Yang namanya cinta, emang sulit buat ditebak. Maunya apa, ceritanya gimana, entah itu lah cinta. Ketika semua terasa indah saat bersama kamu, menjadi alasan yang buat aku selalu pengen senyum. Ibaratnya, seperti dimana ada fajar yang menyapa pagi,disitulah ada mega yang menutup senja.

Dan itulah kamu, Menjadi penyemangat tersendiri ketika masalah dateng seperti petir yang meraum. Menjadi "badut hati" yang menjadikan hari terasa sesak dengan tawa. Menjadi penghangat saat dingin merasuk menjadi duri ketika keluarga di jauh sana, dan menjadi musuh ketika amarah sudah berada dipuncaknya.

saat kamu meminta untuk merubah cerita, aku tidak bisa mengungkap apa-apa. Serasa ada yang menumpuk dikepala. Membayang bayang semua yang telah dilakukan bersama, yang terangkai dalam satu ikat bunga yang menjadi saksinya. Serasa berat untuk menahan air mata, tumpah dan meruah. Aku, entahlah mungkin sulit buat aku.

Mungkin memang niat kamu baik untuk merubah cerita. Bukan untuk pergi, tapi untuk memperbaiki. Bukan tentang kita, tetapi tentang aku, kamu, dan Pencipta. Merubah hubungan yang lebih indah untuk-Nya. Yang terpenting menurutmu, komitmen yang terjaga untuk selalu melangkah bersama untuk mendapat ridho-Nya, membangun masa depan yang cerah, memberi kebanggaan orangtua setelah usaha terbayarkan ketika lulusan nanti, dan membangun keluarga yang membawa kita ke surga.

Aku tidak mempermasalahkan itu, sungguh. Hanya saja aku merasa semua mulai berbeda. Mungkin, memang aku belum terbiasa. Karena sesungguhnya aku memang susah untuk terbiasa. Aku terlalu takut, sangat terlalu takut kehilangan semua tentang aku dan kamu. Aku belum terbiasa dengan cerita yang mulai berbeda. Rasaku, sayangku, terlalu buat kamu. Aku tidak ingin kehilangan semuanya dari kamu. Ya, aku memang egois. Tapi beginilah aku, yang mencintai kamu dengan tulus.

Advertisement

Memang butuh waktu untuk menyesuaikan cerita yang baru. Aku percaya kamu dengan komitmen kamu untuk kita, cerita kita. Dan aku sangat percaya dengan semua keajaiban Sang Pencipta, yang memberi rasa dan semoga tetap menjaga rasa. Meski berat menerima, ya aku bisa apa. Maaf untuk semuanya, dan sekali lagi maaf karena aku belum terbiasa dengan cerita kita yang telah berbeda. Yang perlu kamu tau, dalam doaku kepada-Nya, selalu terselip nama kamu dengan segala pengharapan untuk kita. Love you..