Entah hari itu kami sedang apa. Sungguh, aku bingung, kami bertiga sedang menikmati matahari terbenam atau menyaksikan sisi lain bumi berotasi menjauhi sinar matahari? Jauh dari kebiasaan kami yang sering berisik, saat itu hanya saling merangkul dalam diam menikmati suasana setelah perjalanan jauh. Dan menjadi rusak seketika saat Hadi berkata “Homo threesome” Lalu kepala Hadi menjadi sasaran empuk (yang tetap saja keras) oleh aku dan Herdi.

Berlarian saling kejar, melempar pasir pantai, melorotkan celana, berpura-pura menjadi putri duyung atau melakukan hal bodoh lainnya. Kami yang berbahagia disaksikan oleh matahari terbenam… Ya, itu sebutan yang tepat untuk sisi lain yang berotasi menjauhi sinar matahari.

“Pantai Pasir Putih, 26 Maret 2010” ditulis oleh Hardi Multhazam.

Aku, Herdi dan Hadi adalah orang tampan yang baru saja selesai menempuh Ujian Nasional tingkat SMA. Tentang masa sekolah dan segala kenangannya selalu tersimpan dalam memori ini, tentu yang aku maksud bukan memori sejenis micro SD.

Dari nama kami yang terdengar mirip, Kami bertiga bukan anak kembar, justru berbading terbalik dengan fisik kami yang tidak ada miripnya sedikitpun kecuali bulu hidung kami. Nama HAHAHA cukup terkenal di sekolah. Mungkin sudah banyak sudut sekolah kami coret HAHAHA. Hal itu juga memudahkan untuk setiap guru yang mengabsen, percaya atau tidak, kami selalu dalam satu kelas yang sama.

Advertisement

Geng kami pun sering dikumandangkan oleh banyak orang ketika menulis SMS. Kami cukup bangga dengan diri kami.

Cara menjadi tampan bukan dengan bergaul dengan orang yang tampan pula, tapi bergaul lah dengan orang yang tidak lebih tampan darimu. Mungkin itulah sebab aku mau bergaul dengan mereka berdua. Begitu juga mereka yang mau main denganku. Kembali ke pantai.

Keseharian aku dan dua asistenku adalah menunggu bel pulang sekolah dan pergi ke warung kopi dekat sekolah atau sesekali lari sehat siang-siang… Dikejar guru yang merazia siswa yang kedapatan merokok saat memakai seragam. Mereka para guru tidak pernah berhasil menangkap kami, dasar bodoh! Tapi besoknya pasti kami dipanggil guru BK, sekarang terlihat lebih bodoh siapa.

Rutinitas membosankan itulah yang membuat aku berinisiatif mengajak mereka pergi liburan sehabis Ujian Nasional.

Hari menyenangkan itu tiba, kami selesai menempuh Ujian Nasional dan langsung melupakannya. Kami tidak berpikir untuk mencoret-coret seragam kami, lebih baik disumbangkan. Oh, maaf kami tidak semulia itu, kami sumbangkan dengan meminta sumbangan, istilah kasarnya, kami jual. Lebih kasar lagi, jual paksa ke adik kelas. Lumayan untuk tambah-tambah ongkos liburan.

10.30 Pagi. Setelah gerbang sekolah dibuka, kami langsung berangkat dengan dua sepeda motor, ransel kami sudah terisi segala persiapan liburan. Tentunya kemarin sudah kami siapkan. Tidak perlu pulang dulu atau minta izin, karena hanya akan membuang waktu kami.

Herdi bersama Hadi dan Aku bersama dengan Gitar di punggungku. Perjalanan jauh. Tujuannya adalah selatan Banten, sebelah barat pulau Jawa, Barat Daya Indonesia, pokoknya kami ke situ, ke Pantai Pasir Putih Banten.

Perjalanan ini membuat pantat pegal dan panas terbayar sudah. Kami sampai tujuan tidak dengan selamat karena selamat sedang di rumahnya. Tidak sedang melucu, aku bicara fakta. Begitu banyak penginapan di sana. Kita bertiga sangat kebingungan untuk memilih tempat mana yang akan pakai tidur, karena tidak punya banyak uang.

Tapi tidak peduli, perpocong (persetan) dengan penginapan yang terpenting sekarang adalah pantainya dulu.

Sepertinya aku tidak perlu menulis ulang apa yang terjadi setelah sampai di pantai. Sudah ditulis dalam paragraf pembuka.

Setelah lelah berlarian aku merebahkan diri di pasir yang masih bersih ini, diikuti dengan sahabat yang duduk di sampingku. Ketika itu Pantai Pasir Putih belum terlalu ramai wisatawan. Aku tenggelam dalam suara deru ombak mendamaikan pikiran.

Ingatan itu datang lagi, wajah gadis itu, seorang adik kelas yang manis, sayang sekali aku tidak punya nyali untuk meminta izin kepada gadis itu untuk mengenalnya lebih jauh. Siang tadi, adalah hari terakhir aku bersekolah. Sesal datang menyesaki paru-paru. Tidak, aku tidak se-hiperbola itu.

Sunset men, sunset jelas banget gila” Herdi sambil menunjuk Matahari.

