Breakup Journal

Kemarin mungkin anda yang berjalan meninggalkan saya, tapi dapat saya pastikan bahwa suatu hari nanti saya akan berjalan melampaui anda

Kalimat di atas mengawali cerita tentang break up yang akan saya share disini.

Kami sangat bahagia pada saat itu,mungkin lebih tepatnya saya, karena apa yang dipandang di mata belum tentu selaras dengan yang ada di hati.

Pertemuan kami terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika retret kolese di Bogor. Sejak pertama memandang dia saya merasa ada sesuatu yang berbeda. Suatu gelombang yang tak bisa dijelaskan dengan hanya sekedar kata. Lalu, kami berjabat tangan, tapi tak saling berkenalan. Saya hanya merasa aneh, dan bertanya – tanya, siapakah dia ini, karena dia belum ada di retret season pertama dulu. Lho, kenapa juga masuk mobil, dan pergi bersama ke Bogor, baru saya tahu dia peserta juga ketika sampai di tempat tujuan.

Advertisement

Beberapa hal kami kerjakan bersama, baru saya tahu namanya. Kami berkenalan, saling bercerita satu sama lain, dan saya tahu kalau nenek kakeknya berasal dari Klaten, tempat asal saya juga.

Tanpa disengaja pula kami satu kelompok sharing, lalu saya sering memperhatikan dia, menyimak cerita – cerita yang dia bagi. Sejak saat itu saya merasa dia adalah orang yang baik.

Kami tidak banyak mengobrol saat itu, karena peraturan retret mengharuskan kami untuk tidak terlalu banyak saling bicara. Sampai pada suatu ketika, pembimbing retret menyuruh dia menunjuk satu ayat di alkitab untuk dibacakan oleh seorang wanita dan dia menunjuk saya. Lho kenapa saya jadi berbunga – bunga, aneh memang. Lalu setelah itu baru kami sering saling menyapa satu sama lain, juga ketika kami berjalan bersama ke ruang pertemuan untuk mengambilkan makanan ringan untuk rekan – rekan yang lain.

Saya rasa dia adalah pribadi yang baik, hangat dan menyenangkan.

Masa retret habis dan membuat kami harus berpisah. Saya kira semua selesai sampai disitu. Nyatanya tidak, kami saling berkabar tapi saya tidak mau terlalu berlebihan karena saya tahu pada saat itu dia memiliki kekasih. Saya tahu saya egois, saya berdoa meminta kepada Tuhan untuk mendekatkan saya dengannya. Dan benarlah, saya dengar dia sendiri sekarang. Lalu kami dekat dan pacaran. Walaupun baru sekali kami bertemu. Saya sadar saya telah membuat kesalahan. Saya terlalu terjerumus ke dalam rasa ingin saya, dan melupakan esensi dasar dari sebuah hubungan.

Kami menjalani pacaran jarak jauh. Awalnya semua serasa mudah, hanya saja rasa rindu yang terkadang datang menderu, begitu hebat sampai sakitnya laksana tertusuk sembilu.

Dan setiap pertemuan adalah obat penghilang rasa rindu itu.

Setelah begitu banyak hari kami lalui bersama dengan rutinitas yang sama yakni bagaikan pacaran dengan kabel telepon, menjadikan stasiun sebagai tempat paling romantis. Tempat pertama melepas rindu setelah lama tak bertemu.

Namun semua berlalu bagaikan tersapu angin taufan. Ketika itu awal Maret tiba – tiba dia menghubungi saya dan mengatakan bahwa hubungan ini tak bisa lagi berlanjut karena tidak ada restu dari orang tuanya. Apa?? mengejutkan bukan. Ini terjadi bahkan setelah kami saling berkenalan dengan orang tua masing – masing, dan saya rasa semua baik – baik saja diawal. Saya masih ngotot bahwa ini tidak bisa saya terima. Tengoklah ke belakang sudah seberapa jauh kita berjalan. Seberapa lama kamu dan aku berubah menjadi kita. Sudah kukatakan pula kepadamu, mari kita selesaikan masalah ini bersama, kamu dan aku, tapi apa, kamu malah lebih sering mengumbar ke sosial media membuat keadaan ini dimanfaatkan oleh orang lain, but it's ok. Saya sudah mencoba berbagai cara untuk mempertahankan hubungan ini, tapi apa, anda malah memilih kembali ke pelukan sang mantan. Oh ya monggo, baru setelah itu saya harus menerima bahwa it's over, semua sudah selesai.

Perkara putus cinta bukan sekali dua kali saya alami, yang bubar karena perselingkuhan, tidak direstui orang tua, atau hanya karena masalah sepele.

Langit melepas hujan, daun jatuh dilepas dahan, melepas bukan berarti berhenti berjuang, untuk bahagia tak perlu dibodohi cinta.

Saya melakukan kesalahan ketika menjalin ikatan dengan dia, begitu banyak sahabat dan dunia sekitar yang terabaikan karena saya terlalu sering sibuk dengan handphone, entah untuk saling bertukar kabar atau mengirim pesan rindu. Sekarang mereka (para sahabat dan keluarga) yang dulu terabaikan justru adalah yang selalu ada di sisi saya ketika saya mengalami fase terpuruk dalam hidup saya.

Sahabat adalah sebelah sayap yang membantumu terbang, mereka adalah pundak tempatmu bersandar kala luka, tempat berbagi segala keadaan (Peyempuan)

Aku memberi yang aku ada, berbuat yang aku bisa. Aku menggembirai diriku dengan begitu, atau adakah piala yang harus kumenangkan?(Zarry Hendrik)

Intinya toh selama kita bersama – sama saya telah melakukan yang terbaik, sisanya saya serahkan kepada Tuhan. Saya tidak pernah menyerah, tetapi berserah menjadi pilihan yang saya ambil.

Memiliki kebahagiaan bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan airmata untuk menyirami toleransi , menggunakan kehilangan untuk lebih memantapkan kesabaran, kegagalan untuk mengukir ketenangan hati, penderitaan untuk dijadikan landasan kenikmatan, kesulitan untuk membuka jendela kecerdasan (Paus Fransiskus)

Saat kamu mematahkan hatiku, saat kamu mengkhinati kepercayaanku, aku hanya bisa tersenyum. Terima kasih atas waktunya, terima kasih atas pelajarannya, aku tak akan lagi sembarang jatuh cinta. (Peyempuan)