Sebab rindu datang tanpa bersalam dan kenangan sudah terbungkus ingatan, maka baik kamu atau aku tak perlu salah faham sebab cerita masa lalu juga bagian dari kehidupan dan kita tak perlu bersikap kekanak-kanakan mengetahui rindu yang sesekali kembali.

Waktu itu kamu, menjadi satu-satunya orang yang sangat peduli, terhadapku apalagi. Mengingatkan untuk tak lupa makan dan jangan tidur terlalu malam sudah tak bisa dihitung berapa kali, banyak sekali.

Waktu itu hujan adalah ketenangan, setiap bulir yang turun adalah satu kalimat do’a dari langit untuk kita, maka ketika musim hujan do’a begitu melimpah, tapi takdir mematahkannya. Aku tak menyesali perpisahan, ditinggalkanmu aku belajar menjadi pribadi yang kuat melepaskan.

Waktu itu kita adalah pasangan manis, yang kerap harmonis meski satu dua orang lain menyinyiri kita.

Waktu itu kamu, hobby sekali tak mengabari terlebih jika sepatu bola sudah terpasang dikaki, tak apa ! kamu punya kehidupanmu yang tidak melulu aku. Akupun demikian, jika tumpukan novel belum kulahap aku lupa denganmu yang tengah menungguku dengan harap.

Advertisement

Waktu itu kamu, orang yang keras pada pendirianmu, yang kamu mau yang kamu inginkan selagi itu membuatmu bahagia aku tak pernah melarang, termasuk mencintai orang selain aku maka biarkan aku memilih melepaskan karena aku tak pernah ingin diduakan.

Saat ini ketika semburat merah sudah dilangit, senja sudah masuk pada masing-masing kita, biarkan aku merindukanmu, tidak lebih. Tidak dipungkiri kebenarannya jika memang dulu kamu pernah menjadi seseorang yang kucintai setulus hati, tanggal yang berbeda tahun yang menua tidak akan pernah menjadikan semua sama, termasuk tentang aku, tentang kamu, semua sudah berbeda. Merindukan adalah mengenang sejengkal kehidupan yang pernah ada.

Tentang hujan yang adalah ketenangan, bulirnya masih tetap doa dari langit untuk kehidupan yang lebih baik.