Saya sangat serius mendengarkan cerita seorang sahabat yang berencana untuk melihat langsung upacara nyobeng di sebuah desa yang jauh didekat perbatasan Malaysia-Indonesia. “Kamu harus kesana! Tempatnya bagus, Rumah adatnya beda, pakaian adatnya beda dan yang penting bisa liat panjat bambu terbalik belum lagi ada ritual cuci tengkorak kepala”. Semuanya sangat menarik untuk diulik. Saya sungguh penasaran untuk datang. Tapi diakhir cerita, teman saya berkata bahwa untuk menuju kesana paling tidak harus menempuh perjalanan 8-10 jam menggunakan kendaraan roda dua. Mobil tidak melewati jalan ini. Apalagi kalau hujan. Saya bukannya mundur, malah semakin berniat untuk pergi kesana.

Petualangan Eksplore Sebujit dimulai!

Semua perlengkapan sudah saya siapkan mulai dari senter kecil, lotion anti nyamuk, pakaian secukupnya dan kamera, tidak lupa beberapa powerbank yang sudah terisi penuh. Perjalanan bermula pagi hari untuk menghindari hujan. Pukul delapan pagi perjalanan kami dimulai dari Pontianak menuju Bengkayang. Kecepatan kendaraan 80-100 km/jam. Jalan yang cukup mulus membuat kami lebih gampang melewatinya. Berlanjut lagi menuju Seluas melewati Sanggau Ledo sekitar dua jam perjalanan. Dari sana saya masih dimanjakan dengan jalan lurus dan mulus menuju Simpang Takek. Sampai disini kami sudah melewati 209 Kilometer

Walaupun mulus, perjalanan enam jam ini benar melelahkan. Terlalu lama duduk membuat engsel pinggang hampir lepas. Kami berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar, meluruskan pinggang dan tentu saja makan siang. Sesuatu yang terlupakan akibat harus berpacu dengan waktu karena khawatir kehujanan dijalan.

“Sebentar lagi sampai kok, tinggal 18 kilometer. Tapi inilah perjalanan kita yang sebenarnya. Medannya Offroad Men”. Ujar seorang teman sekaligus pemandu. Saya yang tadinya sudah berwajah sumringah langsung berubah kuyu.

Advertisement

Peregangan punggung yang barusan terasa nyaman tiba-tiba langsung menjadi kaku kembali. Sementara itu diujung langit, mendung menggelayut seperti mau runtuh. Kembali teman saya mengatakan untuk cepat melanjutkan perjalanan karena jika hujan, jalan tidak bisa dilewati. Saya bergidik ngeri, seperti apakah perjalanan yang “sebenarnya” itu. Kami terus berpacu dengan waktu.

Mungkin inilah yang namanya melewati lembah, melompati jurang dan menyeberangi sungai. Awalnya melewati jalan pasir batu, jika tidak hati-hati ban sepeda motor bisa saja terpeleset dan membuat pengendara terjatuh jika tidak seimbang. Batu kerikil tajam ini bisa saja terpelanting menghantam wajah. Pastikan kaca helm terpasang dengan baik. Jangan sampai terjatuh karena batu kerikil ini sangat tajam bisa melukai tubuh. Saya terus bersemangat bersama gank penjelajah nusantara. Semangat terus terbakar hingga sampai akhir.

Perjalanan ini memakan waktu 2 jam, bahu membahu saling bekerjasama jika ada motor yang tiba-tiba tidak bisa jalan terperosok ke dalam lubang atau motor yang tidak mampu mendaki karena beban yang berat maka beban yang akan dialihkan ke motor lain. Sampai akhirnya kami melewati satu jembatan kecil terakhir dan satu tanjakan yang cukup tinggi. Pintu gerbang penyambutan terpampang nyata. Terlalu bahagia untuk diungkapkan. Perjalanan ini seperti terbayang lunas! Iya, Lunas!

