Tawa kami larut hingga malam jauh telah istirahat. Pukul satu malam lapangan ini masih ramai dengan anak-anak muda seperti kami. Sekadar mencari pengalaman di masa muda. Kapan lagi menikmati malam dengan kehangatan keluarga kecil di perantauan? Kami hanya sekumpulan anak-anak yang coba lepas pada kehidupan malam ini. Tanpa ingin berpikir apa-apa kecuali bagaimana untuk tetap bisa mata bertahan di tengah dini hari, dan menguatkan tubuh melawan dingin.

Sekumpulan anak muda yang membutuhkan kebersamaan untuk mematahkan penat hati akibat tekanan dunia yang telah menjelma rupa menjadi makhluk menyeramkan, yang menuntut kami untuk mengikuti arus tanpa makna. Arus yang sebenarnya cepat sekali untuk dikejar, dan hanya berakhir pada kekosongan maksud. Ke mana lagi kami harus berlari memuntahkan isi kebosanan jika bukan pada pelampiasan seperti sekarang. Kami belum bisa bersembunyi di balik diam, padahal hati kami memendam bara amarah jenuh. Entah mengapa kami merasai bangku perkuliahan kian hari membuat kami lupa diri. Kami masuk kelas, mendengarkan sekenanya , lalu selesai. Dan pulang.

Kami memang belum memiliki wadah untuk muntahan kata, jeritan hati dan gaung perlawanan yang membara. Jadi biarkan kami malam ini menjadi sekumpulan anak muda yang lusuh, apatis, berantakan, tanpa mimpi-mimpi, dan seenak pikir kami ingin melakukan apa. Setidaknya kami jujur dengan malam bahwa kami memang lusuh dan biasa sebiasanya biasa. Kami hanya menjadi sampah malam yang tidak berguna.

Beberapa bait di atas adalah kalimat yang aku tuliskan di dalam buku Anak Kolong Langit yang baru saja terbit. Sedangkan hari ini aku sedang duduk di kantorku. Menikmati segelas kopi, dan suara hujan di luar sana. Aku sedang rehat dari kerjaku yang padat. Aku curi beberapa waktu unntuk menuliskan catatan ini. Catatan tentang kisah persahabatan.

Seperti yang terkutip di atas. Kami dahulu adalah sekumpulan mahasiswa yang tiada arti. Di dalam kelas, kami bukan mahasiswa pandai. Awalnya banyak sekali dari kami yang ingin mundur dari perkuliahan. Namun, pada akhirnya semua lulus dengan nilai yang baik. Berubah dari sekumpulan mahasiswa brandal menjadi mahasiswa yang kritis dan sedikit lebih baik bukanlah hal mudah. Butuh proses yang panjang, melelahkan dan tentu butuh kebersamaan persahabatan yang kuat.

Advertisement

Di kantor ini aku mengenang mereka adalah Ali, Elvan, Ryan, Hamdan, Umo, Hendra, Aska, Zyahwan, Dean, Kiki, Zahra, Dio, Fitri. Beberapa nama itulah yang membuatku bertahan di tanah rantau dan menyelesaikan studiku di Kampus Secerah Fajar kebanggaan. Di dalam kampus itu mereka berperan penting padaku. Tentang apa saja. Kadang aku menjadi teman yang datang saat butuh, namun kadang aku menjadi seseorang yang paling akrab dengan mereka. Begitulah waktu 4 tahun kami di kampus secerah fajar.

Jika diingat-ingat, kami melewati perjalanan 4 tahun dengan permasalahan yang tidak mudah. Kami sering pulang malam hanya untuk berdiskusi sesuatu. Kadang sampai subuh berkumandang kami baru enyah dari sebuah lesehan. Kadang justru tidak pulang sebab pergi ke berbagai daerah untuk main bersama.

Hingga suatu masa yang suram, kami semua berpisah sebab memiliki mimpi dan kesibukan masing-masing yang harus diselesaikan. Kami beribu pada kehidupan yang sunyi. Tidak ada hal yang asik kala itu selain bertemu para sahabat. Waktu pertemuan menjadi sangat berharga bagi kami sebab meluangkan waktu untuk sahabat begitu sulit di tengah-tengah kesibukan membangun mimpi.

Kami, anak kolong langit yang berdiskusi di bawah langit, tanpa alih-alih, hanya lesehan di dekat angkringan, menghabiskan malam hingga matahari menghujani petang. Kami bahagia walau sejenak dan kembali ke rutinitas kampus. Dari sanalah kami menamai diri kami Anak Kolong Langit. Beribu langit dan berayah kehidupan liar.

Aku menjadi satu-satunya perempuan yang kala itu berdiskusi dengan mereka hingga subuh, namun bagiku tak mengapa sebab aku haus akan diskusi dan pemahaman baru. Anak kolong langit kini telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak ada satu pun dari kami yang menjadi anak biasa-biasa saja. Setiap diri kami dengan kelebihannya amsing-masing.

Sudahkah kamu dan teman-temanmu berubah menjadi lebih baik? lebih dari sekadar mahasiswa biasa yang nongkrong menghabiskan waktu dan uang? sudahkah kalian menjadi diri kalian sendiri bersama mimpi yang wajib kamu kejar? sudahkah kamu menemukan sahabat yang memiliki visi yang sama dan membuat kalian nyaman?

Di dalam buku Anak Kolong Langit, aku menceritakan perubahan anak kolong langit tidak terlepas dari usaha yang kuat. Mereka berebut sisi hati antara kemalasan dan membunuh malas. Semua berusaha untuk menghilangkan kemalasan diri dan mulai melangkah menatap masa depan. Di Kampus Secerah Fajar kami mengukir perubahan yang nyata untuk diri mahasiswa.

Ah, ternyata hujan di luar sana masih saja turun. Sedangkan lamunanku terhadap anak kolong langit telah usai. Aku hanya tersenyum sembari menyeruput kopi yang sudah dingin terkena AC.