Lampung memiliki segudang obyek wisata yang patut di kunjungi, salah satunya pesona Gunung Anak Krakatau. Gunung ini berada di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatra yang termasuk dalam kawasan cagar alam. Gunung ini dilahirkan tahun 1927, dan masih aktif ber-erupsi. Aku pernah berkesempatan mengunjungi gunung ini melalui ajakan trip perjalanan di bulan November 2014. Trek-nya simple pelabuhan Merak-pelabuhan Bakauheni-Dermaga Canti-Pulau Sebuku-Pulau Sebesi-Gunung Anak Krakatau.

Perjalanan ke Anak Krakatau ditempuh saat hari masih gelap, tujuannya berburu sunrise. Pukul empat subuh kapal sudah mulai melaju memecah ombak dari pulau Sebesi. Tiga puluh menit pertama aku masih antusias berada di kapal, dan kemudian rasa panik ku mendera ketika mendapati air laut mulai menghiasi lantai kapal. Jantung berdebar kencang. Ombak semakin tinggi kapal kian oleng ke kiri seolah-olah mau karam dan tubuh ku mulai terhempas oleh ganasnya ombak. Isi perut mulai naik turun. Aku dibawa dalam perjalanan memabukkan.

Aku coba pejamkan mata tetapi tetap saja tidak mengurangi rasa mual, sesuatu tersangkut di tenggorokan yang memaksa ingin cepat dikeluarkan namun tertahan. Entah mimpi apa aku semalam hingga seseorang lebih dulu memuntahkan sesuatu mengenai rambut ku. Oh tidaaak.

Tangis ku mulai pecah akibat tak tahan dengan situasi ini, ombak laut melebihi tinggi kapal menunjukkan keperkasaannya. Mayoritas manusia yang berada di kapal mabuk laut berjamaah, aku pun mulai tumbang akibat guncangan kapal dan memuntahkan sesuatu. Sejenak ku mulai lelah menangis lalu mengantuk dan akhirnya tertidur.

Aku membuka mata. Kondisi kapal dan ombak mulai bersahabat. Aku amati sekitar, puncak Anak Krakatau terlihat dari kejauhan di balik pulau di sambut dengan mentari pagi di ufuk timur. Lega rasanya tau akan menginjakan kaki di bumi kembali. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Anak Krakatau.

Advertisement

Begitu kapal sandar, semua penumpang kapal langsung turun dan menginjakkan kaki di pasir berwarna hitam yang kelam, dihiasi pohon cemara pantai di pinggirannya menjadi ciri khas tersendiri dari tepian pulau ini. Kami saling menepuki bahu satu sama lain tanda pelayaran penuh mendebarkan itu akhirnya berakhir. Saatnya hiking.

Aku mulai mendaki, sejauh mata memandang terasa mudah untuk mendaki, namun begitu mendaki, terasa cukup berat, karena pasir langsung amblas saat dipijak, kemiringan lereng gunung pun lebih dari 45 derajat. Kurang lebih 40 menit waktu yang diperlukan untuk mendaki hingga puncak pertama Anak Krakatau. Hanya diperbolehkan mendaki sampai titik ini saja karena kandungan belerang yang ada di puncak gunung tersebut berbahaya bagi kesehatan pernafasan.

Begitu sampai di puncaknya, usaha untuk datang kesini, mendaki hingga ke puncak terbayar lunas dengan pemandangan nan menawan dari puncak Anak Krakatau. Hamparan lautan luas dan pulau-pulau disekitar terlihat begitu indahnya, aku bisa melihat pecahan Krakatau Purba seperti Pulau Sertung dan Pulau Rakata. Aku menikmati suguhan dari Tuhan yang sangat luar biasa ini ditemani hembusan angin yang bertiup cukup kuat.

Pengalaman memabukkan ini, saat menjejakkan kaki di Gunung Anak Krakatau yang pernah membuat heboh benua Eropa karena abu vulkanisnya ini, sungguh tidak bisa terbayarkan oleh rupiah. Suguhan wisata alam yang tiada duanya di Indonesia dan memberikan ruang baru di hati ku. Sungguh #IniPlesirku yang memabukkan untuk ke-2 kalinya di Gunung Anak Krakatau.