Sembilan purnama berlalu semenjak aku mengenalmu. Dekat denganmu mampu membuatku bertanya, "Apakah ini yang dinamakan cinta?"

Pada suatu sore, ketika aku berdiri di sebelah gerbang sekolah mengunggu angkutan. Kau datang menghampiriku. Kala itu hatiku berdetak tak karuan. Tubuhku terasa lemas. Dan aku tak apa yang harus aku lakukan.

Kau menyapaku dengan senyum manismu. Sedangkan aku membalas sapaanmu dengan gagu. Kau datang padaku dan mengajakku bercerita. Mesti ada rasa canggung saat itu. Namun, aku berusaha untuk biasa saja. Kau yang lebih banyak bercerita daripada aku. Dengan seksama aku juga memperhatikan ekspresi wajahmu saat bercerita. Dan dengan tekun aku mendengarkan setiap kata yang kau ucapkan. Suaramu mengalun lembut seperti nyanyian seriosa di telingaku

Sampai pada satu kalimat kau berhenti bercerita dan kau menatapku. Aku segera memalingkan pandangan. Berusaha mengalihkan perhatianmu

“Eh, lihat itu. Langitnya indah.” aku menunjuk ke arah langit bagian barat.

Advertisement

Dengan cepat kau palingkan pandanganmu ke arah di mana matahari akan beristirahat.

“Wah! Indah. Kau tahu aku sangat suka dengan senja.” katamu dengan kagum.

Aku menatapmu lalu tersenyum. Ternyata kau juga menyukai senja, batinku.

Sebentar aku lemparkan pandanganku pada ufuk barat. Kemudian aku kembali menatapmu. Mengamati wajahmu dengan kagum. Kamu benar-benar sempurna. Aku mulai berfikir, “Kau lebih indah daripada senja.”

Suara klakson membuyarkan kekagumanku. Aku menatap ke arah suara itu berasal. Aku tersenyum melihatnya. Aku memalingkan pandangan padamu. Mata kita bertemu. Kau tersenyum padaku. Aku pun begitu. Kau berjalan ke arahku dan kembali mengelus rambutku dan kali ini aku hanya diam. Kemudian kau menghampiri seorang lelaki yang bersandar pada sepeda motornya tak jauh dari kita.

Tak lama kemudian kau tersenyum kemudian kau berlalu bersamanya. Aku tersenyum melihat kepergianmu.

Jika ditanya lagi, “Apa ini yang dinamakan cinta?”

Aku akan menjawab, “Iya. Ini yang dinamakan cinta, melihatmu saja sudah membuatku bahagia. Dan tentang cintaku padamu, akan lebih indah jika hanya aku dan senja yang tahu.”

Aku pun berlalu seiring dengan tuanya hari itu.