Dulu aku pernah menggantungkan sebuah harapan kepadamu. Empat tahun tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar bagi kita untuk saling mengenal, hingga kamu memutuskan untuk bertunangan denganku. Aku tak sabar menanti hari istimewa itu datang. Sudah kubayangkan akan menjadi perempuan paling cantik dihadapanmu ketika hari itu tiba. Pertunangan kita berlangsung dan tanggal pernikahan kita juga sudah ditentukan.

Aku kembali memutar kembali bagaimana perjuangan kita dulu. Bagaimana perjuangan kita bisa menghadapi ucapan temanku yang mengatakan kamu tak sepadan denganmu, karena aku seorang sarjana dan kamu lulusan SMP. Kamu yang dulunya seorang karyawan dengan gaji Rp 500.000/bulan, sekarang sudah bisa membuka usaha sendiri. Bulir-bulir kristal jatuh di bola mataku. Tuhan aku bahagia!

Hari demi hari aku berharap setelah pertunangan kamu menjadi lebih sayang kepadaku. Ternyata aku salah. Kamu menjadi sangat kaku dan sama sekali tak peduli. Aku bingung. Hingga suatu hari terjadi pertengkaran hebat di antara kita. Ini kali pertamanya kita bertengkar hebat. Kamu menjauh dan akupun mulai menjauh. Aku hanya ingin tau alasan apa yang membuatmu berubah. Malah kamu mengatakan aku tidak ada dalam istikharahmu. Hancurnya hatiku. Bagaimana mungkin kalimat itu bisa kamu lontarkan?

Semakin hari keadaan hubungan kita semakin memburuk. Aku menghukum diriku sendiri. Mungkin ada ucapanku yang tak pada tempatnya terucap kepadamu. Aku merusak diriku sendiri dengan tak lagi fokus pada apapun yang aku kerjakan. Semua kegiatan bahkan karirku nyaris hancur.

Andai pertengkaran itu tak pernah terjadi. Kata seandainya muncul di benakku. Berkali-kali aku meminta maaf kepadamu. Jawabanmu tetap sama. Kita sudah tak bisa lagi bersama.

Tuhan, tunjukkan aku jalan. Berkali-kali aku mencoba mencarimu di sepertiga malamNya. Tetap tak ada jawaban. Aku yang selama tidak pernah membuka akun sosial mediamu meski kamu memberikan kata sandinya. Tuhan, maafkan aku. Aku hanya ingin sebuah kebenaran.

Advertisement

Aku melihat kamu berteman dengan seorang perempuan yang entah kenapa hatiku sesak melihatnya. Jantungku berdebar kencang. Padahal tidak ada hal yang istimewa. Aku memutuskan untuk menambahkannya dalam daftar pertemananku. Waktu berlalu, kamu tampak mulai intens menjalin komunikasi dengan perempuan yang sama sekali tak pernah kamu temui itu. Bulan demi bulan berlalu. Hubungan kita semakin memburuk meski kedua belah pihak keluarga kita mencoba menyatukan kita. Jawaban kamu hanya satu

Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini karena ucapan yang pernah terlontar sangat menyakitkan.

Hatiku remuk. Sebegitu parahkah? Aku yang mengenalmu lebih dari 4 tahun. Aku mulai menjadi konan. Aku menemukan tulisan perempuan itu lagi yang sama persis pernah aku tulis untukmu. Ini tidak mungkin kebetulan, jika bukan kamu yang mengatakan kepada perempuan itu. Aku meminta kejujuranmu dan tetap kamu mengatakan tidak ada perempuan lain, ini murni karena ucapanku tempo hari ujarmu. Aku sabar seperti yang orang tuamu minta. Keluarga memintamu untuk berpikir ulang.

Bulan demi bulan ku lewati tanpa ketidakpastian. Kamu yang secara adat sah masih tunanganku ternyata secara terang-terangan mengatakan bahwa perempuan itulah yang telah mengisi hatimu. Aku hanya tersandar dan mengatakan

Perselingkuhanmu adalah cara terbaikku untuk MOVE ON!!!

Mengetahui perselingkuhan penyebab retaknya hubungan ini. Aku memilih mengatakan sudah! Tidak ada lagi yang bisa aku perjuangkan. Mungkin sebagian orang akan semakin sakit hati ketika perselingkuhan penyebab berakhirnya hubungan ini. Bagiku ini adalah obat paling manjur untuk bisa menata hidupku lagi. Ini cara Tuhan untuk menegurku, sekaligus cara Tuhan mengatakan memantaskan diri itu di hadapanNya bukan di hadapan UmatNya.

Dengan perselingkuhanmu, aku sadar bahwa banyak hal yang harus aku perbaiki. Cinta yang sebenarnya cinta, hanya boleh aku curahkan sepenuhnya jika aku sudah menikah kelak bukan menjelang pernikahan. Aku sadar akan kecewa rasanya, jika menggantungkan harapan kepada manusia.

Dengan perselingkuhanmu, Aku semakin kuat untuk bisa melanjutkan karirku. Aku semakin kuat untuk bangkit karena cara terbaik untuk membalas perselingkuhanmu adalah dengan terus berkarya dan menjadi lebih baik lagi. Aku tak pernah menyesali air mata yang jatuh untukmu. Aku hanya berterima kasih karena Tuhan menunjukkan siapa kamu sebenarnya sebelum pernikahan kita langsungkan.

Sekarang, Aku berbahagia dengan jalan hidupku yang baru karena jodoh itu tidak akan pernah tertukar. Biarkan skenario Tuhan bermain dan aku akan menjadi sebaik-baiknya pemain dalam dramaNya. Bismillah

Cara terbaik membalas perselingkuhanmu adalah dengan terus bekarya, bukan berlomba-lomba mencari pengganti dirimu.