Karena pada akhirnya semua akan meninggalkan

Entah kita akan dipisahkan dengan orang yang baru kita kenal

Entah kita akan dipisahkan dengan orang yang kita sayangi

Entah kita akan dipisahkan sekalipun dengan orang yang telah lama menamani kita sampai detik ini

Kepada tuan yang pernah membuat hariku lebih berwarna

Advertisement

Akhirnya kau berhasil mematahkan hatiku yang baru sembuh

Perlu kau tau, aku berjuang setengah mati untuk tetap bertahan sejauh ini, delapan bulan lamanya aku mencoba untuk mengikhlaskan kisah empat tahun itu

Semua salahku, aku yang terlalu dini mengartikan semua kehadiranmu

Aku yang terlalu cepat memupukkan rasa itu

Aku yang terlalu egois untuk bisa bersamamu

Kepada Tuan yang pernah memberiku senyuman itu

Satu lagi pelajaran untukku yang aku dapat dari kedekatan kita

Aah harusnya kau tak perlu terburu – buru mengatakan kejujuran itu secepat ini

Kau tau Tuan, aku saja sedang dibuat kalang kabut dengan konsentrasi apa yang akan aku ambil untuk melengkapi skripsiku

Belum lagi kondisi badanku yang akhir – akhir ini sedang tidak dalam keadaan baik

Tapi tiba – tiba kau datang membalas chatku dan mengatakan semuanya

Tuan, percayalah hatiku tidak sekuat itu untuk mengartikan maksud dari tiap kata yang kau tulis

Iya aku mengerti dan sebisa mungkin aku mencoba untuk menerima semua perkataanmu

Tapi saat ini kau sedang bermain – main dengan hati Tuan, yang sekalinya kau patahkan akan terasa sulit untuk menyembuhkannya lagi

Tuan, setelah ini apa yang harus aku lakukan ? melanjutkan hariku seperti biasa ? sudah tentu aku akan berusaha. Menyembunyikan semua kesedihanku dari orang – orang disekelilingku ? akan aku coba. Atau aku harus melupakanmu segera ? Tuan, aku mohon untuk yang terakhir aku tidak bisa menjamin aku bisa melakukannya dengan segera.

Seandainya kau tau Tuan, aku tak pernah meminta kau untuk lebih dari sekedar sosok yang kemarin

Karena bagiku kehadiranmu saja sudah bisa membuat aku lupa dengan sosok orang yang terlebih dulu mengecewakanku sebelum kau juga memilih untuk mengecewakanku.

Tuan, belakangan aku terlalu sibuk merapal namamu dalam percakapanku dengan Tuhanku hingga aku lupa kalau di ujung sana kau tak pernah sedetikpun merapalkan namaku dengan Tuhanmu

Tuan, harusnya kau tak perlu repot-repot memberiku kenyamanan kalau akhirnya aku akan kau patahkan

Harusnya kau tak perlu bersusah payah membuatku terbiasa dengan semua sikapmu kalau pada akhirnya aku akan kau tinggalkan

Aku yang kau patahkan setelah kau beri kenyamanan