Hai! Kamu apa kabar?

Itu adalah satu dari ratusan daftar pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu. Ini sudah tiga setengah tahun sejak kamu memilih untuk pergi, dan aku masih sama. Aku tidak pernah bisa melupakanmu sampai saat ini. Terserah kamu percaya atau tidak, tapi itu nyata.

Aku masih menunggumu. Menikmati setiap hitungan hari yang sepi tanpa jejak yang bermakna darimu.

Mungkin aku terlalu percaya diri sampai membuatku lupa tentang siapa aku bagimu. Aku terlalu yakin bahwa kamu akan bersedia melangkah mundur dan meraihku dalam pelukanmu suatu hari nanti. Padahal aku hanya itik buruk rupa yang berharap mendapatkan sepotong hati dari seorang pangeran tampan sepertimu. Selalu berkhayal ceritaku akan sama dengan film-film yang pernah ku tonton.

Maafkan aku

Advertisement

Sampai hari ini aku belum bisa merelakan semua yang pernah berlaku di antara kita. Caramu melemparkan senyuman padaku. Kehangatan jemarimu saat berjabatan dengan jemariku. Romantisnya pandanganmu setiap kali beradu dengan mataku. Aku tidak berhasil melumpuhkan kenangan itu.

Aku merindukanmu. Adakah satu kemungkinan kamu juga merindukanku? Seharusnya aku bahagia saat aku merindukanmu, karena aku akhirnya tau rindu itu seperti apa. Tapi aku justru sedih. Aku tidak cukup tangguh menyembunyikan perasaanku. Orang bilang seorang sahabat akan bahagia saat melihat sahabatnya bahagia dengan pilihannya sendiri. Omong kosong, menurutku. Mana mungkin aku akan bahagia sementara hatiku menangis melihatmu yang justru bahagia dengan orang lain, dan bukan bersamaku ? setegar apapun hati seorang perempuan mustahil jika dia bisa bahagia melihat orang yang dicintainya justru memilih bahagia bersama orang lain. Seandainya ada, hati macam apa itu?