Bolehkah aku bercerita? Ini tentang perasaan sesama wanita.

Bagiku hidup adalah sebuah keputusan, setiap hal harus diputuskan dalam hidup sekarang ataupun nanti tetap harus diputuskan. Demikian pula dengan hidupku. Aku mencoba untuk mengambil sebuah keputusan tentang cinta setelah beberapa kali aku mengalami luka karenanya. Bahkan aku hampir tidak mempercayai cinta lagi ketika pahit yang selalu aku rasakan. Namun, setelah aku menyadari arti cinta yang sesungguhnya, bahkan untuk menjawab sebuah pertanyaan yang bagiku sulit ketika itu kini menjadi mudah.

we can love without expecting anything?”

“yes!”

Aku dapat menjawabnya dengan mudah tanpa ragu–ragu. Untuk itu aku mulai membuka diriku kembali, bukan berarti aku menjadi mudah menerima ungkapan cinta seseorang, hanya saja aku lebih bisa mengartikan cinta secara luas dan ternyata bukan cinta yang membuat ludahku pahit. Sesungguhnya menerima seseorang untuk kembali menempati hatiku yang mulai tawar tidak mudah aku lakukan, bukan berarti aku menjadi lebih memilah–milih tapi mungkin karena lebih hati–hati dan berkaca dari pengalaman.

Namun, ketika sosok itu datang dengan cara yang berbeda, tidak dengan penawaran mimpi–mimpi dan janji–janji kebahagiaan justru membuatku tidak bisa menghindarinya. Perasaan yakin bahwa sosok itu dianugerahkan untuk bersamaku semakin tak terelakan bahkan ketika aku belum sempat melihat bagaimana rupanya, karakternya, sifatnya, pergaulannya, keluarganya dan sebagainya.

Advertisement

Sama seperti seorang Ibu yang dianugerahi sesosok makhluk surga dalam rahimnya, menerimanya dengan suka cita, mencintainya bahkan sebelum sang Ibu dapat melihat bagaimana rupanya. Sedang tidak melebih–lebihkan, tapi demikianlah jawaban dari doa panjang yang selalu aku lafalkan mengubah keresahan menjadi keyakinan yang kuat.

Perbedaan keyakinan dan perbedaan usia tidak menyurutkan niat kami untuk bersatu saling mendukung mendayung bahtera rumah tangga. Iya, aku dan dia berbeda agama, usiaku juga terpaut empat tahun lebih tua darinya. Namun, sejauh ini tidak ada aral melintang yang berarti. Keluargabesarku menerima keluargabesarnya, demikian sebaliknya.

Hari telah ditentukan, ikatan telah dinyatakan, sepasang cincin tersemat di jari–jari manis kami, itu untuk pertama kalinya kami saling memandang dengan debaran–debaran yang menggetarkan seluruh ruang hati. Puluhan pasang mata menyaksikan betapa kuat kami saling mengikatkan diri satu sama lain di pelabuhan ikatan menunggu hari yang telah ditetapkan untuk siap berangkat berlayar mengarungi samudera kehidupan rumah tangga. Kami bertunangan.

Aku nikmati setiap putaran waktu yang membawaku semakin dekat dengan hari itu. Aku nikmati setiap pergantian siang dan malam dalam kesendirian dengan getar–getar yang mendebarkan menunggu saatnya tiba. Saat dimana aku akan menjadi ratu sehari, berhias dengan wewangian bunga dan balutan gaun pengantin yang selama ini aku mimpikan, bersanding dengan seseorang yang disebut belahan jiwa.

Disaksikan puluhan pasang mata mengucapkan janji suci dalam kesakralan. Oh, sungguh saat–saat yang mendebarkan, aku seperti mimpi dibuatnya. Namun, bahkan sebelum saat itu tiba, ingkahku tertahan melihat sesosok wanita tengah menangis di sana. Wanita itu begitu ayu, anggun dengan balutan hijabnya mencerminkan wanita shalehah, tuturnya lembut menyiratkan kesantunannya, gaya bahasanya selalu menggunakan diksi–diksi yang tepat menunjukan kecerdasannya.

