Malam itu, ba'da magrib di kampungku, wajib hukumnya bagi kami anak-anak, remaja, dan para pemuda-pemudi untuk mengaji. Dan di kampungku selalu ada pengajian rutin, di rumah pak kyai atau di pondok pesantren. Di sini bukan yang asrama, di kampungku ada ponpes beserta asrama tapi ada juga yang enggak dan orang tua kami selalu menyuruh dan memaksa anak-anaknya mengaji, mendatangi guru ngajinya.

Sampai pada suatu ketika, aku yang masih mungil itu dimulai dari membaca huruf hijaiyyah, alif, ba, ta, tsa, dan seterusnya, lidahku kaku berat dan kelu. Rasanya tak sanggup kuteruskan untuk mengaji. Guruku tak henti-hentinya mengajarkanku sehuruf demi sehuruf, dengan sabarnya. Guru ngajiku tak pernah absen dalam kelas, beliau dengan sabar menunggu dan menanti para murid-muridnya yang bandel.

Dalam diam dan sabarnya, beliau selalu menyiapkan tuding (alat bantu penunjuk papan tulis) dalam genggamannya. Tuding itu selalu siap membenturkan dirinya ke arah papan tulis maupun meja, jika melihat salah satu atau di antara kami, murid-murid yang bandel dan tidak bisa-bisa mengeja huruf hijaiyyah. Satu persatu di antara murid, jika masih belum bisa mengeja huruf hijaiyyah dari alif sampai ya, maka tidak diperbolehkan pulang, Ekstrim memang, walaupun sudah sangat ngantuk yang amat sangat, tetap tidak boleh pulang.

Heranya orangtua kami benar-benar tidak menjemput ataupun curiga, sebab jika kami pulang lebih awal, maka yang ada adalah kita dilaporkan ke guru ngaji kita dan bahkan kita yang kena omelan orangtua. Mungkin, orangtua kita memang sudah mempasrahkan dan menitipkan putra-putrinya untuk dididik oleh guru ngajiku.

Begitu juga dengan teman-teman ngajiku, orangtuanya nyaris sama, kesal dan gondok waktu itu ketika benar-benar sudah amat ngantuk tapi tidak boleh pulang sebelum bisa mengeja huruf hijaiyyah dari alif sampai ya. Waktu itu aku masih SD kelas 1 dan yang membuatku enggan bilang ke orangtua masalah ini adalah guruku diam-diam galaknya minta ampun. Ngaji gak bisa, suruh berdiri dan menghapalkan surat-surat pendek dan tuding-nya selalu menggetarkan meja sehingga kamipun takut, tidak berani berkutik dan toh kalaupun bilang ujung-ujungnya sama pasti malah diomelin orang tua.

Advertisement

Pernah Suatu ketika kejadian aku disuruh baca Al-qur'an, bacaanku tidak benar dan terlalu sering salah, sampai suatu kemudian guruku yang sabar, menggertakkan tuding-nya ke mejaku persis di depanku. Aku ketakutan, aku tetap membaca dan dibenarkan, sambil dibimbing ejaan yang benar oleh guruku. Guruku menggertakkan tudingnya. "Kamu itu serius ngaji atau tidak? Baca Al-Quran itu jangan buat main-main", keras dan galak. Aku tak berani melihat apalagi menatap sedikitpun. Panas dingin, aku ingin sekali menangis, tapi tidak bisa. Dengan sedikit berkaca-kaca mataku, aku teruskan ngajiku sampai selesai. Kubaca pelan-pelan tetapi tetap saja masih salah, akhirnya karena waktu sudah sangat malam, aku diizinkan pulang.

Dalam perjalanan pulang, aku menangis sesegukan dan saat sampai rumahpun aku ditanya, "kamu kenapa pulang ngaji nangis?"

"Heheh, tidak kok," sambil mengusap airmata di pipi, "jatuh tadi di jalan", bohongku pada nenek. Dalam hati aku menyesal berbohong. Kalaupun jujur, pasti yang ada aku tambah diomelin, gara-gara tidak bisa ngaji. Rasanya ingin segera Jadi orang dewasa kala itu.

Aku menangis di kamar sambil terus membaca yang tadi diajarkan oleh guru ngajiku sebab jika besok tidak bisa lagi, bakalan pulang dan disuruh menghafal surat-surat pendek.

Keesokanya, aku dengan pede setoran dan mengulangi bacaan kemaren dan senang sekali guruku tidak marah lagi. Akhirnya bisa pulang lebih awal dan bisa nonton film Angling Darma, film kolosal favorit tahun 90-an.

Semakin ke sini, bacaanku mulai sedikit benar. Tidak terlalu banyak salah, seperti sebelumnya yang benar-benar kelu lidahku. Dan aku akhirnya bisa melewati masa-masa sulit.

Sekolahku sudah lulus, aku melanjutkan sekolahku ke SMP Islam di daerahku. Aku sudah lama pindah ngaji . Aku masuk lagi ngaji di pondok pesantren dan baru menyadari bahwa galaknya guru ngaji terasa sekarang, akhirnya bisa baca Al-Qur'an dengan benar. Alhamdulillah bisa Khatam.

Guru ngajiku Pak Muridan namanya. Beliau rela mengajar tanpa pesangon dan tidak mau menerima sepeserpun, mintanya adalah murinya selamat dunia akhirat.

Tak selamanya guru ngaji galak itu buruk, sebab jika galak tidak didatangkan pada kita, kita belum tahu akan bisa ngaji atau tidak. Terima kasih guruku, engkaulah pahlawan sejatiku, guru tanpa tanda jasa.