Pernahkan anda membayangkan kaki kanan anda berada di Indonesia dan kaki kiri anda berada di Malaysia? Pernahkan anda tinggal di sebuah daerah yang mana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bukan menggunakan produk dalam negeri? Pernahkah anda tinggal di sebuah daerah yang mana Rupiah sebagai secondary legal payment?

Jangan ngaku traveller apalagi backpacker kalau belum mengunjungi salah wilayah perbatasan negara secara langsung ini. Ya, Pulau Sebatik merupakan salah satu Pulau terluar NKRI yang berbatasan langsung dengan Malaysia (Baca: Pulau Sebatik Malaysia). Mungkin banyak yang bertanya tanya,

"Kenapa saya harus ke sana?"

Yupp, That's Right. You ask a good question!!!

Di sini penulis akan membeberkan mengapa Pulau Sebatik ini merupakan destinasi yang wajib untuk dikunjungi oleh traveller dan backpacker. Check this out!

1. Pulau Sebatik menyajikan sebuah pemandangan yang tak biasa, yaah namanya juga daerah perbatasan negara

Advertisement

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Pulau Sebatik merupakan Pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Pulau Sebatik Malaysia. Karena berbatasan secara langsung, kita bisa menemui patok yang menjadi batas antara kedua negara ini yaitu Patok 1 dan Patok 3 (namun yang sering diliput oleh media yaitu patok 3 hihihi).

Di Patok 3 ini kita akan menemui sebuah rumah yang mana ruang tamunya berada di Indonesia namun dapur rumahnya berada di Malaysia (secara wilayah administratif). Istilah orang sana sih "Rumah Dua Negara". Rumah ini pun menjadi satu-satunya rumah yang berada di dua negara secara "Adminsitratif" diantara deretan-deretan rumah yang berada di Desa Aji Kuning ini.

Pulau Sebatik juga punya Tugu Garuda Perkasa sebagai ikon nasionalisme dari Pulau Sebatik. Bentuk tugunya bisa dilihat di gambar profil.

2. Pulau Sebatik (Indonesia) merupakan daerah di Indonesia yang menomerduakan Rupiah.

Yapp itulah realita yang terjadi ketika kita mengunjungi Pulau Sebatik ini. Ada beberapa wilayah yang mana ringgit menjadi alat pembayaran utama dibanding rupiah. Barang barang yang diperjualbelikan dilabeli oleh tulisan RM (Ringgit Malaysia). Meski demikian, para penjual disana terkadang menolerir pembeli yang ingin membayar dengan rupiah meski harga barang dikonversi dulu dari ringgit ke rupiah.

Jadi misalkan harga barang RM3 (sekitar Rp 9.000,-) kemudian si pembeli membayar Rp. 10.000,- maka kembalian nya yaitu RM 30sen (sekitar Rp.1.000,-). Kadang penjual mengembalikan uang sisa dalam bentuk sen ringgit jikalau mereka tak punya uang Rupiah dengan nominal kecil.

3. Pulau Sebatik menyuguhkan akulturasi dua budaya sekaligus.

Suku asli Pulau Sebatik yaitu Suku Tidung. Yang membuat penulis takjub ketika berkunjung ke Pulau Sebatik yaitu ketika warga Suku Tidung ini bercakap cakap dalam Bahasa Indonesia. Aksen melayu sangat terasa sangat kental ketika mendengar percakapan mereka. Bahkan warga yang bersuku Bugis dan Jawa yang notabene bukan suku pribumi Pulau Sebatik pun "Tercaplok" oleh budaya yang sudah ada di sana.

Ketika warga yang bersuku Tidung ingin dinikahkan, maka akan melewati proses adat bernama "Jujuran". Pengantin Pria akan dilumuri bedak yang dicampur air disekujur tubuh. Warga yang hadir pun ditaburi bedak (meski gak seluruh tubuh sih hehe) dengan harapan agar jodoh mereka didekatkan oleh Yang Maha Kuasa.

4. Meskipun berada di daerah perbatasan, Pulau Sebatik punya surga yang dijadikan objek wisata.

Namanya Batu Lamampu yang berada di Kecamatan Sebatik Induk. Untuk mengakses ke objek wisata yang diagungkan oleh warga Pulau Sebatik ini kalian bisa langsung menyebrang dari Tarakan ke dermaga Sei. Nyamuk. Kemudian kalian melakukan perjalanan sekitar 15-20 menit menggunakan transportasi darat setelah tiba dari dermaga Sei. Tapi kalau kalian dari Nunukan, kalian nyebrang ke pelabuhan binalawan yang berada di Kecamatan Sebatik Barat. Setelah tiba, kalian menempuh perjalanan lagi 20-30 menit menggunakan transportasi darat.

5. Ketika nasionalisme kita diuji, di situlah jiwa nasionalisme kita semakin kuat.

Pada saat penulis diberi kesempatan mengunjungi kerabat dari Kepala Desa Setabu, Kecamatan Sebatik Barat di Kampung Mentadak Baru (Pulau Sebatik Malaysia) saya terhenyak dengan tingkat kesejateraan warga di sana dibanding dengan warga yang berada di Pulau Sebatik Indonesia. Bayangkan saja mereka menikmati air secara cuma-cuma dari pemerintah mereka. Selain itu, jika konsumsi listrik mereka dibawah RM20 maka mereka tak membayar listrik bulanan alias gratis.

Berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat yang tinggal di Pulau Sebatik Indonesia yang mana mereka hanya mengharapkan air hujan turun membasahi bumi jika sumur mereka mengalami kekeringan. hal ini dikarenakan proyek PDAM yang berhenti di tengah jalan sehingga harapan warga Pulau Sebatik khususnya Kecamatan Sebatik Barat untuk menikmati air bersih tanpa menunggu air hujan pun musnah.

Namun di sinilah peran kita sebagai Warga Negara Indonesia untuk sama sama merasakan keprihatinan ini dan bertindak dengan aksi nyata untuk memajukan Pulau Sebatik ini agar tak diklaim (lagi) secara penuh oleh Malaysia. Jadi itulah alasan-alasan kenapa Pulau Sebatik bisa anda jadikan sebagai wisata. Tak hanya jalan-jalan yang kalian dapatkan, melainkan wisata edukasi pun kalian akan dapatkan juga.

#IniPlesirku