Langit hari ini menegurku. Warnanya yang kemerah-merahan mengingatkanku bahwa tak ada yang ingin melihat senja menghilang begitu saja. Ia ingin menebarkan pilu. Bahkan rasa kehilangan. Karena merahnya menantangmu untuk melihat masa lalu sebelum berubah menjadi ingatan yang usang. Kali ini senja mengingatkanku bahwa tidak ada individu yang tidak lalai dengan siapa dirinya. Aku menyadari hal tersebut. Kelalaianku menganalisa diri. Itu kesalahanku.

Ada setitik penyesalan ketika harus berkaca diri di cermin. Siapa aku yang harus menggila karenamu. Siapa aku yang harus menggodamu di tengah kesibukanku dan mengganggu kesibukanmu. Takkah kau juga berpikir demikian? Aku mulai lemah dengan menangkal diriku sendiri untuk liar bersama imajinasiku. Aku terlalu cepat menyerap energi fantasi dan bunga-bunga imitasi yang berubah menjadi halusinasi.

Aku seharusnya berkutat dengan buku dan tulisan. Aku harusnya berkutat bersama para kutu buku lain dan tak membuka diri mengenalmu. Bersosialisasi denganmu dan mencoba menarikmu dengan rayuan itu. Bukan, seharusnya kita tak memulai sebuah percakapan bahkan sebuah tanda tanya kapan. Seharusnya aku tahu tak ada yang lebih baik dari buku.

Kamu kukenal karena kata. Bukan mata. Kata yang berceracau terlalu banyak dan kata yang seakan jarak tak lagi menjadi penghalang. Kata yang tak lagi menghilang di tiap menitnya. Dering gawai yang selalu kutunggu dan tanda-tanda yang tak lupa menggelitik.

Kamu kukenal karena layar yang indah mengeluarkan sinar penuh warna. Menyilaukan dan membuat matamu mengalami gangguan. Karena dari layar tersebut, hidung, mata dan mulutmu yang sering mengeluarkan kata manis dapat kutahu bagaimana bentuknya.

Advertisement

Bagaimana kalau akhirnya penantian itu bagaikan menjaring angin? Sia-sia. Tidak apa. Aku sudah mempersiapkannya setelah aku mengenalmu. Aku selalu mempersiapkan hati ini tiap senja datang membawa pilu. Aku selalu siap ketika harus berbagi senyum dengan topeng asliku. Aku juga selalu siap mana kala harus bersembunyi dibalik bantal dan melihat dunia mimpi dengan bulir-bulir airnya. Karena segalanya telah kupersiapkan. Kata berhenti pun sudah harus kugalakkan. Karena dimulai dari sekarang, aku sudah harus berhenti, karena kamu sudah menghilang dan takkan kembali.