Sejuta Makna di Kampung Sebujit

Begitu sampai, kami berdelapan langsung menuju homestay yang sudah dipesan sebelumnya. Rumah pak Walima yang sangat ramah. Begitu dipersilakan masuk, serempak kami tergeletak meluruskan pinggang. Otot dan tulang sepertinya sudah tidak singkron lagi. Hujanpun langsung turun dan kamipun dipersilakan makan malam, sederhana ala kampung tapi sungguh lezat. Malam ini sungguh dingin, hujan turun dari sore hingga 10 malam. Kami berdelapan memang diberi kesempatan untuk istirahat penuh karena esok pukul 5 pagi acara nyobeng akan di mulai. Kami semua harus bangun pagi agar tidak ada momen yang terlewatkan.

Nyobeng yang berpusat di dusun Hlu Buei, desa Sebujit, kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Nyobeng sendiri berasal dari kata Nibakng yang merupakan ritual adat ucapan syukur atas panen berlimpah dan juga ritual memandikan kepala hasil “ngayau” dulu. Ngayau merupakan tradisi perang dan mengambil kepala musuh untuk di bawa pulang ke desa sebagai bukti kemenangan. Sesampai di kampung biasanya akan diadakan ritual penyambutan, setelah itu kepala akan disimpan di atas bambu yang ada disebelah balug, kemudian para pejuang akan memanjat bambu dengan posisi terbalik untuk menunjukkan kekuatan mereka. Setelah itu, kepala akan di simpan di kotak kayu. Kotak kayu akan disimpan diatas bumbung balug. Kepala ini di yakini akan menjadi penjaga kampung serta harus dimandikan dan di beri sesaji sebagai bentuk penghormatan setiap tahunnya.

Nyobeng berlangsung selama tiga hari dan selalu dilaksanakan tanggal 15-17 Juni setiap tahunnya. Selama 3 hari ini akan ada berbagai macam ritual yang diadakan. Lokasi pelaksanaan ritual adat ini dilakukan di rumah adat bernama Balug. Umumnya rumah adat Dayak berbentuk betang panjang yang satu ini berbentuk limas dan membumbung keatas setinggi 20 meter. Didalamnya terdapat semacam bedug sepanjang 9 meter yang digunakan sebagai alat bunyi ritual dan ada 3 tingkat tersusun dalam Balug. Tidak semua orang bisa menjejakkan kaki ke tiap tingkatan. Di bagian paling atas terdapat para-para untuk menyimpan kotak berisi tengkorak kepala manusia.

Saat Nyobeng biasanya semua orang kampung mulai dari Sebujit atas, tengah dan daerah sekitar Bengkayang juga hadir. Semuanya bergembira dan menikmati acara ini. Tidak hanya dari Indonesia, Penduduk kampung Sebujit juga mengundang tamu serumpun dari suku dayak Bidayuh Bau, Pandang Pan, Sarawak Malaysia. Kabarnya untuk mencapai desa ini, mereka harus berjalan kaki sekitar 5-6 jam. Tahun ini terlihat juga seorang seorang turis wanita dari Australia yang ikut bersama tamu dari Malaysia.

Kami bergembira dan menyimak dengan seksama semua tahapan acara, Pukul 5 pagi, ritual pemanggilan roh sudah di mulai. Merinding bercampur rasa ingin tahu kami mengikuti hingga proses penyambutan tamu, pencucian tengkorak kepala, tolak bala di kampung, penyembuhan penyakit masal hingga keesokan harinya di tutup dengan ritual mengantarkan tamu pulang dan roh leluhur serta menutup Balug. Nyobeng juga tidak luput dengan makanan dan minuman. Semua makanan dan minuman tradisional yang tidak muncul sehari-hari kembali disajikan. Saya dan teman-teman merasa inilah kenikmatan yang melengkapi perjalanan wisata sekaligus budaya langka ini, salain itu perjalanan kali ini benar-benar melatih kekompakan kami.

Setelah 3 hari acara berakhir, kamipun berpamitan dengan seluruh penduduk kampung dan mengucapkan terimakasih tidak terhingga. Sebelum pulang ke Pontianak tidak lupa mampir ke kilometer 0 perbatasan Indonesia – Malaysia di Jagoi Babang yang hanya berjarak kurang lebih 30 menit perjalanan dari simpang Merendeng. Perjalanan ini membuat kami semakin mencintai Indonesia. Persahabatan semakin kuat dan cinta Indonesia semakin bertumbuh. #IniPlesirku, kamu?