Hai kamu, seorang teman baru yang perlahan datang dalam hidupku. Seorang yang aku kenal berjiwa introvert, penyendiri, penyuka seni, dan kutu buku.

Aku ucapkan selamat datang sekaligus terima kasih telah sudi hadir dalam hidupku. Aku, seorang yang "sebelas dua belas" memiliki penilaian yang sama sepertimu. Di mata sebagian besar teman-temanku, aku adalah orang yang kelewat introvert, suka menyendiri, penyuka seni, dan maniak buku.

Aku akui, aku memang tipikal orang yang seringkali memendam perasaan. Apapun yang aku rasakan, selama hal itu tak penting untuk diketahui orang lain, tak akan pernah aku 'publikasikan'. Walaupun terkadang aku tak kuasa menahan beban yang aku rasakan, namun hati kecilku tetap enggan untuk mengungkapkan. Lebih baik aku simpan rapi, dalam hati.

Selain itu, aku juga suka menyendiri. Karena bagiku menyendiri itu membuatku merasa tenang dan nyaman. Sendiri mengajarkanku untuk lebih memahami dan merenungi arti dari sebuah kehidupan. Sendiri mengajarkanku arti dari sebuah kepekaan batin untuk selalu ingat terhadap kematian. Sendiri terkadang mampu menjadi jurus jitu bagiku untuk selalu menyadari akan kehadiran Tuhan.

Meskipun begitu aku bukan berarti orang yang anti sosial. Sudah fitrah manusia, jika dirinya adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dengan orang lain. Sekuat apapun orang menyendiri, tidak dapat dipungkiri ia butuh mitra berkomunikasi. Ia butuh mengutarakan apa yang ia rasa dalam hati. Begitupun aku dan kamu.

Advertisement

Mungkin ini memang rencana indah yang telah dirancang Tuhan untuk hamba-Nya. Mempertemukan dua manusia yang dianugerahi karakter dan kegemaran yang sama. Sebagai seorang yang introvert dan penyendiri, aku merasa tidak bisa nyambung ketika berkomunikasi dengan sembarang orang, apalagi orang yang baru aku kenal. Hal itu memang sempat terjadi saat awal aku bertemu denganmu. Hening, hampir tak ada yang dibicarakan.

Lama-lama, kita mulai berbicara. Mendiskusikan hal-hal yang terkait dengan seni, dan buku tentunya. Diskusi kita berjalan aman, meskipun tak jarang menimbulkan perdebatan. Jika sudah asyik membahas kedua topik itu, serasa tak ada bahasan lain di dunia. Bisa jadi pernyataan itu terkesan hiperbola. Namun begitulah kenyataannya

Kita seakan memiliki waktu yang tak terhingga dan dengan leluasa bercerita ria. Waktu berbagi seperti inilah yang mungkin selama ini aku tunggu-tunggu, bahkan mungkin kamu pun juga begitu. Tak kusangka sebelumnya, di sela-sela obrolan ringan yang menyenangkan ini terlihat sinyal-sinyal yang jika dibiarkan mungkin akan menimbulkan istilah baper atau bawa perasaaan.

Awalnya biasa saja, ketika kamu mulai menampakkan perhatian-perhatian kecilmu itu kepadaku. Hal yang wajar dalam sebuah hubungan pertemanan. Aku menguatkan diri, meyakini bahwa ini adalah hal biasa dan tak seharusnya aku pikirkan. Lambat laun, seolah perasaan ini berontak saat aku mencoba untuk mengendalikannya.

Bukan karena aku merasa ke GR-an

Sebisa mungkin aku mencoba berpikir positif, bahwa begitulah caramu memberikan suatu perhatian kepada seorang teman

Tetapi, kamu terkesan memberiku harapan

Jika kamu tak keberatan, maafkan aku yang kini mulai merasa nyaman atas perhatian-perhatianmu itu.