview,

"yang bernama Rio silahkan ikuti kak Vera menuju tempat interview" suara kak Disty memecah keheningan kelas, dia memanggil seseorang bernama Rio, sejujurnya begitu banyak anak yang belum aku kenal, dan salah satunya Rio, ku amati sekeliling kelas dan tampak anak berkaca mata yang pernah terlambat ospek datang mengikuti kak Vera menuju tempat interview.

"itu yang namanya Rio?" tanyaku pada Reva, "iya, dia namanya Rio, dia dulu teman satu kelompok waktu ospek sama aku" jawab Reva. "dia anak mana?" tanya ku kembali pada Reva, "hmm kurang tau sih mana, tapi dia pernah bilang kalo pulang selalu naik kereta" jawab Reva kembali. Aku jadi teringat cerita Lina, entang cowok berkaca mata yang ikut HMA juga, apakah itu Rio ya, tapi ku akui dia memang lumayan manis.

Interview HMA berjalan sampai malam, setelah sholat maghrib di masjid kampus, aku bergegas pulang, sambil terus ku amati Rio yang asyik mengobrol dengan temannya, dari logatnya ku simpulkan dia satu daerah denganku.

Keesokan harinya aku bertemu kembali dengan Rio di parkiran kampus, dia menyapaku, dan hari itu kami mengobrol tentang interview HMA semalam. Dari kejauhan nampak Lina baru datang, Lina memang ngekost di belakang kampus, sehingga cukup jalan kaki saja dan tak butuh waktu lama untuk sampai ke kampus.

"hai Mel" teriak Lina menyapaku, akhirnya percakapanku dan Rio pun arus selesai, kami berpisah dan aku menghampiri Lina. "hai Lin" sapaku pada Lina. "ehh, kamu sudah kenal dengan cowok yang kuceritakan kemarin?"tanya Lina. "Oh Rio, baru kenal seh, itu pun gegara acara HMA kemarin" jawabku, " dia cakep kan?" tanya Lina, "iya seh, dia manis dan baik" jawabku sambil tersenyum.

Semakin sering bertemu di acara HMA, pertemuanku dengan Rio semakin intens, sampai akhirnya ku ketahui bahwa Lina menaruh perasaan pada Rio. Lina memintaku menjadi mak comblangnya dengan Rio, sebagai sahabat yang baik ku ikuti sarannya, ku dekati Rio untuk menjodohkannya dengan sahabatku Lina. Tapi cinta berkata lain, aku jatuh cinta pada Rio, kami pun jadian tanpa sepengetahuan Lina sahabatku.

"kamu gimana seh, kenapa kamu yang malah jadian? Kenapa ga bilang aja dari awal? Tanya Lina, saat akhirnya aku harus mengakui hubunganku dengan Rio. Aku hanya terdiam, bingung mau menjawab apa. Aku telah melukai hati sahabatku sendiri. Dan pada akhirnya Lina harus mengakui bahwa cinta tidak boleh dipaksa, dan dia merelakan Rio untukku.

Seringnya kami bertemu dalam kegiatan HMA, membuat hubungan kami tidak berjalan mulus, putus nyambung, apalagi ditambah kepopuleranku di kampus melebihi Rio, membuatnya semakin kecil dibandingkan diriku, di luar itu semua aku tetap sayang dengan Rio.