"Apa yang kamu takutkan? Hingga kau bayar dengan air mata?" katamu waktu itu.

Aku masih sesak dalam tangis yang masuk kedalam rusuk-rusuk "Kehilanganmu", jawabku.

Kamu tersenyum kemudian menatapku, seolah ingin mengatakan sesuatu kemudian mengurungkannya. Sedangkan aku masih terbungkus sesak yang tak ada habisnya, entah karena apa.

Kemudian kau rengkuh tubuh mungilku dalam dekapanmu. Tak ada satu tetes air mata pun jatuh dari pelupuk matamu, justru sebaliknya. Senyum mu terus mengembang hingga air mataku mengering dengan sendirinya. Mungkin dengan seperti itu otakku akan berjalan lagi apa adanya. Berjalan normal tanpa dengungan.

Aku melepaskan tanganmu yang masih mendekapku. Bibirmu masih kelu tak bisa berkata–kata. Hanya tatapku yang sinis dan kau masih mempertahankan sunggingan senyummu. Aku hampir menyerah saat itu, air mataku kau tukar dengan senyum yang seolah tanpa salah.

Advertisement

Tidak ada yang salah memang. Bukan Aku, tidak juga kau. Hanya keegoisan diriku yang kemudian menyeret pada lubang bernama cemburu. Pada galian bertuliskan takut kehilangan. Tapi tidak dengan kamu. Yang selalu merasionalkan kehidupan. Menjaga semuanya baik-baik saja, termasuk hatiku. Kecuali beberapa menit yang lalu. Hatiku gusar tak karuan, tangisku pecah dan kau masih santai dengan senyummu.

Sampai akhirnya Aku memalingkan badan, ingin pergi. Tanganmu kembali beraksi, menahan pergiku. Kamu tak akan kehilangan aku, katamu. Aku masih tetap pada posisiku, membelakangimu. Entah seperti apa raut wajahmu saat berkata itu, Aku tak bisa melihatnya.


Setiap hari Aku memikirkanmu, memikirkan dengan caraku. Memikirkan masa depan kita. Sibukku bukan tanpa alasan, katamu melanjutkan.
Kamu harus sekuat baja melunakkan masa depan. Bukankah tidak ada yang lebih indah dari cerahnya masa depan? Biarkan asingnya pertemuan-pertemuan kita saat ini membayar lunas semuanya. Membayar semua kesuksesan kita kelak.