Seperti pada malam sebelumnya,yang telah lalu dan sebelum setelahnya.At this moment,seorang diri aku duduk dibawah atap hangat menatap layar penuh dengan bintang dan sejuta gambaran keindahan sang malam dengan sejuta khayalan semu di pikiran yang tak pernah hilang menemani suasana malam yang kian larut dalam keinginan untuk bisa menyapamu dalam kesendirian.

Seorang diri aku juga menikmati kerinduan akan dirimu malam ini yang telah kembali terjaga menyulut tetesan air mata memanggilmu dari kejauhan dengan begitu banyak harapan bahwa kau bisa mendengarkan urakan lantang kerinduan yang telah lama bersemayam dalam hati yang selalu aku paksakan untuk diam tak banyak bicara dalam ruang terdalam.

Saat saat seperti inilah, aku sungguh begitu membutuhkanmu. Membutuhkanmu untuk mendekapku dan menenangkan diriku yang saat sini seakan ingin terjun bebas dan teriakkan namamu agar semua orang tau bahwa sungguh aku merindukanmu.

Nyatanya, setiap saat aku selalu membutuhkanmu.

Namun sungguh tak mungkin itu aku lakukan.Berteriak kencang seakan seperti orang yang kehilangan harapan. Berteriak lantang seperti saat orang yang sedang berjuang terlepas dari keterpurukan. Ooooooh…benar-benar tak mungkin aku lakukan dan itu sangat terlarang. Karena jika memang aku memaksa, itu pertanda bahwa aku telah kehilangan keikhlasan yang sedang bersemayam dalam hati yang terdalam.

Advertisement

" Lantas,apa yang harus aku lakukan dengan semua ini?", benakku bertanya tanya .

Sang hati pun turut berbicara walaupun sedang berusaha untuk tetap berada pada jalur realita bahwa kerinduan yang terjaga seperti ini harus di kembalikan dalam kondisi semula. Kondisi dimana sang kerinduan bisa disemayamkan sementara bersama hari hari yang terus tersisa untuk kehidupan dunia ini yang sementara.