Sungguh wanita yang sempurna, pikirku. Aku tidak mengenalnya, tapi tunggu, aku sepertinya pernah melihatnya. Iya, dia wanita yang sama dengan wanita yang ada di masa lalu calon suamiku. Aku mencoba mendekatinya dan mencari tau tentang airmatanya yang beruar hingga aku ikut hanyut dalam derasnya. Ya, ini tentang perasaan sesama wanita, aku tidak bisa tinggal diam melihat sesama kaumku terluka.

Melalui pendekatan aku mulai dengan satu kejujuran yang menyakitkan, iya benar, laki–laki yang sama yang kami cintai. "Tapi aku akan lebih memilih pergi demi kalian bisa bersatu kembali", kataku ketika itu mengabaikan tentang perasaanku sendiri. Namun sejauh apa aku akan pergi? Sekeras apa aku akan menolak? Sekuat apa dia mempertahankan dan seberapa besar usahanya untuk meperbaiki? Entahlah, bukankah jodoh sudah ada yang mengatur? Bukankah semua sudah ada benang merahnya? Dan seseorang pernah mengatakan bahwa tulang rusuk tak akan pernah tertukar. Demi hati aku mengiklaskan apapun yang akan terjadi nanti.

Sudah 2 tahun berlalu, tapi perasaan bersalah ini masih terus menggangguku. Mungkin memang kamu benar bahwa ada beberapa luka yang tak pernah bisa sembuh bahkan oleh waktu, begitu juga dengan perasaan bersalah ini. Iya, aku memang yang salah. Ketika itu aku hanya berpegang pada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa cara penyelesaian yang elegan adalah dengan berkomunikasi, aku melupakan kalau ada cara yang lebih bernilai emas yaitu diam.

Tapi aku tidak bisa tinggal diam ketika itu. Aku sengaja mendatangimu meskipun aku tidak mengenalmu sama sekali dan aku juga tau kalau kalian sudah tidak ada hubungan lagi. Tidak ada maksud lain, ketika itu aku hanya ingin membantu kalian berdamai kembali dengan segala keikhlasan. Mungkin memang caraku menyampaikan yang salah hingga kamu menganggap kedatanganku hanya mengorek luka lama.

Sungguh aku minta maaf jika ternyata kedatanganku hanya mengorek luka lama. Aku tau kata maaf tidak akan merubah segalanya menjadi baik kembali, tapi dengan ketulusan permohonan maafku yang tulus aku harap kamu dapat menerimanya.

Untukmu yang pernah terluka olehku.

Mungkin kamu benar bahwa melupakan tidak semudah menggantikan. Aku juga tidak sedang memintamu untuk melupakannya. Tapi bukankah memaafkan adalah penyembuhan? Jika waktu tak bisa menyembuhkan lukamu biarkan maaf yang menyembuhkan lukamu, maafkanlah aku. Aku juga ingin berdamai dan bebas dari bayang-bayang masa lalu.

Dan kini yang aku tau memaafkan lebih mudah daripada meminta maaf dan memaafkan orang lain lebih mudah dari pada memaafkan diri sendiri

Aku tau kamu tidak bisa memaafkanku, karena luka itu tenyata lebih suka berteman dengan perasaan benci. Bagaimana kamu akan memaafkan jika teringat tentangku saja membuatmu benci? Tapi tidak mengapa, aku tidak akan membalasnya dengan benci pula. Aku telah berdamai dengan perasaanku sendiri sehingga tidak ada lagi prasangka buruk dalam hatiku. Melihatmu tertawa bahagia dengan menganggap masa lalu telah mati dan menguburnya itu sudah cukup membuatku turut bahagia.

"RIP MANTAN" yang kamu tuliskan cukup untuk menjawab segala prasangkaku.

Sekali lagi maaf dan semoga kamu bahagia tanpa dihantui masa lalu yang sudah mati.

Sungguh sedang tidak melebih-lebihkan, aku ingin melihat kamu bahagia.