Aku hanya ingin menyimpan rasa rindu ini tanpa sepengetahuanmu. Karena aku tau kerinduan ini tidak mutlak untukmu. Kamu yang selama ini hanya rekan tukar pikiran dan selebihnya hanya keluarga kecil kedua dengan ketidaksengajaan mengantarkan pada kenyamanan hati yang secara umum tidak dirasakan oleh siapapun.

Kedewasaan dan kekritisan berpikirmu membuat kerinduan ini semakin menggeram untuk kuhaturkan kepadamu, dengan pertemuan-pertemuan yang begitu singkat tak membuatku jera untuk tidak merindumu. Merindukan setiap moment pertemuan kita di sela-sela jam perkuliahan yang memang sangat jelas kita tidak bisa pernah bersama.

Waktu itu, ketika aku melihat punggungmu yang semakin menjauh berjalan bersama rekanmu dengan canda tawa yang kau selipkan di dalamnya, mengingatkanku akan momen yang pernah kita lewati. Tutur kata, khas mimik wajahmu selalu tergambar jelas bilamana kerinduan itu tiba-tiba singgah di hati.

Tetapi, apalah arti sebuah kerinduan bila tak tersampaikan kepadamu? Aku tak ingin kerinduan ini menjadi penghalang pencarian jati diri kita. Akupun tak ingin ada kasih yang menjadikan racun bagi pertemuan kita. Aku hanya ingin kerinduan ini selalu tersimpan seperti kerinduan kita kepada surgaNya.

Dan kerinduan ini masih tersimpan.