Tahukah kalian yang namanya sebuah keputusan, itu adalah beban. Bukan dari keberatan, namun ini adalah pilihan. Pilihan yang harus kalian ambil semasa hidup kalian sendiri. Hampir semua orang merasakan yang namanya terhimpitd ari sebuah masalah dan harus mengambil satu keputusan yang pasti. Seakan-akan ini antara hidup dan mati. Binasa atau terbiasa?

Sebuah keputusan yang aku ambil sangat membuat tegang hati dan perasaanku. Aku tahu ini adalah kesalahan, namun disetiap kesalahan pasti ada sebab yang harus kita pertaruhkan sebelumnya. Dadaku sesak seakan sulit bernafas sebelum dan sesudah mengambil sebuah keputusan itu, entah ini keputusan apa? atau bagaimana? Lelah aku tahu, jenuh aku tahu, bahkan sekujur tubuh memerlukan energi yang ekstra untuk mempertaruhkan waktu, uang, serta tenagaku yang harus diperjuangkan. Aku yakini setiap keputusan harus ada resikonya, setiap keputusan harus ada yang kita tanggung akibat dan manfaat.

Tuhan memberikan jalan terbaik dari pihak satu dan jalan terbaik dari pihak dua, entah pekerjaan ataupun pasangan. Sulit bernafas seakan tercekik, kenapa? Kenapa dalam diriku ini terjadi setiap ada masalah hatiku seakan terjepit benda tajam. Entah ini kesalahan fatal atau kesungguhan dalam keyakinan? Aku bekerja seakan separuh waktu bukan membuang waktu, membuang uang, bahkan energi. Jauhi itu jika ada, hindari itu jika mampu kita hindari. Aku mengerti mencari sebuah pekerjaan adalah hal yang sulit, namun menolak pekerjaan yang sulit dapat aku taruhkan sedikit saja waktuku untuk fokus dan mengambil keputusan bahwa aku menolak jabatan itu. Aku tak ingin membuang waktuku untuk hal-hal yang tidak aku inginkan. Aku tahu ini kesalahan besar, namun aku yakin ini adalah pilihan terbaik untukku dan keluarga. Aku tak pernah menopang hidupku dengan keluargaku, justru aku membantu mereka untuk mencari jati diri yang sesungguhnya untuk aku lewati dengan mudah lalu aku tegakkan penuh dengan keyakinan dan kesungguhan hidup serta mata pencaharian.

Berat rasa mulut ini menolak, hati sakit, air mata mengalir seindah mungkin. Padahal ini adalah impian, namun kenapa setiap keinginan selalu tertuju pada keegoisan, keserakahan, tanpa melihat kebutuhan, kemampuan, kenikmatan, bahkan ia akan mempertaruhkan segalanya. Hindari itu, hindari seluruhnya, karena ini dunia wanita. Dan sebaik-baik pekerjaan wanita adalah ibu rumah tangga yang baik, istri yang sholehah, bukan mencari jabatan yang begitu tinggi namun mengabaikan tanggung jawab dikemudian harinya untuk keluarga kecilnya.

Aku tahu ini adalah kelelahan, tak perduli orang lain berfikir apa dan dengan situasi apa, aku mencari duniaku sendiri, mendesah relung hati yang kosong lalu mendiskusikan pada dunia, pada Sang Maha Pencipta langit dan bumi yang selalu singgasana dihati sanubari manusia. Jauhi ketidakadilan ini, jauhi ketidakarifan ini, jauhi terus, sampai kita tahu bahwasanya ini adalah kesesatan dunia, ini adalah hasutan dunia, jangan sampai dunia menawarkan jabatan dan kenikmatan yang hanya dinikmati walau sesaat saja. Ingatlah keabadian yang terus menjadi buah dalam fikiran, akhirat, ibadah, puasa, dan terus beramal sholeh. Cinta akan dunia terus mengiringi kita, fikiran kita, jejak langkah kita, denyut nadi kita bahkan sejak darah masih mengalir, ia akan terus mengintai melalui fikiran-fikiran akan keserakahan dunia.

Advertisement

Tarik nafas perlahan, menandakan aku sudah terbiasa seperti ini. Bukan ragu, dan bukan juga kelewatan, aku tak ingin jabatan itu, aku hanya menginginkan kesuksesan dalam hal apapun, berkarya, bisnis, itulah impianku. Bekerja hanya membuang waktu, 18 jam, ataupun 12 jam. Aku masih dipertaruhkan untuk tetap teguh pada keluargaku. Seakan keluargaku menentang, mungkin bukan ketidaksetujuan, namun kurangnya efektif dalam bekerja setiap hari dalam 9 jam bahkan 11 jam perhari. Mulai terbitnya fajar, hingga terbenamnya matahari.

Doa dan doa, itu adalah kuncinya, biarkan hari ini kita menyesal lebih dahulu dari pada menyesal dikemudian harinya. Kelak tak akan ada yang menolong sebelum kita menyadari apa yang kita perbuat hari ini, lelah hati ini memang terjadi. Namun aku tak berhenti sampai disini, ini tergantung pada situasi yang aku anggap menyempitkan namun aku fikirkan dihari yang kemudian. Menarik nafas lalu buang perlahan seakan aku tak memiliki beban hari ini, rileks dan terus aku rilekskan hatiku untuk meneguhkan pada nafas yang aku buat sendiri lalu hembuskan dengan perlahan. Ini bukan masalah, ini masih diujung kelingking ketegangan dalam hidup.

Jangan lakukan lagi kesalahan ini, bukan keplinplanan, keraguan atau kemunafikan, ini masalah kenyamanan dan dukungan keluarga yang terus aku perjuangkan dalam sebuah hidup yang aku jalani, lalu aku nikmati apapun itu resikonya, aku yakin hari esok akan lebih baik dari hari ini, aku yakin semua akan indah pada waktu yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Berjanjilah pada diri sendiri bahwa kita jauh lebih baik dari mereka, apapun pekerjaan itu, yang penting halal dan bermanfaat untuk orang lain, jangan menjenuhkan hati karena keputusan, namun carilah mimpi-mimpi kita yang telah banyak kita buang waktunya untuk menunda. Jauh dalam lubuk hati yang paling dalam, ini adalah keputusan terakhir, tak ada lagi kata untuk mencari lowongan pada perusahaan itu, aku tahu itu menegangkan, kursi panas, dan ilustrasi yang bodoh ataupun mimpi buruk yang tidak aku bayangkan, bukan hanya sekedar keren menjadi anak kantoran, yang bergaya sana-sini seakan ingin dihargai oleh semua orang, ini masalah kenyamanan kerja, kenyamanan seorang pemimpin, bahkan mengingat sesosok wanita yang mudah berbuat dosa hanya sekedar mengabaikan pekerjaan wajibnya sebagai ibu rumah tangga.

Ambillah keputusan yang paling bermanfaat untuk dikemudian hari, jangan terburu-buru, dan jangan merasa bahwa hanya detik ini kesempatan, kita harus berani ambil resiko, berani ambil keputusan hidup diantara dua pilihan, jika hanya satu pilihan, itu bukanlah keputusan, tapi kesempatan yang tak akan dapat kita pilih. Maka berdoalah terus, sampai kita menjadi pribadi yang mulia dan singgasana di akhirat kelak sebagai wanita penghuni syurga.