Seperti di kota-kota besar lainya, minggu pagi Kota Makasar tampak lengang. Langit merubah warna, dari redup, perlahan cerah dan memutih sedikit bergurat. Sekujur jalan manapun istirahat dari kesibukan. Toko-toko dan bangunan besar yang berderet-deret masih banyak yang tutup. Sepertinya hanya pekerja kebersihan taman kota yang tidak libur. Saya berkeliling dari Central sampai Anjungan dengan naik becak, sambil bersantai, cuci mata, melirik-lirik cece dan meme yang sedang joging gemas di pagi hari. Pemandangan pagi yang segar, bukan?

Kata pak tukang becak, Hari ini masih berlangsung perayaan hari jadi Kota Makasar. Jam delapan nanti akan ada pemberangkatan jalan sehat yang di adakan pemerintah dengan banyak hadiah door price menarik. Dimulai dari Pantai Losari dan entah berakhir dimana. Satu setengah jam saja, sejak kedatangan saya disini, jalan Anjungan sudah kebanjiran manusia berseragam merah-merah. Remaja, Anak-anak, Ibu-ibu, Bapak, Kakek, Nenek, manusia berbagai usia, semuanya tumplek blek disini. Bersuka cita merayakan hari jadi Makasar.

Tujuan saya pagi ini adalah Pulau Samalona, pulau kecil di barat kota. Tempat wisata andalan bagi masyarakat Makasar. Butuh waktu setengah jam untuk sampai kesana dengan Jollorok (perahu motor) dari Pelabuhan Kayu Bangkoa. Kebetulan, Pelabuhan ini berdekatan dengan Pantai Losari dan Benteng Rotterdam, tempat saya turun dari becak tadi. Sekilas memang tidak nampak dari jalan raya, karena pelabuhan Kayu Bangkoa diapit oleh bangunan-bangunan besar di kanan kirinya. Pelabuhan dengan dermaga kecil, namun selalu sibuk bekerja sebagai gerbang menuju pulau-pulau kecil di barat Ujung Pandang.

“Lima ratus ribu, pulang pergi” Jawab para tukang perahu ketika saya bertanya soal tarif. Entah, dia calo atau yang punya perahu benaran. Segala jenis rayuan keluar dari mulut, Membuntuti, merangkul, berlomba-lomba tak kenal lelah dengan harapan saya bersedia ikut dengan Jollorok nya. Saat-saat seperti inilah kita jadi artis dadakan, seperti dompet berjalan juga. Tanya jawab, tanya jawab terus-menerus soal tarif, sampai mulut kecut tetap tidak ada hasil memuaskan, Jawaban harga yang seragam dari tukang-tukang perahu; “Lima ratus ribu, pulang pergi!”.

Jujur, terlalu mahal untuk membayar nominal sebesar itu. Berat, ketika isi kantong yang mulai menipis setelah beberapa hari keliling bumi Sulawesi Selatan. Harga perahu memang sekian untuk mengantar wisatawan ke Pulau Samalona. Sudah harga pasaran juga katanya. Dan saya punya cara sendiri untuk mengakali hal ini. Saya harus pergi kesana, ke Samalona.

Advertisement

“Tidak ada uang kalau lima ratus ribu, saya hanya punya seratus ribu, begini saja, kalau nanti ada penumpang yang lebih dari empat orang tolong saya di ikutkan, tidak masalah kalau harus menunggu” Ucap saya kepada salah satu seseorang yang masih setia merayu di ujung jalan. Yang lain sudah frustasi mungkin.

Barangkali dengan cara ini saya bisa ke Pulau samalona, meskipun menunggu tanpa kejelasan, tanpa kepastian. Adakah pengunjung yang bermurah hati, memperbolehkan saya bergabung? Tapi nyatanya, harapan memperoleh kata-kata manis dari bapak tukang perahu sia-sia. “Tidak bisa, penumpang yang lain tidak mau di gabung, nanti mereka tidak nyaman” Padahal saya bilang, nanti saya yang akan bicara dengan penumpangnya supaya saya bisa ikut sharing cost. Dengan tegas beliau jawab lagi “tidak bisa, lagi pula hari ini sepertinya tidak ada penumpang, semua orang ikut jalan sehat”. Sepertinya?

“Ya sudah, saya tidak jadi ke Samalona” Sekarang ganti saya yang frustasi.

Mungkin belum rejeki bisa berkunjung ke pulau kecil di barat kota. Mungkin lain kali akan ada kesempatan, bukan sekarang. Destinasi tidak perlu di kejar-kejar. Pulau Samalona tidak akan kemana. Ya, lain waktu saja. Lupakan tentang tawar-menawar tarif penyeberangan. Saya berlalu menuju warung yang menjual nasi kuning di atas trotoar depan gang pelabuhan. Sudah waktunya mengenyangkan perut, setelah mulut kenyang dengan perdebatan.

