Seribu delapan puluh hari terlewati terlepas dari bayanganmu. Bayangan tentangmu yang dulu pernah kupikir tak akan bisa lepas dari pikiranku. Hari nyatanya terus berganti begitu cepat. Saat aku menyadari, ternyata sang pencipta tidak menggariskan jodoh buat kita. Butiran kenangan yang dulu aku genggam erat nyatanya aku lepaskan perlahan. Mungkin saat ini hanya tersisa sedikit debu dari butiran-butiran kenangan itu.

Terimakasih sudah mengajariku apa itu cinta yang dewasa, bukan hanya sekedar terbatas pada kalimat kiasan yang banyak didengungkan banyak orang.

Mereka bilang bahwa cinta tidak harus memiliki, tapi lebih tepatnya buatku cinta tidak seharusnya berjuang sendirian. Lebih tepat dan terdengar lebih masuk akal buatku.

Bersama denganmu membuatku tahu bagaimana rasanya mati-matian mencintai, rasanya berjuang sendirian, dan juga berusaha sekuat hati bertahan tanpa peduli seberapa banyak air mata yang sudah mengalir.

Jika kamu tanya, apa dulu aku merasa lelah?

Advertisement

Ya, aku lelah berjuang sendiri… Aku lelah berusaha meruntuhkan tembok egomu yang begitu besar dan kokoh yang mengalahkan rasa cintamu buatku.

Aku lelah menangis sendiri, tanpa ada bahu buatku untuk bersandar walau hanya sebentar.

Tapi jika kamu tanyakan, apa aku menyesal pernah mencintaimu?

Aku jamin bahkan jika itu pertanyaan yang ke seribu kalinya kamu tanyakan, jawabanku akan tetap sama bahwa aku bersyukur pernah mati-matian mencintaimu.

Tapi apa aku harus terus menyelupkan dan terus merendam hatiku pada secangkir cerita lalu yang sudah basi melewati seribu delapan puluh hari itu?

Aku rasa seharusnya aku segera mengangkatnya keluar dari situ dan menyeka bekas-bekas cerita itu.

Karena bagiku, cinta dewasa yang sesungguhnya tidak pernah menahan pada kenangan masa lalu. Seharusya cinta itu membuatmu bertumbuh untuk menapaki masa depan dengan sebuah harapan dan kepastian, bukan dengan sebuah kebimbangan tanpa arah.