November yang ke 15. hujan lebat mengguyur kota yang kini jadi tempat singgah perantauan, hujan terkadang begitu piawai merangkai kisah, meracik semua kenangan dengan sempurna. Bahkan kadang suatu kisah yang sempat terlupa. Hujan begitu telaten menyulam suasana, menyusun kembali kombinasi rasa pada berjuta peristiwa. Tentang rindu, cinta dan sederetan panjang rahasia, ribuan air yang terjatuh memaksa ingatan untuk memutar ulang memori masa lalu, memutar ulang saat usiaku dibawah belasan tahun, memutar ulang bagaimana tawa tulus seseorang.

Kek, kau tahu kan, aku ini cucumu yang sangat nakal. Kek, apakah kau masih ingat saat usiaku masih dibawah belasan tahun, diriku ini suka sekali tidur bersama kakek dan nenek, ketimbang tidur di rumah. Tentu saja, aku hafal betul tentang kebiasaan kakek dan nenek setiap pagi,begitu anggun nenek membuatkan kopi untuk kakek. Entahlah, kenapa rasanya menawan sekali melihat kisah demikian, meskipun mungkin menurut sebagian orang,hal tersebut sangatlah wajar dan biasa saja.

"Kek,kopinya di meja ya", suara nenek yang khas.

"Iya nek,nanti saya minum.", jawab kakek dari branda rumah

Sedangkan aku yang suka jail, meminum duluan kopi yang nenek buat untuk kakek, yang tersisa tinggal ampas. Lalu kutuanglah air putih, sehingga menyerupai kopi yang masih penuh,ini sangat licik untuk diterapkan, tapi aku menyukai kopi buatan nenek untuk kakek. Entahlah, rasanya berbeda, berulang kali kulakukan hal serupa, saat itu akupun heran. Kenapa saat kakek meminumnya tak ada komplain sedikitpun ke nenek. Padahal sudah bisa ditebak ampas kopi yang kuberi air putih itu pasti rasanya hambar, kukira kakek tak pernah mengetahui pelaku kejahilan itu. Ternyata dugaanku salah besar.

Advertisement

"Nak coba sini,kakek ceritakan sesuatu" senyum kakek mengembang di bibir. Aku berlari mendekati dan duduk di pangkuan.Dalam sebuah cerita Pandawa 5 kakek menyelipkan sebuah kata yang kuiingat sampai saat ini.

"Jangan pernah kehilangan kejujuran. Jangan pernah sedikitpun mengambil hak orang lain, dan jangan pernah memasukkan makanan yang bukan hak kita ke dalam perut kita.Jangan biarkan harga dirimu dirampas oleh 3 hal itu, jadilah anak perempuan yang baik. Kamu harus janji sama kakek ya"

Kisah yang begitu menawan, cerita yang begitu mengagumkan,hingga didetik itu, aku bahkan bersepakat untuk memegang kata-kata kakek menjadi prinsip hidupku. Apa jadinya bila saat itu kakek tak pernah menceritakan kisah itu,apa jadinya jika saat itu kakek lebih memilih memukulku ketimbang memelukku sambil menceritakan kisah Pandawa 5,dan apa jadinya jika kakek tak pernah peduli terhadap pentingnya menanamkan moral sejak kecil, entahlah, mungkin aku akan tumbuh menjadi anak perempuan yang tak tahu aturan, atau mungkin aku juga akan menjadi pencuri yang lihai merekayasa angka. Terima kasih untuk prinsip hidup yang kau tanamkan kek.