Sebagai sisi yang di tinggalkan, aku harus berusaha menata hati yang remuk redam. Hidup yang seakan tak seimbang. Perdebatan antara pikiran dan hati lebih sering membuatku sakit kepala. Membuat aku meringis sakit ketika mengingat semuanya. Menyesapi rasa pahit lebih banyak. Tapi akupun tahu, kamu bukan orang yang meninggalkan tanpa merasa sakit.

Hai kamu, apakah kamu ingat? Dulu kamu datang membantuku berdiri, tersenyum pada dunia. Kamu mengikis tentang dia di masa laluku. Saat aku sudah tertinggal jauh oleh dia. Kamu mengukir tentangmu dihidupku. Ah sudahlah, bagian administrasi otakku sepertinya bekerja dengan sangat baik, merekam dan menyimpan semuanya seperti laporan. Dan sekarang aku sebagai pemilik raga membacanya. Sekarang? Aku yang tertinggal jauh. Tertinggal oleh kamu. Kamu pergi

Asal kamu tahu saja, perlahan hati ini seperti mati rasa. Seperti tak bisa disentuh oleh rasa rasa, terlebih itu cinta. Kalau Tuhan membisikan sesuatu kepadamu, tenang saja. Itu bukanlah kebetulan, itu bukanlah angin lalu seperti yang kamu pikirkan. Itu adalah aku. Itu adalah bait-bait senandung doaku yang tak pernah absen mengucapkan namamu, mengucapkan tentang kamu disetiap alunan doa.

Iya, kamulah yang telah memilih pergi. Tapi entahlah, aku selalu berusaha dalam doa. Saat ini, usahaku hanyalah dengan doa. Menghapus jarak dengan Tuhan. Mengalirkan semua arus kerinduanku, menuju ke hulunya, kamu. Memang, kemarin kamu sudah mulai menjauh ribuan langkah. Tapi dengan Tuhan, aku yakin kamu akan menemukan putaran jalan menuju kerumahmu, aku.

Bukankah begitu? Bukankah kamu juga tahu kalau ada Zat yang bisa menggerakan semua hati. Jadi biarkan aku berusaha dengan caraku. Menghalau rindu dalam sendu. Mungkin Tuhan telah meramu rasa ini dengan tepat. Seperti yogurt yang biasa aku makan denganmu. Dalam sebuah cerita tak selalu manis bukan?

Advertisement

Jadi sayangku, apa kamu merasa kesepian sekarang? Seperti aku?

Sayang, kamu pernah setega itu

Sekarang aku memang sedang tenggelam, cahayaku memang sedang redup. Tapi ketahuilah, aku hanya sedang memantaskan diri masa ini. Dan akan ku katakan padamu, aku tak membutuhkan seseorang lagi untuk membantuku kembali berpijar. Seperti yang kamu lakukan dulu. Biarkan saja aku tetap redup. Biarkan aku membuat cahayaku sendiri seperti kunang-kunang. Mereka cantik bukan?

Sekarang kamu sudah tahu, aku bisa selemah ini tanpamu. Jadi biarkan dunia menempaku dengan baik. Jadi biarkan getir ini yang menemani hati. Nanti, aku akan bisa bahagia bersama semesta. Tak akan semenyakitkan ini semuanya. Dan kamu tak perlu sejauh itu meremehkanku. Aku akan terbiasa dengan mengakrabi sepi. Aku tak akan tertarik oleh gravitasimu. Jadi kumohon, kembalilah saat kau yakin tak akan pergi lagi.

Dan ketika itu, akan kujanjikan versi terbaik dalam diriku untukmu