“Bagaimana mas, jadi ke Samalona? Jauh-jauh dari Surabaya, sayang kan”

Ehm…dua orang yang terakhir tadi datang lagi menghampiri. Apa mungkin beliau-beliau ini berubah pikiran? Mungkin. Tidak bisa di bohongi, sejujurnya hati kecil saya masih berharap untuk menjejak kaki di pulau berpasir putih itu. Berbasah-basahan dengan air lautnya yang jernih membiru. Menikmati taman bawah lautnya yang barangkali terdapat bermacam-macam makhluk dan tumbuhan cantik. Saya takjub dengan lekukan bibir pantainya ketika melihat foto-fotonya di internet. Saya penasaran dengan cerita-cerita dari kawan tentang keindahanya.

“Mas tunggu saja disini, sebentar lagi ada penumpang, tadi pagi sudah telepon, mungkin sepuluh menit lagi orangnya sampai” Ujar keponakan pemilik Jollorok. Dia kemudian pergi meninggalkan saya, katanya menjemput penumpang di seberang jalan. Berarti yang dikatakannya tiga puluh menit yang lalu tidak benar, tidak ada penumpang, penumpang tidak mau di gabung? Aha…Mungkin alih-alih ingin mendapat order dobel. Sebenar-benarnya.

Beginilah kawan, sabar akan selalu mendatangkan apa yang kita inginkan. Semua akan indah dengan prosesnya yang panjang dan ruwet bagi pejalan macam kami. Tanpa saya sadari, sekarang saya mulai sedikit jago soal tawar-menawar. Tapi, “sabar” rasanya masih belum sampai di ambang batas, dan sepertinya boleh kalau di uji lagi.

Sepuluh menit berlalu, tak ada kabar. Tiga puluh menit berlalu, tak ada kabar juga. Satu jam menguap begitu saja dalam hiruk pikuk pelabuhan, saya dilanda kecemasan. Kemana tadi perginya pak tukang perahu? Mungkin penumpang yang di tunggunya kena macet akibat penutupan jalan, mungkin juga tidak jadi berangkat memberi tumpangan saya. Sekarang hampir dua jam, saya masih menunggu, duduk bersandar di atas kayu balok samping dermaga. Sungguh, menanti yang tidak pasti begitu menjengkelkan. Hati serasa di gantung. Jika keadaanya seperti ini, saya rasa anda juga akan jengkel? Dan, ada kata yang terus membekap dari kekesalan yang meluap-luap; Sabar.

Di jalan raya depan pintu masuk pelabuhan, ratusan orang, bahkan ribuan orang peserta jalan sehat berjalan dengan seragam merah-merah. Berbaris seolah tak pernah habis. Wajah-wajah riang penuh suka cita memenuhi seluruh ruas jalan. Ada yang membawa sound sistem besar di gledek, lagu-lagu dangdut berisik membuat mereka bergoyang asyik. Jalur rute jalan sehat ditutup total. Sementara hal yang saya lakukan masih sama seperti menit-menit yang lalu, menunggu! Benar yang di katakanya tadi, “mungkin” sepuluh menit lagi orangnya sampai. Mungkin. Kata “mungkin” yang perlahan melampaui detik, melewati menit, membunuh jam dan waktu, kemudian bergelanyut dipikiran mendatangkan pertanyaan besar.

Tiga jam menunggu, Tiga jam dalam kecemasan, Sepuluh menit menggelembungkan waktu begitu banyaknya. Bukan masalah satu jam, dua jam, tiga jam nya. Tapi, apa jadi berangkat? apa benar pemilik Jollorok itu bersedia memberi tumpangan saya? Kalau tidak jadi berangkat, lebih baik pergi saja dari sini. Saya di buat frustasi lagi.

Dan ketika kesabaran sudah meluap hingga ambang batas, ketika saya hendak meninggalkan Pelabuhan Kayu Bangkoa, Pemilik perahu, keponakanya, dan sekaligus para penumpang yang saya tunggu itu datang. Datang tanpa penjelasan, tanpa alasan. Kenapa dan dari mana? Saya juga tidak ingin bertanya. Sepuluh menit, oh sepuluh menit. Pak tukang perahu minta maaf, keponakanya juga, sambil senyum-senyum. Kesal? Iya. Menyesal? Tidak, karena akhirnya sedikit demi sedikit saya bisa belajar lebih bersabar. Samalona, saya berangkat!

***

“Bu, saya boleh titip tas sebentar disini, di bawah meja warung ibu?” Tanya saya kepada ibu pemilik warung di Pulau Samalona. Saya ingin berbasah-basahan sebentar di tepi pantai. (saya masih ngopi di warung beliau)

“Jangan mas, taruh disitu saja, di balai-balai bawah pohon, nanti bayar lima puluh ribu!” Jawabnya.