Jika masalalu itu menyenangkan, bagian mana yang harus diulang? Bukankah pernah ada yang tak bisa diperjuangkan bersama? Hingga kita harus melupakan dan melepaskan. Mengapa harus diperjuangkan (lagi)?

Kenyataannya, masalalu adalah harapan yang tak pernah berujung kepastian. Berharap kembali ke masa itu adalah keinginan setiap orang yang sedang patah hati. Tapi, coba tanyakan, apakah akan sama jika kita mengulanginya sekali lagi? Jika hidup harus melangkah ke depan, mengapa kita masih diam di tempat? Bahkan jauh memikirkan masalalu dengan segala harapan keindahan. Hidup tidak semulus itu, jika tanpa liku, bagaimana kita bisa mengerti jika hidup itu adalah dua sisi yang dekat tetapi saling berseberangan dan penuh resiko?

Kita selalu dimanjakan dengan kenangan, tak bisa dipungkiri bahwa setiap orang memiliki kisah lalu, entah bahagia, sedih, menyenangkan, bahkan mengecewakan sekalipun. Jika dengan masalalu itu kita pernah tak bisa berjalan beriringan, lalu mengapa kita yang sudah melesat jauh ke depan harus kembali menengok ke belakang? Memunguti kisah tanpa kepastian dan ingin mengulanginya menjadi cerita klasik bak Cinderella. Jika gelas pecah saja tak mampu kembali utuh? Bagaimana dengan sebuah hubungan?

Perasaan memang tak selalu sejalan dengan pikiran, tetapi apa masih memerlukan perasaan ketika bersama hanya ada luka lama yang sulit disembuhkan. Tetapi, entah datangnya darimana, kita selalu mencoba memaafkan. Bukankah cinta itu perlu logika? Bertahan hanya dengan perasaan akan membuat kesalahan yang sudah terjadi kembali terulang.

Jika masalalu adalah kepastian, setiap orang pasti ingin kembali ke masa itu, karena tak ada yang menginginkan kembali mencintai seseorang yang baru, memulai dari awal, dan berharap kebaikan dengan situasi yang baru. Tak mudah. Tetapi kembali dengan masalalu juga bukanlah solusi. Sayangnya, masalalu bukan rumus pasti, yang jika diulang, hasilnya pun tak tentu lebih baik daripada sebelumnya.

Advertisement

Dunia ini luas, meskipun nyatanya sempit.Dari sekian banyak orang yang kita temui, memang hanya dia yang bisa dijadikan tambatan hati. Tetapi, apa benar jika kita menambatkan hati kita (lagi) dengan masalalu, akan sama ceritanya dengan yang pernah terjadi. Mungkin benar apa kata pepatah lama, jika kesempatan kedua tak sebaik kesempatan pertama. Tidak lagi sama, tak bisa utuh kembali. Bahkan, setiap orang yang sedang memperjuangkan (kembali) masalalunya pasti membuat pembenaran. Dia akan mengatakan "Memang, kesempatan kedua tak sebaik kesempatan pertama, tetapi setidaknya aku berusaha". Ya, tidak ada yang salah dengan usaha, tetapi apakah kita telah mengusahakan seseorang yang tepat? Semoga kita adalah pribadi yang pandai menyeimbangkan perasaan dan logika, dan lekas menemukan cinta yang dewasa.

Aku yang pergi, dan mungkin masalalumu memang lebih menjanjikan.