Kita dipertemukan di saat waktu tidak memberikan banyak pilihan. Aku yang masih gigih berkutat dengan banyak mata kuliah karena sedang melanjutkan sekolah, kamu yang lebih dulu meniti karir yang diharapkan gemilang. Di tengah kesibukan masing-masing kita tetap berusaha menjaga kebersamaan. Meluangkan waktu untuk saling memberi kabar dan berbagi tentang setiap kejadian. Meski raga tidak bisa sering berjumpa, namun kehangatan terasa meski hanya lewat suara. Membuatku lebih sering tersipu dan tertawa.

Namun seiring berjalannya waktu tidak semua hal berjalan sesuai harapan. Tugas kuliah menggaharuskanku tinggal di luar kota. Jarak menjadi pengahalang yang harus diperhitungkan. Pertengkaran-pertengkaran kecil dimulai hingga tak terasa kian membesar. Banyak kesalahpahaman yang tidak mudah untuk diluruskan. Waktu semakin terasa kejam karena tak mampu menjanjikan pertemuan. Tapi kita sanggup bertahan, tertatih berjuang bersama keyakinan dan keihklasan.

Ketika tugas kuliah di luar kota selesai, tidak lantas membuatku punya banyak waktu luang. Aku harus menghadapi tugas berikutnya yang jauh menyita waktu. Membuatmu menelan kekecewaan karena aku tidak bisa menemani saat kamu menjalani hari penting dalam karirmu. Berulang kali membatalkan janji bertemu. Hingga kamu berpikir untuk menguji perasaanku, menjauh perlahan untuk mengetahui seberapa besar rinduku. Aku tidak terbiasa dengan ketiadaanmu, membuatku menganggap perasaanmu sudah tidak sehangat dulu. Kemudian aku meminta perpisahan karena aku tidak suka diabaikan. Pikiranku begitu kacau, tapi kamu menghadapi permintaanku dengan santai dan memintaku untuk menenangkan pikiran. Kamu yang tak pernah lelah berlari mengejarku meski aku hanya diam. Aku yang tidak pernah bisa memberimu cukup harapan.

Aku menganggap semua masih baik-baik saja tanpa pernah menyadari bahwa kamu memendam kekecewaan lebih besar dari yang ku bayangkan. Kamu mengharapkanku untuk selalu ada. Bukan hanya sekedar lewat suara tapi juga raga. Menghabiskan banyak waktu denganku. Berlibur bersama menikmati tempat-tempat menakjubkan. Berpikir bahwa aku tidak pernah benar-benar menghargai perasaanmu. Tapi kamu salah jika menganggap aku tidak pernah peduli. Kamu tidak akan pernah tahu, bagaimana bahagianya aku tiap kali mendapat kabar darimu? Bagaimana gugupnya aku tiap kali akan bertemu denganmu? Bagaimana merona pipiku ketika mendengar suaramu? Berusaha menghargaimu sebagai lelakiku. Memang tidak banyak yang bisa aku ungkapkan lewat kata-kata, tapi degupan di dada adalah jawabannya.

Meski inginku dan inginmu tidak selalu sama, tidak bisakah harapan kita berjalan beriringan? Bukannya aku tidak mau menghabiskan banyak waktu denganmu, tapi waktu tidak memberi banyak kesempatan. Meski ragaku tidak bisa selalu ada di sampingmu tapi rindu selalu aku titipkan lewat lantunan doa panjang. Bersabarlah, tidak lama lagi Tuhan akan memberikan jawaban terbaik atas keinginan dan pengertian. Ketika waktu, lelah menjadi pengganggu.