Tanpa ku sadari, ternyata langkah kaki ku telah membawaku kembali ke tempat ini. Suara gemeruhnya menyambutku dan dapat ku rasakan sepoian pelukan dari mereka yang membuat ku merasakan satu kenyamanan di hati, ya…perasaan tenang dan membuatku melepaskan segala pikir ku. Sejauh mata memandang yang ku lihat hanya mereka dan tanpa ku sadari mereka membuat ku mengangkat pipi ku dengan pelan, mereka membuat senyuman kecil menghiasi pipi ku.

Kedua tangan ku memeluk diriku, ayunan kaki semakin jauh membawaku, semakin jauh pula pikiran ku tenggelam layaknya arus yang mengalir seperti ini juga memori ku dibawa mengingat kembali perasaan manis yang tak dapat aku ungkapkan namun ingin ku rasakan kembali. Rasa-rasanya aku ingin kembali ke masa saat itu bersama mereka, tidak.. bukan untuk menjadi diriku pada masa itu, tapi aku ingin melihat kembali bagaimana keindahan saat itu. Yah! hanya sebagai penonton. Penonton yang melihat bagaimana indahnya perhiasan termahal menghiasi diri kami, khususnya diri ku.

Senyuman yang tak dapat aku lupakan, ketika aku tahu dia juga di sana bersama kami. Dia yang memikat mata ku, membuat mata ku selalu mencari dia dan membuat aku ingin selalu bersama dia.

Masih belum ku lupakan bagaimana canda tawa manis dari wajah kami. Perasaan tanpa beban, perasaan seperti tidak akan pernah kehilangan.

Pikiran ku semakin terhisap semakin dalam –dalam bayangku sendiri tanpa mu- seperti masuk ke laci-laci dalam pikiran ku membongkar semua yang ada di dalamnya, dan sampailah aku di laci yang membuat dada ku sesak, ingin ku menutupnya tapi aku mencoba memberanikan diri membukanya.

Advertisement

Aku di bawa ke dalamnya, angin pantai yang sejuk ditemani sang bulan yang terang ditambah dengan alunan indah dari suara ombak. Aku melihat kami berada disana berjalan bersama.

“Ku rasa aku takut gelap “, kata ku pada diriku sendiri.

Yah.. aku tau sekarang kenapa aku tidak takut, karena ada dirinya yang membuat aku merasa aman.

Ketika bersama dirinya aku tahu ada sebuah pelukan yang tak bersentuhan dari dirinya, yah begitulah dirinya hangat dan penuh cinta. Tak ada kata yang dapat aku katakan ketika bersamanya, hanya ingin diam dalam kenyamanan yang membuat ku semakin ingin dan ingin bersamanya.

Dadaku semakin sesak, aku tak mampu lagi mengingat kenangan itu karena aku akan merindukan pelukan yang tak bersentuhan itu, bahkan jika ia hanya berdiri di samping ku aku dapat merasakan seperti dia memeluk ku dan ada kata yang dia sampaikan, “Kau aman bersamaku”.

Hati ku berteriak, kenapa takdir membawa kami seperti ini. Persahabatan yang berujung dengan cinta yang tak tersampaikan. Aku ingin menjadi “rumah” baginya, ingin dia berbagi bebannya bersamaku. Tapi, apa daya.. aku belajar tak ada yang dapat melawan kebesaranNya. Tak tahu kepada siapa aku dapat bercerita selain dengan sang angin dan gelombang, pendengar bisu yang setia bahwa hanya aku dan dia yang tau perasaan kami, perasaan yang tak tersampaikan ini dan sakit menusuk ku ketika ku tau dia terlambat menyadari bahwa akulah yang dapat menjadi "rumah" untuknya. Bisakah kami memutar waktu? tidak! – meskipun aku berharap dapat – itu berarti kami mengubah ketetapanNya, yang hanya dapat ku terima adalah Dia yang mengijinkan perasaan ini datang tahu yang terbaik bagi kami, meskipun di tempat yang terdalam dan tersembunyi di hati ku, aku ingin aku yang menjadi tempat hangat baginya.

Bukan hatiku tidak pernah menghibur diriku sendiri. Pikirku, “Mungkin keindahan rasa kami hanya diijinkan sampai disini, jika kami bersama akan berbeda cerita dan tidak akan seindah ini dan Dia Sang Pencipta tidak ingin merusaknya karena Dia senang melihat warna kami”.

Tiba-tiba pikiran ku terdiam dan membawa ku kembali sadar tentang keberadaan ku, sang mentari telah terbenam dia mengusirku agar aku segera pergi, sang mentari tak ingin aku membuka laci ku semakin banyak. Buat dirimu yang di sana, banyak laci-laci indah yang ku simpan dan aku berharap dapat membukanya bersama mu suatu hari nanti.

Semakin hari akan ada tumpukan-tumpukan yang banyak masuk ke pikiranku tapi meskipun sakit, sesekali aku akan membuka laci-laci ku agar tidak hilang tertutup oleh debu, aku tak mau ada kenangan yang hilang dari pikiranku karena hanya itu yang aku miliki sekarang. Ada kebahagiaan tersendiri ketika aku mengingat semua kenanganku bersama dia, meskipun perih hanya itu cara untuk tetap menjaga hatiku untuknya. Aku berharap dapat menemukan botol kaca yang berisikan kabar tentangnya dan bagaimana bahagiannya pernikahannya. Aku ingin mendengar bahagiamu ,seperti yang pernah kau katakan kepadaku, kebahagian mu kebahagianku.