Daun terus menghijau, akar makin menguat, jatuh cintaku pada pandang pertama. Hutan selalu menyimpan kabut misteri belantaranya. Menghirup bisu kegetiran juga ketenangan, hamburan corak semu mengalir deras di dalam angan. Rimba, aku rindu akan kabut sepimu. Seperti obat penenang, menyihir hebat sudut teluk jiwaku. Menghilangkan resah namun datangkan cerita, sebongkah dua bongkah.

Rimba, bisakah aku bercerita? Tentang udara yang menguap habis dari dalam dada. Biarkan aku memanjat pohon raksasamu dan menggelantung bebas tanpa ada yang tahu. Ikuti semilir angin entah kemana. Hawa basahmu mengecup lembut pipiku, dinginmu memperkosa tubuhku. Aku rindu rimba dan segala keliarannya. Rimba belantara serta kesenyapan yang sempurna. Karena kau tahu aku tak kuat menghadapi kerumunan sampah di luar sana, karena kau tahu aku cinta kediaman yang menyiratkan beribu kejujuran. Rimba, mati aku ditangan para pendusta. Aku tak kuasa mengoyak wajah mereka. Mungkinkah kau bisa membantu ku menginjak mata, atau mulutnya?

Kita pun tahu akan bahaya sebuah rasa. Masihkah kau ingat cerita lamaku? Bukan, bukan tentang cinta. Tentang hidup yang makin meraja, dan mati yang makin terlupa. Tentang sujud kita di keheningan, dan riuh doa dipanjatkan. Rimba, biarkan aku melanjutkan cerita. Tentang onggokan daging yang merasa sempurna namun sesungguhnya cacat seutuhnya. Kau boleh tertawa rimba, karena aku pun suka menertawakan keangkuhan mereka. Karena aku selalu tahu kebodohan mereka mengenai belantara. Onggokan itu tak pernah tau, dan tak tahu malu. Ingin rasanya ku ludahi, sekali lagi.

Sampai aku di penghujung mu, rimba. Sampai lah aku di tepian air mengalir. Sungai selalu menyurutkan amarah, dan tugasmu menjagaku cukup sampai disini. Aku tak sabar untuk menggerogoti air di wajahku. Tinggalkan aku sendiri, rimba. Teruskan tanggung jawabmu menjadi nafas dunia. Aku takkan mengapa bersama sungai dan kicauan burung karena kita teman dan akan terus seperti itu. Sekalipun lubang menganga dan porak poranda, tak sama sekali menyurutkan niatku bercengkrama. Sekalipun aku akan menjadi abu, kau akan terus hidup di dasar kalbu.

Rimba, dunia lain tempat ku berbahagia, namun juga bagian dunia yang selalu menyimpan jutaan luka dan amarah hewani, kepada sebagian lain dari manusia.