Aku bangkit duduk untuk melihat. Namun bekas langkah kaki kami berlarian yang sedikit demi sedikit terhapus oleh ombak senja itu lebih menarik perhatian. Aku adalah orang mengandalkan perasaan, mudah terbawa suasana. Secepatnya aku hapus pikiran bahwa Aku, Hadi, dan Herdi akan sama nasibnya dengan jejak langkah kaki kami yang tersapu oleh ombak. Yang aku yakini adalah kita selalu bersama selamanya, kecuali kalau sedang ke kamar mandi.

Sunset selesai, malam sudah melangkah maju. Bulan tidak benar benar menggantikan matahari seperti yang banyak disebut oleh lirik lagu berbahasa Indonesia. Kalian sudah pasti tahu jika belajar IPA, sekalipun kalian anak IPS, aku yakin kalian pasti tahu.

“Eh, kita tidur di mana?” Celetuk Hadi.

Penginapan terlalu mewah bagi kami, sekalipun yang paling murah. Setelah berpikir cukup lama (2menit). Aku menemukan tempat yang cocok untuk tidur. Setelah diskusi dan negoisasi atau lebih tepatnya mengemis-ngemis ke pemilik bilik, bale, saung atau apalah itu namanya aku tidak peduli. Kami diberi tempat tidur sampai jam 7 pagi nanti dengan harga 50.000 Dollar Indonesia/Rupiah.

Dasar Kau! Gitar tidak berguna! Maaf gitar, aku tidak bermaksud menghinamu, lebih baik menyalahkanmu daripada harus menghina Herdi yang mengaku bisa main gitar tapi kenyataanya hanya bisa main tiga lagu peterpan. Akhirnya gitar harus masuk dalam sarung tapi bukan untuk solat. Sungguh, sarung yang ini sangat berbeda.

Beruntung Hadi mebawa senjata rahasia; Domino! Atau lebih akrab dipanggil gaple. Benda sakti sudah dipanggil untuk menghibur kita model seksi malam itu. Juga dua gelas kopi hitam untuk mata tetap terjaga. Semakin malam penghibur mulai lelah sampai-sampai kami bosan. Aku berjalan ke tepi pantai sambil berkhayal akan ada seorang gadis yang akan aku selamatkan ketika ia hendak membawa dirinya bersama arus laut yang seram.

Belum sampai di tepian pantai, aku melangkah kembali menuju penginapan istimewa kami, takut-takut kalau benarr aku bertemu gadis itu yang ternyata hantu.

Kala itu liburan sangat terasa indahnya, di mana liburan yang tidak sekedar berfoto ria untuk memamerkannya di sosial media. Liburan terakhir bagi kami yang menjadi kenangan manis. Aku sudah menyangka kalau ini adalah liburan terakhir kami walaupun selalu aku tangkis pikiran buruk itu tetap saja sangkaan itu benar terjadi. Kami terpisahkan.

Beberapa waktu tak berjumpa Herdi mengabariku bahwa dia pindah ke Surakarta bersama orang tua dan adik-adiknya. Sebuah keburuntungan bagiku yang hanya lulusan SMA bisa mendapat pekerjaan bagus dengan cepat dan sebuah harga mahal harus aku bayar. Aku mulai sibuk dengan dunia baruku. Lalu Hadi, dia memutuskan untuk menjauh dariku karena menyangka aku melupakannya.

Kehilangan Hadi, bisa jadi harga termahal yang harus aku bayar setelah semua pencapaianku.

Sejak saat itu, enam tahun sudah berlalu. Mungkin masing-masing dari kita sudah menjadi orang-orang berbeda, yang hampir lupa bahwa dulu sering melakukan hal yang tak masuk akal, selalu merasakan sakit yang sama jika salah satu merasa sakit, sering berlari-lari dikejar guru, jadi “tim hore” ketika ada tawuran antar sekolah, hanya memakai celana dalam saat bonceng tiga sepeda motor.

Ya, mungkin hampir lupa tentang hal konyol yang tak masuk akal. Tapi aku tidak pernah lupa cara untuk mengingat semua itu.

Selama enam tahun aku melangkah sendiri, aku tidak pernah mendapatkan orang-orang seperti mereka atau mungkin tidak pernah terpikir menggantikan posisi mereka dalam hati. Persahabatan busuk yang bisa membuat aku senyum-senyum sendiri. Mendengarkan lagu yang sering kami dengar dulu, membiarkan diri larut dalam memori masa silam. Sambil berharap bahwa suatu hari nanti ada waktu untuk kami berkumpul kembali, sekalipun jadi orang yang berbeda, itu tidak masalah, aku sangat merindukan mereka.

Aku, Hardi Multhazam, tidak akan menyuruh kalian untuk menjaga sahabat kalian agar tidak pergi. Sekuat apapun kita mencengkram, kita tahu bahwa sang waktu jauh lebih kuat untuk melepaskan cengkraman kita. Jadi, cukup nikmati hal apa saja selagi masih bisa bersama sahabat.

Sebuah harga yang sangat mahal untuk menjadi lebih kuat, melangkah sendiri tanpa ada ada yang sanggup mengerti. Kepada Hadi dan Herdi, di mana pun kalian, bertarunglah dengan angkuhnya dunia, seperti aku yang bertarung bersama jiwa kalian yang membantuku untuk menang. Jika tiba saatnya nanti kita bersatu, mari kita pamerkan apa yang kita punya, harta, perempuan dan anak-anak kita, aku yakin yang kalian miliki lebih dari apa yang aku miliki.

“Sahabat adalah orang yang rela terlihat gila bersamamu” –Hardi Multhazam, 25 tahun, Petinju.