Tatkala melihat sepasang kekasih bergandengan tangan mesra, atau dengan eratnya berboncengan, tak dipungkiri terbesit rasa iri.

Iri dengan kebersamaan itu. Sementara kita, harus terpisah ribuan mil jauhnya. Sungguh rasa iri kadang memuncak manakala menyadari kapan jemari kita bisa bergandengan erat seperti mereka?

Selama ini kita hanya bisa bersua via gawai. Ucapan selamat pagi hingga selamat tidur selalu teriring diantara kesibukan kita masing-masing. Sesibuk apapun pekerjaanku, saat mendengar suara chat darimu berbunyi, semua perhatian akan ku alihkan padamu.

Sesederhana apapun kalimatmu, bagiku sangat indah melebihi kata kata pujangga sekalipun.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana kalimat sapaanmu. Karena buat kita, komunikasi adalah nyawa dari hubungan yang menomorsatukan kepercayaan. Tak perlu kata kata indah dan pujianmu, saat kamu bertanya “How’s your day?” saja, aku bahagia. Dan aku merasa uring-uringan manakala kamu terlambat membalas chat-ku. Namun, itulah konsekuensi dari hubungan jarak jauh. Dan selama ini kita bisa menikmatinya.

Advertisement

***

Menjalani dan menikmatinya. Itulah yang harus kita lakukan. Menjalaninya dengan ikhlas dan saling percaya. Sulit memang, namun bukankah ini hanya sementara? Suatu saat nanti, saat kita sudah bertemu kembali, kita pasti merindukan saat seperti ini. Saat di mana semua momen hanya bisa kita lihat lewat foto dan video masing-masing. Saat tawa kita hanya bisa terlihat dan terdengar via layar gawai. Saat gawai menjadi merpati pos kita.

Percayalah. Suatu saat kita akan merindukan momen seperti ini. Maka, nikmatilah setiap jengkal jarak ini dengan ikhlas. Karena bahagia itu pilihan. Saat kita memilih untuk menikmati setiap proses dari skenario-Nya, di situlah kebahagiaan terasa.