Aku ingat toko buku di sudut jalan itu, di sebelah traffic light. Aku juga ingat warung kopi di pinggir jalan menuju rumahmu, aku pernah mecicip secangkir kopi di sana. Ada satu hal lagi yang selalu ku ingat, saat aku pertama bertemu denganmu, di ruang makan, tiga kali aku bertanya namamu, konyol.

Toko buku di sudut jalan itu masih sering aku kunjungi, sekedar melihat-lihat tanpa mencomot. Kalau kamu bilang, aku suka dengan bau buku baru. Kenyataanya begitu, baunya memgalahkan bunga atau parfum terharum. Herannya kamu selalu suka tiap ku ajak ke toko buku itu, bukan buku yang kamu cari, tapi barang-barang unik, lucu dan menggemaskan. Setelah melihatnya kamu tersenyum padaku, seminggu kemudian aku bawa barang itu ke kamu, sambil bawa buku baru tentunya yang di dalamnya tertulis "untuk pacar." Kamu tahu, aku pengen diskusi buku itu sebulan setelahnya.

Bapak-bapak berkumis tebal, kalau bikin kopi memang terbaik. Aku suka kopi hitam buatannya. Takarannya pas, tidak terlalu manis, masih ada rasa pahit, dan aroma kopi sangat terasa setelah masuk rongga hidung. Kopi di pinggir jalan menuju rumahmu itu memang bukan favoritku. Tapi tiap gerimis sepulang dari rumahmu, aku mampir. Secangkir kopi, nikmat saat gerimis seperti itu. Kamu pernah dua kali kuajak ketempat itu, pertama kamu canggung. Banyak asap rokok di sana, tapi istri dari bapak penjual kopi bisa menghiburmu, entah apa yang kalian bicarakan saat itu, kalian tertawa. Warung kopi pinggir jalan arah rumahmu itu memang bukan favorit, tapi aku masih suka kesana, sekedar ngopi.

Ruangan biru itu entah masih ada atau tidak. Kabarnya setahun lalu bangunan utama dari tempat itu akan dirubuhkan. Menjadi ajaib kalau ruang makan itu tidak dirobohkan. Aku ingat, kamu duduk mengobrol asik dengan temanmu, entah lupa siapa namanya. Aku berdiri diseberangmu, sok kenal sok dekat dengan temanmu. Tanya mengenai sekolahnya, mengenai teman sekolahnya, dan sedikit mengabaikanmu. Suatu waktu dari obrolanku dengan temanmu itu, aku yang suka iseng bertanya namamu. Bukan sekali, tapi tiga kali, entah kenapa aku bertanya sampai tiga kali, mungkin itu yang dinamakan bolot

Warung kopi, kenapa aku masih kesana. Padahal aku pernah kecewa saat hujan ke rumahmu. Kita sudah janjian, tapi sesampainya aku di rumahmu, kamu tidak ada di rumah, pergi dengan temanmu. Warung kopi, aku kesana setelah kekecewaan itu. Jendela kamarmu aku hafal betul, tidak jauh dari pagar rumahmu. Tiga kali aku memanggil namamu bila tidak ada yang di rumah. Kadang aku coba mengetoknya dari luar, lucu. Tiga kali juga aku memanggil namamu, saat kamu berjalan berpaling setelah mengatakan "Aku tidak bisa lagi sama kamu". Cukup tiga kali aku memanggil namamu, aku tidak melangkah malah memegangi jam tangan kado ulang tahun darimu. Aku membaca sepenggal kalimat dalam buku, "Tiap manusia memiliki rumah, rumah hati manusia adalah pasangannya. Bila yang bersamamu yang lalu sudah tidak bersamamu, bisa berati kamu hanya tempat singgahnya, bukan rumahnya". Sejenak aku berdiam, bukan merenung hanya sedikit mengingat kamu dan kenangan. Kita menemukan ketidaknyamanan yang berbeda, aku mencoba menahannya kamu sedikit berusaha. Patah hati ini anehnya tidak membuatku merobek buku-bukuku, aku hanya diam tak seperti biasanya. Aku tak sepatah hati itu, tapi ada yang aneh, ada yang tertinggal, bukan kenangan, entah apa. Ku buka halaman buku di balik halaman depannya, tidak ada tulisan untuk pacar.